Leana meninggalkan lorong tersebut sambil terus berbicara ditelepon dengan papahnya. Setelah dia keluar dari sana dia menemukan kedua orangtuanya sudah menunggunya di teras rumah tersebut.
Keduanya tampak pucat,pias, dan terburu-buru. Leana mengernyitkan dahi ketika melihat ekspresi Brian dan Jessi.
"Mah, pah, udah kelar meeting sama partner bisnisnya?" Langkah kaki Leana kian mendekat kearah mereka.
Brian merangkul pundak Leana kemudian tersenyum getir. "Kita pergi dari sini. Urusan bisnis sudah selesai. Hari ini juga kita kembali ke malang"
"Eh, kok cepet banget? Pah! Lea belum sempet jalan-jalan dan—"
"Kita tunda dulu jalan-jalannya. Jangan membantah!"
- - - - - -
Brian memasuki sebuah ruangan gelap yang pernah dia masukin sebelum-sebelumnya. Masih sama seperti waktu itu, disana sudah ada seorang pemuda yang menunggu dengan wajah datar dan dinginnya.
"Delfi"
Pemuda itu menatap pria yang sudah mengadopsinya selama ini. "Kenapa,"
"Sekarang waktunya kamu beraksi. Habisi semua keluarga Andrew dan Mariam. Jangan sampai ada yang tersisa. Dan ingat! Main licik, jangan sampai ketahuan. Saya ngga minta kamu untuk langsung membunuh mereka secara serentak. Pelan dan pasti." Kata Brian.
"Kalau boleh tau, orang-orang yang akan saya bunuh ini ada masalah apa sama om?" Tanya Delfi.
Dia sudah mempelajari informasi keluarga Andrew yang Brian berikan waktu lalu, tapi, cuma satu orang lagi yang informasi nya tidak lengkap.
"Andrew sialan itu bersama istrinya! Mereka berdua menolak menjual tanahnya kepada saya, Delfi. Padahal saya sangat menginginkan tanah itu untuk keperluan bisnis saya. Kami sudah melakukan perjanjian yang menguntungkan kedua belah pihak. Tapi, Andrew melanggarnya dan membawa sejumlah uang yang tidak kecil!
Saya tidak bisa membiarkan ini terjadi. Kemarin, saya ke labuan bajo untuk bertemu dengan Andrew di kediamannya. Saya sudah berhasil meracuni Andrew dengan kari ayam yang dicampur sianida. Saya minta, kamu lakukan hal yang sama pada istri dan anak-anaknya biar mati semua sekalian!"
Delfi manggut-manggut kepala. "Kejadiannya hampir sama seperti apa yang saya alami dulu." Lirih Delfi.
"Iya. Dulu kedua orang tuamu mati juga karena hal seperti ini,kan? Sekarang waktunya balas dendam! Nggak peduli siapa orangnya yang penting semua orang juga harus merasakan apa yang kamu rasakan dulu.." ucap Brian berusaha menghasut Delfi lagi. Padahal dulu, kedua orang tua Delfi meninggal itu bukan karena perseteruan antara rekan bisnis, tapi, gara gara Brian lah Delfi harus jadi yatim piatu di usia belia. Brian selalu menutup-nutupi kejadian sebenarnya dari Delfi sehingga dia terus memperalat anak itu dan menghipnotis otaknya untuk menjadi pelaku kriminal.
Brian juga menggunakan Delfi sebagai tameng untuknya. Ketika kriminalitas yang di lakukan nya terungkap maka yang ditangkap adalah Delfi bukan dirinya meskipun brian lah otak di balik semua kejahatan yang Delfi perbuat.
Selama ini Delfi hanya menganggap kalau Brian adalah pria yang baik karena sudah mau mengadopsinya ketika kedua orangtuanya sudah tiada.
Delfi sangat bersyukur tidak ikut mati seperti orang tuanya. Dia masih bisa hidup sampai sekarang meskipun tidak di dunia luar. Dia selalu berada di dalam ruangan gelap ini. Tidak sekolah dan tidak punya teman.
