═════════•°•⚠️•°•═════════
Mark baru saja selesai mandi, ia masih menggunakan bathrobe di tubuhnya. Ia berdiri di depan lemari dan membukanya, ia mencari baju yang akan ia pakai hari ini. Saat masih sibuk memilih baju, sepasang tangan sudah melingkar di pinggang Mark dari belakang. Mark sudah hafal siapa pelakunya, siapa lagi kalau bukan Jeno.
Jeno mulai mengendus leher Mark, dapat Jeno cium wangi tubuh Mark yang selalu membuatnya candu. Perlahan Jeno mulai menciumi leher putih tersebut. Mark tak bergeming sedikitpun dengan sentuhan Jeno, ini memang sudah hal biasa baginya.
Setelah mereka resmi menjalin hubungan, Jeno jadi semakin manja pada Mark, juga sifat posesif nya semakin menjadi. Mark masih ingat hari dimana Jungwoo kembali mengungkapkan perasaannya pada Mark. Jeno saat itu sangat marah dan hampir mengajak Jungwoo untuk berkelahi. Tapi untungnya hal itu bisa diatasi setelah Mark berhasil menenangkannya.
Kembali pada kegiatan Jeno yang kini sudah mulai menjilati leher Mark. Tak lupa memberikan tanda yang banyak di leher mulus itu. Mark yang tadinya tak menghiraukan itu berangsur-angsur ikut menikmati sentuhan yang diberikan kekasihnya.
"Jenhh." Suara lenguhan dari Mark semakin membuat Jeno bersemangat menyentuh Mark.
Tangannya mulai meraba dada Mark yang sedikit terbuka, kemudian tangannya masuk kedalam bathrobe yang digunakan Mark. Mark menyandarkan kepalanya pada bahu bidang Jeno, sentuhan Jeno selalu berhasil membuatnya merasa nyaman.
Tangan kanan Jeno mulai membuka tali bathrobe nya, setelah berhasil Jeno mulai meraba-raba tubuh Mark. Saat tangannya sampai di dada Mark, Jeno pun tanpa ragu meremasnya dan sesekali memainkan nipple nya.
"Ahh Jen." Lagi-lagi Mark tak bisa menahan lenguhannya.
Tubuh Mark dibalik agar menghadap Jeno, kini keduanya saling menatap. Jeno meneliti seluruh wajah Mark, matanya sudah terlihat sayu, pipinya yang merona dan bibirnya yang mungil sangat menggoda bagi Jeno.
Tanpa pikir panjang, Jeno langsung mencium bibir Mark dengan rakus, melumatnya dengan kasar dan memberikan gigitan kecil. Mark merasa kewalahan mengimbangi permainan yang dilakukan Jeno. Kini lidah Jeno sudah menelusup masuk ke dalam mulut Mark. Lidah mereka saling beradu dalam pangutan panas yang mereka buat.
Jeno membawa Mark berbaring di kasur tanpa melepaskan ciuman mereka. Tangannya masih nakal meraba setiap inci tubuh Mark, menelusuri setiap lekuknya.
Jeno melepaskan ciumannya, ia menatap Mark yang sudah sangat terangsang. Jeno tersenyum miring, Mark sangat menggoda saat ini.
Ia melepaskan bathrobe yang Mark pakai, memperlihatkan tubuh Mark yang sangat mulus. Ia melihat tubuh Mark dari atas sampai bawah, kemudian dengan cepat menyentuh penis Mark yang sudah menegang. Ia mengocoknya perlahan, "Ahhh jenhh."
"Kenapa sayang?" Jeno menyudahi mengocok penis Mark, ia mulai mengukung tubuh Mark. Ia kembali menyesap leher Mark dan terus turun sampai di dadanya.
Jeno meraup nipple Mark dengan rakus, membuat Mark merasa geli sekaligus nikmat secara bersamaan. Mark menikmati setiap sentuhan yang Jeno berikan tanpa menolak sedikitpun.
Jeno yang sudah sangat terangsang pun kini sudah membuka seluruh pakaiannya. Keduanya kini sudah dalam keadaan full naked memperlihatkan tubuh masing-masing.
Jeno membuka kedua paha Mark memperlihatkan hole nya sudah berkedut. Jeno pun tanpa basa-basi langsung memasukkan dua jarinya tanpa menggunakan pelumas terlebih dahulu.
"Akhh Jen, sa-kith." Teriak Mark karena hole nya terasa seperti akan robek.
"Be rileks baby." Jeno mulai mengeluar masukkan jarinya perlahan.
"Emhh Jenh, ahh ahhh."
Jarinya semakin ia tekan kedalam mencari sweet spot kekasihnya, sesekali ia membuat gerakan seperti menggunting.
"Di situhh... Ahhh Jen faster." Rengek Mark karena jari Jeno sudah menyentuh sweet spot nya. Jeno pun mengikuti keinginan Mark, ia semakin cepat menggerakkan jarinya didalam hole Mark.
Tak butuh waktu lama, Mark berhasil mengeluarkan pelepasan pertamanya. Spermanya keluar mengenai perutnya dan tangan Jeno. Jeno yang sudah tidak tahan langsung saja memasukkan penisnya kedalam lubang milik Mark. Mark yang masih sensitif hanya bisa mendesah panjang saat merasakan benda besar itu masuk.
"Jenh, penuhh." Mark merengek lagi, ia merasakan lubangnya sudah penuh karena penis milik Jeno.
Jeno hanya tersenyum melihat Mark yang sudah terlihat berantakan dibawah kukungan nya. Ia pun mulai menggerakkan pinggulnya perlahan-lahan agar Mark terbiasa terlebih dahulu.
"Jangan di ketatin baby." Ucapnya karena Mark yang mengetatkan lubangnya. "Be rileks okay."
Setelah mendapat anggukan dari Mark, Jeno kembali menggerakkan pinggulnya namun dengan gerakan sedikit cepat.
"Emhh ahhh ahhh... Jenhh." Mark hanya bisa mendengar sambil meremat sprei. Mark sungguh merasakan nikmat yang luar biasa saat ini.
Mark menatap Jeno yang terus bergerak membuat badannya terhentak-hentak naik turun. Melihat ekspresi Jeno yang sangat tampan membuat sisi nakalnya keluar. Perlahan Mark mengambil tangan sebelah kanan milik Jeno. Ia pun dengan sengaja memasukkan dua jari Jeno kedalam mulutnya lalu mengemutnya seperti permen.
Hal itu tentu saja membuat Jeno semakin bergairah, "kamu emang nakal banget sayanghh." Jeno pun semakin menghentakkan penisnya semakin dalam membuat Mark semakin merasa nikmat.
"Mphh..." Jeno tersenyum miring, ia menggerakkan jarinya yang ada didalam mulut Mark. Ia sangat suka melihat Mark saat berada dibawahnya, karena Mark terlihat sangat seksi saat ini.
Jeno mengeluarkan jarinya dari dalam mulut Mark, membuat desahan Mark yang tertahan pun terdengar.
"Emh ahh ahh Jenh... Mau keluarhh... Ahhh ahh."
"Sebentar sayang, tahan." Jeno semakin mempercepat gerakan pinggulnya agar bisa keluar bersama dengan Mark.
Mark semakin tak tahan karena ia sudah sampai pada puncaknya saat ini, namun ia tidak bisa melepaskan pelepasannya karena lubang penisnya ditutup oleh jari jempol Jeno.
"Jenhh... Gak tahan, mau keluarhh sekarang enghh." Mark terus merengek karena sudah tidak tahan lagi.
"Ayo sama-sama sayanghh."
Mereka pun mengeluarkan sperma mereka bersamaan. Napas mereka terengah-engah, sperma Mark mengotori perut Jeno dan perutnya dan juga sprei. Sedangkan Jeno, ia mengeluarkan spermanya di dalam lubang Mark membuatnya merasakan hangat didalam lubang dan perutnya.
"Ayo ronde kedua." Ucap Jeno sembari menggerakkan lagi pinggulnya.
Kegiatan itu pun berlangsung hingga lima ronde, membuat Mark kewalahan menghadapi Jeno yang memang seperti kantong hormon.
•
•
•
═════════•°•⚠️•°•═════════
Happy reading readers:)
Seperti biasa, janga lupa vote nya
