Hidden Agenda

140 6 0
                                        


Semua orang di ruangan itu menatap Safira. Gadis itu berdiri di tengah-tengah, tubuhnya tegak namun gemetar, seolah benar-benar menyerahkan diri. Suasana hening, hanya terdengar napas yang tertahan dan detak jantung yang menggema di kepala masing-masing. Perlahan, Safira membalikkan tubuhnya, membelakangi teman-temannya. Tatapannya kini tertuju pada Delfi, sosok yang berdiri tanpa ekspresi, dingin seperti bayangan yang tak berjiwa. Dalam sorot matanya, Safira tahu... di balik ketenangan itu tersembunyi sesuatu yang jauh lebih gelap, sesuatu yang tak seorang pun benar-benar mengerti.

"Kalau emang lo melakukan semua kebejatan ini karena nyari gue, gue serahin diri gue sekarang tanpa perlawanan," usai mengatakan itu safira memberi isyarat tangan kepada teman-temannya di belakang agar mereka tetap tenang. 

"Tapi dengan satu syarat, lepasin Leana dan biarin mereka semua pergi dengan selamat." Kata Safira lagi.

Mendengar itu, Delfi justru meledak tertawa keras, suaranya bergema sendirian di ruangan yang penuh ketegangan. Tawa itu terdengar dingin, seolah apa yang baru saja ia dengar hanyalah lelucon yang menghibur. Safira tetap berdiri tegak, menyerahkan dirinya tanpa ragu, sementara Jovan dan Kevin menahan napas, menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Delfi. Namun sorot mata mereka jelas ada ketidaksetujuan yang membara. Mereka tidak bisa menerima keputusan Safira, meski tahu perempuan itu sudah memilih jalan pengorbanan.

"Duhh, lo kepikiran jadi hero kayak di drama-drama itu, ya?" ucap Delfi setelah puas tertawa. "Ngga ada cerita gue bakal biarin siapapun selamat dari tempat ini, lo mati, yang lain juga nyusul. Udahlah, jangan bikin gue terharu sama usaha itu."

"Lo  ngincer gue, kan! lo bilang gue target utama lo, stop sakitin orang lain dan dapat apa yang lo mau!!" air mata Safira tumpah, bibirnya bergetar ketika bicara, Kevin langsung menarik tubuhnya menjauh dari Delfi, takut jika terjadi apa-apa pada...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Lo  ngincer gue, kan! lo bilang gue target utama lo, stop sakitin orang lain dan dapat apa yang lo mau!!" air mata Safira tumpah, bibirnya bergetar ketika bicara, Kevin langsung menarik tubuhnya menjauh dari Delfi, takut jika terjadi apa-apa pada gadis itu.

"Gue emang dibayar buat bunuh lo dan abang lo, tapi kalau ada saksi, mereka juga harus mati, termasuk orang yang udah bayar gue buat tugas ini." ungkap Delfi, raut wajahnya terlihat serius.

Mendengar hal itu, Safira dan Jovan tampak bingung, sementara Kevin semakin gelisah. Leana sendiri sudah tak mampu berpikir, pikirannya kosong dan tubuhnya lemah.  

Delfi menghela nafas kasar, dia memandang Safira lurus dan lekat. "Kalian ngga penasaran kenapa gue muncul sendiri sementara kalian tahu kalau di gedung ini ada penjahat lain?"

Melihat raut kebingungan di wajah menyedihkan mereka, Delfi kembali berbicara "Ya,ya,ya... dia masih ada kok, ngga sembunyi, emang ngga kelihatan aja sama kalian karena dia lagi ngga pakai kostumnya," Sejurus kemudian Delfi melirik Kevin yang masih memeluk rendah Safira.

Perlahan, potongan-potongan kebenaran mulai terkuak. Safira dan Jovan saling diam mencerna maksud perkataan Delfi, rasa curiga yang selama ini mereka abaikan kini semakin jelas. Setiap kata, setiap gerakan Kevin, mulai terasa janggal seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan. Hingga akhirnya, kilasan ingatan itu datang: sosok berhoodie yang pernah menyerang mereka, tatapan tajam yang menusuk dalam gelap. Nafas Safira tercekat, Jovan mengepalkan tangan, dan Kevin hanya berdiri kaku, wajahnya pucat. Tidak ada lagi keraguan, dialah sosok berhoodie itu. Kebohongan yang selama ini ia bangun runtuh seketika, meninggalkan Safira dan Jovan dalam campuran amarah, kaget, dan pengkhianatan yang tak termaafkan.

KriminalCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang