═════════•°•⚠️•°•═════════
"Udah selesai?" Mark langsung bertanya saat melihat Jeno keluar dan berjalan ke arahnya.
"Em, udah. Ayo kita pulang." Jeno mengusak rambut Mark sambil menampilkan senyumnya.
Mark menanggapi dengan mengangguk karena merasa salah tingkah, Mark sedikit menunduk untuk menyembunyikan rona merah diwajahnya. Dia merasa sangat senang dengan perlakuan yang diberikan Jeno, padahal dia saat ini sedang berusaha menghindar dari Jeno. Mark merasa dilema saat ini.
Jeno terkekeh kecil melihat reaksi malu-malu dari Mark, Jeno memalingkan wajahnya karena saat ini Mark terlihat sangat menggemaskan. Haruskah Jeno menciumnya saat ini juga? Jeno menggelengkan kepalanya menepis pikiran kotor di otaknya.
Jeno kemudian berjalan ke arah mobil, ia membukakan pintu mobil untuk Mark. "Ayo masuk." Mark dengan cepat berjalan dan masuk kedalam mobil.
Jeno pun menutup pintu mobil, kemudian berjalan melewati depan mobil. Ia masuk kedalam mobil lalu menyamankan posisi duduknya. Terlihat Mark sudah bersandar pada kursi mobil sambil memejamkan matanya. Jeno menatap lekat wajah Mark yang terlihat sempurna di matanya. Tanpa sadar wajahnya semakin ia dekatkan dengan wajah Mark.
"Ternyata dari jarak sedekat ini lo lebih cantik Mark." Batinnya.
Jeno yang tak bisa menahan kegemasannnya pada Mark pun langsung mengecup pipi Mark. Reflek Mark langsung membuka matanya dan langsung menatap wajah Jeno yang begitu dekat dengan wajahnya. Jantung Mark berdegup kencang saat mata mereka saling bertemu. Bukan hanya Mark yang merasakan itu, Jeno pun merasakan hal yang sama.
"Mark, gue suka sama lo."
Mark menahan napasnya saat mendengar itu, degup jantungnya makin tak karuan. Apa dia tak salah dengar? Apa dia hanya berhalusinasi?
"Mark, gue beneran suka sama lo, dari lama. Bahkan sebelum gue pacaran sama Jaemin." Mark kembali dibuat bingung dengan ucapan Jeno.
"Maafin gue yang terlalu gengsi buat ngakuin perasaan gue. Gue takut kalau lo bakal nolak gue. Tapi setelah lo bilang waktu itu lo suka sama gue, gue akhirnya beraniin diri gue buat gak mendem perasaan gue lagi." Mark merasakan matanya mulai memanas, ia tak menyangka bahwa perasaannya ternyata tak bertepuk sebelah tangan.
"Jen-" belum sempat Mark melanjutkan ucapannya, Jeno sudah terlebih dahulu mencium bibirnya. Mark yang tak siap dengan itu hanya diam membeku, namun hal itu tak membuat Jeno berhenti.
Jeno melumat bibir Mark dengan lembut, Mark yang terbawa suasana pun mulai membalas ciuman itu. Hanya ciuman lembut tanpa ada rasa nafsu disana. Ciuman itu seolah-olah seperti ungkapan perasaan satu sama lain yang sudah lama terpendam. Ciuman itu memberi tahu mereka bahwa selama ini cinta mereka tak pernah bertepuk sebelah tangan.
Jeno melepaskan ciuman tersebut, matanya dan mata milik Mark langsung beradu. Keduanya tersenyum, Mark menangkup wajah Jeno. "Makasih udah bales perasaan gue Jen."
Jeno memegang tangan Mark yang menangkup wajahnya, "aku yang harusnya berterimakasih Mark."
"Aku?" Mark memalingkan wajahnya ke sembarang arah, dia saat ini sedang salting brutal.
