Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Disana, di dapur. Bunyi panjang dari ketel yang berisi air mendidih mencuri perhatian Leana. Dia tak langsung kesana. Robin melepas tawa jahatnya, berjongkok masih dengan menjerat rambut panjang Safira di salah satu tangannya, dia menyeringai menempelkan pisau apel di leher berkeringat milik Safira lalu memaksanya mendongak ke langit-langit.
"Gue udah ngga tahan pengen gorok leher lo, tapi, tapi, tapi..." Robin semakin mengeratkan cengkeramannya membuat Safira hanya bisa megap-megap menahan sakit. Dia berbisik di telinga Safira. "Gue masih harus biarin lo di urus sama adek gue. Leana!" Ucapnya penuh kekejaman.
Setelah itu dia mendorong Safira dan bangkit, berjalan santai sambil membetulkan poninya yang menutupi pandangannya. Pisau apel tadi dia lempar ke lantai dekat dengan kaki Safira.
"Oke, Mami udah nunggu di lantai 5. Kita tunggu lo di sana, Lea." Ucapnya pada Leana yang masih berdiri mematung di tengah-tengah ruangan penyiksaan ini. Apa dia berbeda dari saudari kejamnya ini? Iya kah? Tapi dapat Safira lihat dari sorot mata Leana yang tidak biasa, dia memiliki dendam untuk siapapun.
"Lea? Denger ngga?" Robin memastikan.
Pelan dan lirih tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun. "Gue nyusul."
Robin menggendik bahu. "Oke."
Dia masih berdiri di sana memandang Safira dan Shaka yang masing-masing mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya. "Urus tuh dua anjing." Pesannya sebelum pergi.
Kini tinggal mereka bertiga.
Safira terbatuk-batuk, ingin memanggil sahabatnya. Belum sempat dia bicara, Leana sudah duluan mendekat sambil membawa ketel air panas di salah satu tangannya.
"Le-Lea.. tolo-"
"Diam." Sela Leana.
Ada yang tidak beres dengan Leana. Safira melihat sekeliling, mencari keberadaan sang Abang. Sial. Shaka terkapar penuh darah. Dia tertembak sebelumnya dan darahnya belum berhenti mengucur. Dia kehilangan banyak darah.
"Lea... Lo di sini buat gue kan?... Gue bener bener ngga ngerti—"
Safira berteriak kian kencang saat dia rasa sesuatu yang panas menerpa kulit perutnya. Semua yang ada di bawah sana hampir mengelupas. Perihh!
Urat urat lehernya tercetak jelas, tenggorokannya makin tercekat. Kapan penyiksaan ini terhenti? Rasanya udara telalu cepat keluar masuk rongga dada, membuat gadis itu sulit bernafas seperti biasa.
"Lea! Aa!!" Teriakan kesengsaraan.
Kepala Safira terangkat untuk melihat kondisi perutnya, sial, sial, sial. Kulit mulusnya melepuh seperti daging rebus, bahkan masih mendidih ketika tetesan air panas yang Leana tumpahkan masih bertahan di atas perut.