....
Nit...nit...nit... ...
"Happy birthday Kak Shaka!!!!"
Shaka membelalakkan matanya ketika mendengar suara orang berteriak. Bukan hanya satu, tiga orang gadis muda ada di hadapannya, memandangnya dengan penuh bahagia. Sudah menanti saatnya dia bangun dari tidurnya. Ini agak belebihan, sih. Gadis-gadis itu memegang bunga di masing-masing tangan mereka, bunga yang sama cantiknya dengan wajah mereka. Sempat beberapa saat Shaka terdiam memikirkan kenapa para gadis ini ada di kamar inap-Nya. Yah. Mereka datang untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Meski dia tahu itu dia tetap menanyakannya kepada mereka. "Ada apa ini?"
Shaka menatap Kael yang duduk di sofa di sudut ruangan. Lelaki itu berbicara dengan nada santai sambil membelakanginya, "Mereka tahu dari Safira hari ini lo ulang tahun, makanya pagi pagi mereka udah nyiapin surprise buat lo." Kata Kael, mulutnya masih sibuk mengunyah apel yang para gadis itu bawa untuk Shaka. Dia bilang begitu karena dia tahu saat ini Shaka sedang melihat ke arahnya.
"Iya Kak! ada kado dari kita-kita buat Kak Shaka! Ngomong-ngomong Kak Shaka gimana kabarnya hari ini? Udah mendingan?" Kevay menyerobot dengan semangat.
"Kabar aku baik. Kalian sendiri kabarnya gimana?" Tanya Shaka balik. Di sana juga ada Briella yang paling sibuk membantunya akhir-akhir ini, kalau bukan karena bantuannya mungkin Shaka maupun Safira akan sangat-sangat kesulitan selama di rumah sakit. Shaka disodori banyak bunga, tapi buket-buket bunga ini malah mengingatkannya pada kematian yang mungkin harusnya terjadi waktu itu.
"Syukurlah!" Jawab Shannon. "Berarti sekarang umur Kak Shaka berapa?"
Gadis itu duduk di pinggiran ranjang yang sama, di tangannya ada apel dan pisau lalu dia mengupasnya dengan telaten untuk diberikan pada Shaka. Shaka dibantu Briella duduk di ranjangnya dengan bantal menjadi sandarannya. "Ti-tiga puluh??" Shaka agak tidak yakin dengan hitungannya sendiri, yang pasti usianya harusnya sudah menginjak kepala tiga.
Memang harusnya begitu.
"Woaaah, 30? Kok, ngga kelihatan tua sama sekali!" Ucap Shannon dengan alis matanya sedikit terangkat. Shaka sudah menduga mereka akan meragukannya.
"Memangnya usia 30 itu mukanya setua apa?" Shaka menganggap perkataan Shannon tadi sebagai pujian untuknya. Kalau saja dia tidak selamat dalam insiden penculikan itu, dia mungkin tidak bisa merayakan ulang tahunnya yang ke-30 ini. Kejadian itu betull-betul meninggalkan trauma dalam dirinya, mengingatnya saja sudah bikin bulu kuduk Shaka berdiri semua.
"Ngga penting soal usia, itu kan cuma angka, yang penting masih sehat dan kuat. Kalau setampan ini di usia 80 tahun orang-orang juga bakal mikirnya masih belasan!" Tambah Kevay. Ucapannya tadi berhasil membuat Shaka tertawa. Ada-ada saja mereka.
"Mau apel?"
"Boleh."
Tok,tok,tok.
Briella pergi membukakan pintu, dia pikir itu suster atau dokter jadi tidak perlu mengetuk pintu segala. Biasanya mereka langsung masuk begitu saja. Dan ternyata ada beberapa orang di luar pintu, mereka ada 4 orang. 3 laki laki dan 1 perempuan, membawa masing masing benda dalam genggaman.
"Hai, kamu kerabatnya Mas Shaka?" Tanya perempuan itu. Briella tersenyum kikuk dan mengangguk pelan. "Kalian siapanya?"
"Teman kantornya!" Jawab laki laki gondrong yang wajahnya tampan. "Ohh, masuk, masuk." Briella pun lekas menyuruh mereka masuk. Jadi mereka rekan sesama detektif ya.
"Mas Shaka!" Panggil perempuan berambut coklat yang bernama Tya. Dari keempatnya senyum perempuan itu yang paling tulus dan manis, dia juga yang duluan menghampiri ranjang Shaka dari pada yang lain yang lebih santai dan tenang ketika masuk.
