Siang ini Ivy di sibukkan dengan kegiatannya di kedai. Kini usia kandungannya sudah memasuki bulan ke 6, beruntungya di trimester kedua ini, ia tidak mengalami morning sickness lagi.
"Istirahat dulu mbak," ucap Lia sambil memberikan air mineral kepada Ivy
"Makasih ya Li. Oh iya, Rina belum datang ya ?"
"Belum mbak. Mungkin disana masih antri,"
"Iyaudah deh aku tunggu disana ya sekalian mau duduk, pegel kakinya. Nanti kalau Rina udah datang suruh langsung kesana aja,"
"Iya mbak,"
Ivy memilih untuk menunggu Rina di sofa panjang sambil meluruskan kakinya. Ivy meminta Rina untuk membelikan rujak buah yang ada di ujung jalan sana. Ntah mengapa tiba-tiba dirinya sangat ingin makan rujak buah. Ia terbayang-bayang akan segarnya mangga muda yang asem dan sambal rujak yang manis dan pedes. Pasti itu akan menjadi kombinasi yang pas.
Sudah 2 minggu ini, Ivy sibuk menghandle kedai sendirian. Karena Rian dan Anit tengah menyiapkan pernikahan mereka. Tentu saja hal itu di larang oleh Alan, suaminya itu takut jika dirinya akan kelelahan jika harus mengurus kedai sendirian. Alan meminta Rian dan Anit sebisa mungkin untuk sering datang ke kedai, meskipun bergantian. Tentu kedua calon pengantin itu setuju, mereka juga tidak tega jika harus membiarkan bumil mengurus kedai sendirian. Jika tidak ada keperluan yang mendesak, maka Rian dan Anit akan pergi ke kedai.
Setelah menghabisakan seporsi rujaknya, Ivy kembali menyibukkan dirinya di dapur
Tak terasa sudah pukul 4 sore, yang artinya sudah waktunya Ivy untuk pulang kerumah.
Sesampainya di rumah, Ivy langsung bergegas ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.
Ivy terkejut saat melihat suaminya tengah tertidur dikamar. Itu adalah hal yang sangat mengganjal, sebab tidak mungkin Alan pulang awal tanpa memberi kabar kepada Ivy. Melihat keanehan itu, Ivy langsung menyentuh kening suaminya, dan ternyata suaminya itu demam.
"Ya ampun mas kamu demam,"
Ivy langsung mengambilkan termometer dan meminta bibi untuk membawakan kompresan ke kamarnya.
"Mas Alan sampai rumah jam berapa bi ?"
"Tuan sampai setengah jam sebelum nyonya pulang,"
"Kenapa gak ada yang ngasih tau kalau mas Alan sakit,"
"Saya juga tidak tahu nyonya kalau tuan sakit. Tuan hanya bilang supaya kita tidak mengganggu sampai nyonya pulang," jelas bi Mimi
"Tolong bikinin bubur buat mas Alan ya bi. Trus anterin kesini,"
"Baik nyonya,"
Setelah mengompres suaminya, Ivy berniat untuk membersihkan tubuhnya terlebih dulu.
Sekitar 20 menit kemudian, Bi Mimi datang dengan membawa semangkuk bubur dan segelas air putih.
Ivy langsung membangunkan suaminya.
"Mas, bangun dulu yuk,"
Mendengar suara istrinya, Alan langsung membuka matanya
"Makan dulu terus minum obat. Demam kamu tinggi loh,"
"Dikit aja tapi ya," ucap Alan lirih
"Iya dikit aja. Yang penting perut kamu ada isinya,"
Dengan telaten Ivy menyuapi Alan dengan bubur yang sudah dibuatkan oleh bi Mimi.
"Kenapa kamu gak ngasih tau aku kalau sakit mas,"
"Aku tadi cuma pusing aja, gak bakal ngira kalau sakit,"
"Pasti sebelumnya kamu udah ngerasain badannya gak enak kan. Gak mungkin banget kalau tiba-tiba sakit trus badannya panas banget kayak gini. Kamu itu dokter, jelas kamu lebih tau ciri-ciri orang yang akan sakit. Harusnya kalau udah ngerasa badannya gak enak itu gak usah berangkat kerja," omel Ivy
KAMU SEDANG MEMBACA
INEFFABLE
RomansaIneffable, sesuatu yang sangat hebat dan luar biasa, sehingga sulit diungkapkan dengan kata-kata . . Alan, adalah seorang hot daddy berusia 35 tahun yang harus membesarkan putrinya seorang diri. Ia harus membagi waktu antara mengurus putri dan peke...
