If your hope can't come true, then let me fly it to the sky for you
Enigmatic You
Bagian 29
-Happy Reading-
***
Kaki kecil itu melangkah menyusuri koridor rumah sakit yang dipenuhi oleh pasien dan perawat yang berlalu lalang. Gadis yang umurnya belum genap 7 tahun itu mengedarkan matanya kesana kemari dengan binar mata polosnya. Dengan seragam merah putih dan tas kecil di pundak, anak itu berjalan sendirian tanpa rasa takut.
Bibirnya tertarik ke atas, tersenyum lebar saat akhirnya menemukan ruangan yang ia cari. Ruangan dimana ibunya selalu tidur disana, ia sendiri tidak tahu alasan kenapa ibunya sangat betah tinggal di ruangan serba putih dengan bau obat yang membuat kepalanya pusing.
Tangan kecil itu terulur untuk menarik ganggang pintu disana, sedikit berjinjit kemudian membukanya dengan pelan. Mengintip ruangan kecil dengan 3 pasien yang terbaring disana. Kata ayahnya, mereka tidak punya uang banyak untuk memberikan kamar bagus untuk ibunya, jadi mau tak mau mereka harus berbagi dengan pasien lain.
Kaki itu melangkah pelan menghampiri ranjang yang paling dekat dengan jendela. Dia hanya bisa mendengar suara ibu dan ayahnya karena tirai yang menjadi sekat antara ranjang pasien lainnya. Kaki itu berhenti melangkah saat mendengar suara sendu ibunya yang sepertinya tengah berbicara pada ayahnya.
"Pasti kamu kesulitan membayar biaya perawatanku disini. Lebih baik kita pulang, aku bisa beristirahat di rumah" suara lembut ibunya mengalun dengan lemah sambil sesekali terbatuk kecil.
"Gak, selagi aku masih hidup dan bisa mencari uang, kamu gak boleh pulang sebelum sembuh total" ayahnya berbicara dengan suara tegas namun menenangkan.
"Pasti ini sulit untuk kamu, apalagi Alena sudah mulai masuk sekolah SD. Kebutuhan dia semakin banyak" balas ibunya.
"Aku bisa cari pekerjaan tambahan" mencoba meyakinkan ibunya.
"Jadi supir taksi saja sudah menguras banyak tenaga, apalagi akhir akhir ini kamu sering pulang malam. Kasihan Alena selalu sendirian di rumah--uhuk! " lagi lagi ibunya terbatuk tapi kali ini terdengar sangat menyakitkan.
"Apa mau aku panggil dokter?" tanya ayahnya dengan nada cemas.
"Gapapa, pasti cuma batuk biasa--uhuk uhuk!"
Dan selanjutnya Alena mendengar suara ayahnya yang memanggil dokter dengan panik, berdiri diam di tempatnya tak berani melihat sang ibu yang semakin terbatuk batuk menyakitkan di balik tirai. Lantas bersamaan dengan air mata Alena yang turun, tirai itu terbuka menampilkan wajah panik ayahnya yang terkejut dengan kehadiran Alena disana.
Alena mendongak, mengusap air matanya sambil melirik ke arah sang ibu yang kini menutupi mulutnya dengan tisue yang terdapat bercak darah disana. Tak ingin putrinya melihat pemandangan mengerikan itu, lantas sang ayah segera menggendong Alena keluar, kemudian mendudukannya pada kursi tunggu yang ada di depan ruangan.
Alena menatap ayahnya dengan mata berkaca kaca, sedangkan yang ditatap hanya menampilkan senyum tipis berusaha menyembunyikan raut panik dengan manik bergetar menahan air mata. Lalu tangan ayahnya membingkai sisi wajah Alena dengan senyum lembut.
"Kenapa Alena nangis, nak" tanya ayahnya.
Saat ditanya seperti itu sontak tangis Alena semakin pecah. "Kenapa mama batuk batuk ayah? Kenapa sakitnya mama gak sembuh sembuh?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Enigmatic You
Teen FictionNalendra Saka Kalegra berusaha menemukan pembunuh orang tuanya membuat dia bertemu dengan seorang gadis yang menjadi kunci dari semua teka teki yang ada di hidupnya. Alena Cahyarani, gadis misterius yang secara tidak sengaja dipertemukan dengan Nal...
