Siuman

37 2 0
                                        

.....

Huh. Leana tiba di tempat dimana Kevin terkapar, kaget melihat laki laki itu terbaring di lantai sendirian. Mungkin anak buah Mami Rika yang sudah melumpuhkannya. Leana mendekatinya, berjongkok kemudian mengecek denyut nadi laki laki itu. Dia masih hidup, handphone leana berdering di saku celananya dan itu adalah telepon dari Robin.

Leana lekas menjawab panggilan telepon itu.

"Ada mobil yang nungguin kita di belakang, cabut sekarang sebelum polisi datang. Gue udah bakar area dapur jadi pastikan lo benar benar cabut sebelum api semakin besar.."

Dahi leana berkerut tipis. "What? Robin!"

"Buru ngga! Gue udah infoin soal pelarian tiba tiba kita ini ke Mamrik!" Desak Robin di seberang telepon. Mereka masih ada di satu atap yang sama namun karena besar dan luasnya rumah ini mereka tidak bisa langsung bertemu.

Leana menuju balkon, mengintip ke bawah dan melihat kepulan asap putih muncul, baunya pun mulai tercium.

"Leana, kabur sekarang juga.!"

"Iya!" Leana memutus sambungan telepon sepihak. Dia kembali lagi pada Kevin, apa yang harus dia lakukan pada laki laki ini. Dia tidak ingin Kevin lenyap di lahap api.

"Pak, kok ngga bawa pasukan!?" Kael terheran-heran melihat satu buah mobil polisi terparkir di halaman rumah besar tersebut. Petugasnya pun santai santai saja di hadapan Kael.

"Kami bisa mengatasi ini," ucap salah satu dari mereka sambil memantik korek api di depan mulutnya. Kael habis dari rumah sakit dan langsung menuju mansion besar ini lagi untuk membersamai polisi menyergap para penculik, lagipula Kevin masih ada di dalam.

"Gimana cara ngatasinnya pak, lihat aja kan kondisi teman saya yang jadi korban babak belur gitu. Yang culik itu sindikat bukan individu pak! Mereka bahkan punya senjata api, kalau ngga bawa pasukan gimana cara ngepungnya?" Kael tidak habis pikir.

"Ada api! Ada api!" Teriak petugas polisi yang sudah berkeliling di halaman rumah besar itu sejak tibanya mereka. Petugas polisi yang lain, yang melihat kobaran api dari dalam mansion segera menghubungi Pemadam Kebakaran. Kael mulai panik melihat asap asap tebal menampakkan wujudnya yang suram.

"Gawat!" Kael menarik paksa lengan pak polisi yang baru selesai menghubungi Damkar. "Teman saya masih ada di dalam pak, buruan selamatin dia dulu!"

"Loh, kenapa ngga bilang dari tadi!?" Hardik pak polisi tersebut.

"Cepat pak, keburu apinya makin gede!"

Keempat anggota polisi yang tersisa mulai masuk ke dalam rumah untuk melakukan upaya pemadaman sebisanya serta melakukan pencarian terhadap teman Kael yang masih terjebak di dalam. Kael sendiri tidak tahu apakah Kevin masih ada di dalam atau sudah keluar lebih dulu. Dia tidak ada kabar.

****

"Ohok-ohok..!"

"Kev, Kev bangun! Rumah ini mulai terbakar, bangun!" Leana, wanita itu masih disana berusaha membangunkan Kevin yang mulai sadar karena menghirup asap.

"Safira!"

"Kita pergi dari sini, kev!" Ajak leana.

"Ah lepasin!" Kevin membentak, dia tidak bisa percaya lagi dengan leana. "Apa lagi yang mau Lo lakuin?"

"Kevin! Lo mau mati terbakar!?" Leana balik membentak. "Safira udah kabur! Entah hidup atau engga intinya dia udah ngga ada disini." Ucapnya lagi.

"Gila ya lo, Lea!" Maki Kevin lagi. "Lo berhutang penjelasan ke gue tentang apa maksud semua ini! Kenapa lo kembali lagi ke sini dan culik Safira, itu buat apa?"

KriminalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang