25

398 33 0
                                        


═════════•°•⚠️•°•═════════

Jeno membuka matanya sedikit demi sedikit, samar-samar Jeno melihat objek yang ia yakini adalah seorang laki-laki. Jeno memicingkan matanya agar dapat melihat wajah laki-laki itu hingga beberapa detik ia bisa melihat wajahnya dengan jelas. Senyuman tersungging di bibirnya yang kering, "Mark."

Mark ikut tersenyum, ia menggenggam erat tangan Jeno seolah menyalurkan perasaan bahagianya saat ini. "Iya ini gue, Jen." Senyuman di wajah Mark tak luntur sedikitpun. Kali ini dia sangat bersyukur pada Tuhan karena telah memberikan Jeno kesempatan untuk hidup.

"Gimana caranya lo bisa bebas dari Hyunjin?" Mark mengelus kepala Jeno dengan lembut.

"Kita bahas ini setelah lo bener-bener sembuh oke?" Mark menatap Jeno dengan lembut, "dan juga ada orang yang mau ketemu sama lo."

Jeno mengangguk kecil, sebenarnya dia sangat penasaran, namun mendengar ucapan Mark tadi membuat Jeno harus bersabar terlebih dahulu.

.....

Dua Minggu kemudian, Jeno sudah diperbolehkan untuk pulang. Kondisinya setelah melewati koma berangsur-angsur pulih dan membaik dengan cepat.

Kini Jeno sudah berada di kamarnya bersama dengan Jaehyun yang sedang membantu nya meminum obat.

"Kamu harus cepet sembuh dan jangan jadi berandalan lagi." Ucap Jaehyun dan hanya diangguki saja oleh Jeno.

Jaehyun bukannya tak mau memberikan kebebasan untuk Jeno, namun Jaehyun benar-benar khawatir kepada putranya setelah kecelakaan itu. Jaehyun semakin protektif terhadap kedua anaknya.

"Dad." Jaehyun menatap seperti bertanya 'ada apa' pada Jeno.

"Makasih udah angkat Jeno buat jadi anak Daddy." Ucapan Jeno berhasil membuat Jaehyun terdiam.

Melihat keterdiaman Jaehyun, Jeno tersenyum sampai hingga matanya seperti ikut tersenyum.

"Jeno bangga bisa jadi anak Daddy. Daddy adalah ayah terbaik buat Jeno, tanpa Daddy mungkin Jeno gak bisa hidup seperti ini." Jeno menjeda kalimatnya. Mata sipitnya menatap Jaehyun dengan lekat. "Jeno boleh peluk Daddy?"

Tanpa menjawab pertanyaan Jeno, Jaehyun segera memeluk putranya dengan erat. Mungkin benar Jeno hanyalah anak yang ia angkat dari panti asuhan, namun Jeno tetaplah anaknya. Anak yang selalu ia sayangi dan kasihi tanpa mengharapkan balasan apapun. Baginya, Jeno seperti anaknya sendiri tanpa embel-embel 'anak angkat'.

"Daddy juga bangga bisa jadi ayah kamu, nak." Jaehyun mengelus surai coklat Jeno dengan lembut.

Tanpa mereka sadari, Mark tersenyum dibalik pintu yang sedikit terbuka. Senyuman itu entah berarti rasa bahagia atau sedih.

"Mungkin kita emang hanya ditakdirkan sebagai sepasang saudara tanpa ada ikatan lebih."

Mark berjalan perlahan meninggalkan pemandangan yang sangat mengharukan itu. Tanpa sadar air matanya menetes, dadanya terasa sedikit sesak. Entah kenapa Mark merasa takdir selalu mempermainkan dirinya.

Mark memasuki kamarnya kemudian menutup pintu tak lupa menguncinya. Ia langsung membaringkan tubuhnya di atas kasurnya, membiarkan rasa sakit di dadanya semakin bergejolak.

Loving You Hurts Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang