....
Nit...nit...nit... ...
"Happy birthday Kak Shaka!!!!"
Shaka kaget saat membuka mata dirinya di teriaki oleh beberapa gadis di kamar rawatnya. Oyoyoy...! Dia lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya. "Ehh-heheh, ada apaan nih?"
Kael duduk di sofa jauh dari ranjang sambil memakan apel yang di bawa gadis gadis itu. "Mereka tahu dari Safira hari ini ulang tahun lo, makanya dari pagi mereka udah nyiapin surprise buat lo." Ucapnya santai.
"Iya Kak, ada kado dari kita kita buat Kak Shaka! Ngomong-ngomong Kak Shaka gimana kabarnya hari ini?" Kevay menyerobot dengan semangat.
"Ehh, baik, baik. Kalian gimana kabarnya?" Tanya Shaka balik. Heheh, ini sungguh tidak terduga. Dirinya di sodori banyak bunga, tapi buket-buket bunga ini malah mengingatkannya pada kematian. "Apa ini pertanda." Gumamnya.
"Tentu saja baik!" Jawab Shannon. "Ohiya, umur Kak Shaka sekarang berapa?"
Shaka di bantu Briella duduk di ranjangnya dengan punggung bersandar pada bantal. "Ti-tiga puluh??" Dia sendiri pun bingung dengan umurnya.
Memangnya dia sudah setua itu?
"Woaaah, 30? Kok ngga kelihatan tua!" Ucap Shannon.
"Ahaha bisa aja." Shaka menganggap ini sebagai pujian untuknya. Kalau saja dia tidak selamat dalam insiden penculikan itu, dia mungkin tidak akan dirayakan ulang tahunnya yang ke-30 ini.
"Iya Kak, malah keliatan makin muda dan strong!" Tambah Kevay.
"Iyanih, kan bukan 60 tahun jadi masih kuat." Candanya.
Tok,tok,tok.
Briella pergi membukakan pintu, dia pikir itu suster atau dokter jadi tidak perlu mengetuk pintu segala. Biasanya mereka langsung masuk begitu saja. Dan ternyata ada beberapa orang di luar pintu, mereka ada 4 orang. 3 laki laki dan 1 perempuan, membawa masing masing benda dalam genggaman.
"Hai, kamu kerabatnya Mas Shaka?" Tanya perempuan itu. Briella tersenyum kikuk dan mengangguk pelan. "Kalian siapanya?"
"Teman kantornya!" Jawab laki laki gondrong yang wajahnya tampan. "Ohh, masuk, masuk." Briella pun lekas menyuruh mereka masuk. Jadi mereka rekan sesama detektif ya.
"Mas Shaka!" Panggil perempuan berambut coklat yang bernama Tya. Dari keempatnya senyum perempuan itu yang paling tulus dan manis, dia juga yang duluan menghampiri ranjang Shaka dari pada yang lain yang lebih santai dan tenang ketika masuk.
"Wah, Tya! Reno, Haikal juga." Sambut Shaka dengan girang.
"Lo ngga sebut nama gue tuh!" Seolah merajuk cowok gondrong yang tampan itu meng-komplain.
"Ck, Yosua!" Ucap Shaka kemudian rada malas.
"Yapp! Happy birthday Shak!" Imbuh cowok yang namanya Haikal. "Ini kado buat lo, gue spoiler isinya handuk baru!" Katanya jomplang. Membuat Shaka malu seketika.
"Eh? Kok handuk?" Tya bertanya-tanya.
"Itu karena handuk di rumah Shaka udah bau banget, bau bangkai. Dia kan ngga pernah nyuci saking sibuknya. Karena itu gue beliin handuk." Ungkap Haikal. Shaka tertawa malu. "Heheh, ya maap."
"Makasih, Kal." Kata Shaka lagi. "Yoshh" balas Haikal.
"Ngga pernah ngeliat kakak-kakak ini waktu Kak Shaka masuk rumah sakit." Komentar Shannon yang sedikit menohok untuk di dengar teman teman Shaka.
