28. Please Hug Me

251 19 11
                                        

Enigmatic You |Bagian 28|

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Enigmatic You
|Bagian 28|

•••


Setelah berjalan sekitar 10 menit dari halte bus, akhirnya Nalen pun sampai di depan rumah Alan. Berhenti sejenak di depan pagar rumah itu sambil mengatur nafasnya yang sedikit tak teratur, tangannya sedari tadi meremat dada kirinya yang kembali berdenyut sakit karena kelelahan berjalan.

Nalen membuka perlahan pagar itu, kemudian melangkah masuk ke halaman rumah Alan. Alih alih segera masuk ke dalam rumah, Nalen justru berdiri diam disana. Menatap kosong rumah itu dengan tatapan sendu. Ingatannya melayang pada kejadian kemarin dimana Ibu Alan yang menangis histeris karena paket berisi teror mengerikan itu.

Kembali memejamkan mata sambil menghela nafas lelah, perasaan bersalah semakin menyiksa Nalen seolah tak cukup beban berat yang selama ini ia pendam. Ingin sekali Nalen menangis dan berteriak, selama ini Nalen hanya diam menyembunyikan semuanya seolah baik baik saja sambil terus menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi.

Hingga mata Nalen mengedar ke sekeliling halaman rumah Alan, kemudian berjalan mendekati tempat sampah yang berada di pojok dekat dinding pagar rumah. Tanpa berpikir dua kali tangan Nalen mengambil satu persatu sampah disana, menyingkirkan beberapa sampah, mencoba mencari kardus paket berisi teror yang ia dapatkan kemarin. Mungkin saja Nalen dapat menemukan alamat pengirimnya disana, sudah cukup Nalen bersembunyi selama ini, Nalen tidak mau ada korban lagi setelah kematian orang tuanya.

"Nyari apa?"

Hingga sebuah suara dari arah belakang mengejutkan Nalen, menghentikan aktivitas nya lalu menoleh ke arah sumber suara dimana Alan dan Saddam mulai berjalan mendekatinya.

"Anjir Len akhirnya lo pulang juga! Lo tahu Alan kemarin nelpon gue tengah malem buat minta nemenin nyari lo sambil hujan hujanan. Sampe subuh kita baru pulang, nih anak nekat padahal baru aja kecelakaan. Stres emang. Eh tapi lo gapapa kan Len? Lo kemana aja?" cerocos Saddam tak memperdulikan hawa tak mengenakkan antara Nalen dan Alan.

"Lo dari kemarin malem disini?" tanya Nalen pada Saddam.

"Iya Len, gak tega gue ninggalin Alan, masuk rumah aja gamau. Tau dah kenapa si Alan sampe segitunya, kayak lo lagi diincer pembunuh aja, keluar malem satu kali gak bikin lo mati juga kan ya?" kata Saddam dengan enteng.

"Ya emang bener dia lagi diincer pembunuh" sahut Alan dengan nada dingin.

"Ha?" Saddam menatap Alan bingung.

"Lo!" peringat Nalen pada Alan dengan tatapan tajamnya.

"Kenapa? Takut Saddam tahu? Emang udah waktunya dia tahu Len! Lo pikir lo bisa ngadepin ini sendiri?! Lo anggep apa temen temen lo ha? Inget, lo udah gak sendiri disini. Jadi bisa lo hargai orang orang yang gue gak tau lo anggep temen atau gak?" kata Alan yang kini sudah menaikkan nadanya.

Enigmatic YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang