Malam itu, Namjoon duduk di sudut sebuah bar kecil, tempatnya biasa melarikan diri dari kesibukan. Topi hitam dan masker yang ia kenakan menyembunyikan identitasnya. Ia hanya ingin menikmati segelas whiskey tanpa gangguan. Tapi ternyata, dunia tidak pernah benar-benar memberi ruang untuknya.
Di meja sebelah, sekumpulan pria tengah bercakap-cakap, obrolan mereka membuat telinga Namjoon bergetar.
"Grup itu hanya alat pemerintah," salah satu dari mereka berkata, suaranya jelas terdengar.
"Mereka menjadikan BTS pengalih isu politik. Dan lihat Namjoon sekarang, Duta Pertahanan? Hah, betul-betul boneka."
"Hebat, ya? Sekarang idola jadi alat politik."
Namjoon menunduk, tangannya menggenggam gelas erat. Ia meneguk minumannya, mencoba mengabaikan mereka.
Dia menahan napas, berusaha tidak terpancing. Namun, obrolan itu semakin tajam.
"Idola tetap idola. Mereka hanya tahu menari dan menyanyi, lalu seenaknya pemerintah pakai mereka untuk apa saja."
Yang lain menyela, mencoba membela.
"Tapi BTS itu grup besar, dan Namjoon pintar. Mungkin dia memang tahu apa yang dia lakukan."
"Ya, pintar? Kalau pintar, kenapa terus-menerus jadi alat? Popularitas rupanya tidak menyenangkan itu, mereka sepertinya tidak sadar jika mereka terpenjara."
"Namjoon itu budak agensi sekaligus boneka pemerintah,"
Namjoon berdiri. Tanpa menoleh, ia meninggalkan bar dengan langkah berat, pikirannya penuh oleh kata-kata tadi. Kata-kata yang sering ia dengar tetapi selalu ia coba abaikan.
*******
Ketika pemerintah Korea Selatan pertama kali menawarkan posisi sebagai Duta Pertahanan, Namjoon merasa terhormat. Ia menerima mandat itu dengan bangga. ARMY di seluruh dunia memberikan dukungan luar biasa, menjadikannya trending di Twitter selama berhari-hari. "Namjoon for Korea," kata mereka.
Namun, seiring berjalannya waktu, beban itu semakin terasa. Perannya sebagai Duta Pertahanan bukan sekadar simbolis. Ia harus menghadiri pertemuan resmi, berbicara di forum internasional, dan memberikan citra bahwa Korea Selatan adalah negara kuat yang melibatkan pop culture dalam diplomasi global.
Awalnya, ia berpikir tugas ini hanya tambahan di sela-sela jadwal BTS. Tapi kenyataannya, ia sering kali merasa lebih seperti seorang pejabat daripada musisi. Setiap langkahnya diawasi, setiap kata yang keluar dari mulutnya dianalisis. Hal ini membuatnya merasa tercekik. ARMY memang bangga, tetapi dalam hatinya, ia merasa tersesat.
*******
Suatu hari menjelang BTS festa. Perayaan ulang tahun Bts. Mereka berdiskusi tentang konsep apa yang akan mereka gunakan tahun ini. Ada yang usul membuat pesta kecil dan live streaming bersama ARMY, ada juga yang mengusulkan agar memasang beberapa gambar di bus, atau di jalan-jalan. Lalu Namjoon teringat, bahwa di kota kelahirannya, Ilsan orang-orang membuat mural dengan wajahnya sebagai rasa penghormatan. Hal itu juga jadi perbincangan di kalangan staff agensi.
Di ruang rapat agensi, para staf sering bercanda seolah-olah Namjoon adalah sosok yang bertanggung jawab penuh atas segala sesuatu.
"Namjoon-ssi, kau benar-benar pemimpin sejati. Bagaimana kalau kau tidak hanya menjadi leader grupmu? Bagaimana kalau sekalian menggantikan CEO kami sebagai pimpinan agensi?" salah satu staf berkata dengan nada bercanda.
Ruangan itu meledak dengan tawa, tapi Namjoon hanya tersenyum tipis, tak ada semangat dalam ekspresinya. Lelucon semacam itu, yang dulu mungkin dianggapnya lucu, kini terasa seperti beban tambahan.
