Louder than Bombs

212 15 3
                                        

Namjoon duduk di tepi tempat tidur, memandang kosong ke arah lantai kamar hotel yang sunyi. Suara gemuruh konser tadi malam masih terasa di telinganya, meski yang tersisa kini hanya keheningan.

Sorakan ARMY, cahaya dari ribuan lightstick, dan spanduk besar bertuliskan "Thanks for RM, my motivation and inspiration" masih berputar di kepalanya. Namjoon tersenyum kecil saat mengingatnya. Itu bukan pertama kalinya ia melihat spanduk seperti itu, tapi entah kenapa malam ini rasanya berbeda.

Namjoon membuka ponselnya, melirik pesan-pesan yang masuk di media sosial. Ada ratusan, bahkan mungkin ribuan. Sebagian besar berisi kata-kata manis yang menyemangati dan berterima kasih padanya. Tapi di antara semua pesan itu, beberapa terasa seperti beban yang tak terlihat.

"Oppa, aku merasa begitu lelah dengan hidupku. Tapi setiap kali mendengar kata-kata oppa, aku merasa sedikit lebih kuat. Terima kasih sudah ada."

Pesan itu membuatnya terdiam. Namjoon bersyukur bisa menjadi sumber kekuatan bagi seseorang, tapi ia juga takut. Apa yang terjadi jika suatu hari dirinya tak lagi mampu menjadi tempat mereka bergantung?

Lalu ia membuka pesan lainnya,

"Namjoon, terima kasih telah menjadi penyelamatku. Suaramu membuatku merasa tidak sendirian. Aku harap oppa juga baik-baik saja."

Seketika dadanya terasa sesak. Bagaimana mereka bisa memikirkan keadaannya, ketika ia bahkan belum tentu bisa mengerti apa yang sedang mereka rasakan?

Namjoon tahu ARMY yang datang ke konser, yang mengirim pesan-pesan ini, mungkin sedang menghadapi hidup yang sulit. Mereka mengatakan bahwa dirinya adalah inspirasi mereka, bahwa dirinya adalah motivasi untuk terus bertahan. Tapi Namjoon merasa ia hanya seorang pria biasa. Apa yang bisa ia lakukan selain memberikan kata-kata yang terasa benar?

Namjoon menarik napas panjang, meletakkan ponsel di meja. Merasa lelah, tetapi pikirannya tak kunjung tenang. Dalam keremangan kamar, ia mengambil buku catatan yang selalu  dibawanya ke mana-mana. Pena di tangannya mulai menari di atas kertas.

Sekarang sudah begitu jelas, ada bayangan asing di tengah sorakan. Aku tidak bisa mempercayai kata-kata, "Dengarkan yang baik saja." Tidak! Lebih dari itu...

Namjoon terus menulis, mencurahkan apa yang selama ini terpendam di dalam dirinya. Setiap kata terasa seperti serpihan dari hatinya sendiri. Tentang keraguan, rasa syukur, dan tekanan yang datang dari semua harapan yang ditujukan padanya.

> Diam dalam kesedihanmu, itu membuatku terguncang. Lautku yang tenang saja, terkadang gelombang tiba-tiba naik. Aku hancur lebih keras dari bom, mengeluarkan semua rasa sakit.

Ketika ia selesai menulis, Namjoon menutup buku itu dan menatap langit-langit kamar. Apakah ini cukup? Apakah ini yang ia rasakan? Namjoon tak tahu pasti, tapi ia merasa sedikit lebih lega.

*******

Beberapa minggu kemudian, Namjoon berada di studio bersama Yoongi dan Hoseok. Mereka sedang membahas melodi baru ketika Yoongi tiba-tiba mengambil buku catatan Namjoon yang tergeletak di meja.

“Namjoon ah, ini apa?” tanyanya sambil membolak-balik halaman penuh coretannya.

Namjoon mendongak, sedikit kaget. “Oh, itu hanya… sesuatu yang kutulis waktu itu.”

Yoongi membaca beberapa baris, lalu menatap Namjoon dengan ekspresi serius. “Ini… dalam sekali. Kau menulis ini untuk dirimu sendiri, atau untuk kita semua?”

Namjoon tersenyum kecil. “Mungkin keduanya.”

Hoseok yang penasaran ikut melihat. Wajahnya langsung cerah. “Namjoonie, ini harus jadi lagu! Ini seperti suara hati kita.”

Uri Leader, Kim Namjoon Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang