Bab 10

3.1K 228 27
                                        

Beberapa hari setelah kejadian hilangnya El, membuat Rafa sangat terpukul hingga mengurung diri di kamar. Seperti sekarang, pemuda itu duduk di pojok ruangan sambil memeluk lututnya.

Ia merasa dirinya sudah benar-benar tidak waras. Kehilangan orang yang sudah menemaninya sedari dulu dan selalu menguatkannya di saat dirinya merasa dunia begitu kejam. Namun, sekarang ia malah dihantam dengan kenyataan pahit bahwa El hanyalah teman imajinasi dan tidak benar-benar ada dalam hidupnya.

Rafa semakin larut dalam kenangan bersama El, hingga ingatan saat mereka pertama kali bertemu pun melintas di benaknya.

Saat itu, saat orang tuanya tengah bertengkar. Ia berlari ke taman untuk lepas sejenak dari rantai pertengkaran yang selalu membuatnya ketakutan.

Dan di saat itu pula Rafa sangat menginginkan sosok yang bisa melindungi serta memberinya perhatian lebih, dan tanpa diduga El hadir ke kehidupannya dengan membawa semua hal yang Rafa inginkan sebelumnya.

Rafa sadar jika sosok El terbentuk dari keinginannya yang begitu dalam hingga membuatnya tanpa sadar menciptakan sosok yang bahkan sebenernya tidak pernah ada di dunia.

Kepala Rafa semakin berisik saat kenangan demi kenangan terus menghampiri dan memaksa pemuda itu untuk mengingat, yang mana hal tersebut sangat menyiksa dirinya.

Tiba-tiba sebuah notifikasi dari ponsel mengambil alih perhatian Rafa. Dengan enggan ia beranjak dari tempatnya lalu meraih ponselnya yang berada di nakas.

Satu pesan ia dapatkan dari nomor yang beberapa hari belakangan sering menghubunginya.

Rafa mulai membaca pesan tersebut yang dikirimkan oleh orang yang ia kenal di sekolah, sekaligus orang yang sangat membenci dirinya. Noah.

Noah: Woi, anak jalang. Ke mana aja lu? Izin berhari-hari ngelonte ya buat nerusin kerjaan nyokap lo? Cepet-cepet masuk deh, gue bosen gak ada yang bisa dijadiin bahan bully. Kalo besok lu belum masuk juga, siap-siap dapet surat cinta dari sekolah. Lo tau kan gue punya kuasa di sini?

Rafa terpaku setelah membaca pesan itu. Ia sedih sekaligus marah, akan tetapi Noah ada benarnya, ia tidak bisa terus-menerus mengurung diri dan tidak datang ke sekolah.

Rafa menoleh ke arah cermin di dekatnya. Memandang pantulan dirinya yang begitu berantakan. Wajah sembab, rambut acak-acakan, dan tak lupa dengan iris cokelatnya yang terlihat lelah.

Ia berpikir El pasti sedih jika mengetahui kondisinya saat ini.

Dari sana sebuah semangat kecil hadir dari dalam dirinya. Rafa tidak bisa terus terjebak dalam kehidupan suram yang membelenggunya selama ini. Mulai sekarang ia bertekat untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik walaupun tanpa El di sisinya, tanpa laki-laki yang begitu ia cintai.

__

Ezra memandang kursi kosong di depannya. Sorot cemas terpancar jelas dari wajahnya saat ia menyadari sang pemilik kursi sudah tidak masuk selama beberapa hari terakhir.

Di satu sisi dirinya sangat khawatir terjadi hal buruk pada Rafa, tetapi di sisi lain ia tidak bisa melakukan apa pun untuk membantu pemuda itu.

Dan selama itu pula Ezra merasa ada yang kurang dari sekolahnya. Ia menjadi tidak fokus pada pelajaran karena pikirannya selalu tentang Rafa. Apakah Rafa baik-baik saja? Kenapa Rafa tidak masuk selama berhari-hari? Dan apa yang terjadi dengan pemuda itu? Serta masih banyak pertanyaan lain yang bersarang di pikiran Ezra.

Setelah kelas berakhir, Ezra dan ketiga temannya berjalan keluar dari gedung sekolah.

"Main PS di rumah gue kuy," ajak Raka pada Ezra, Noah, juga Sandi.

"Gasss!" sahut Noah dan Sandi bersamaan.

"Era, lu ikut kita juga, 'kan?" tanya Sandi pada Ezra yang tengah berjalan di belakangnya.

Seketika Noah yang sedang berjalan sambil merangkul Raka pun ikut menoleh ke belakang untuk memastikan Ezra ikut dengan mereka.

Ezra memandang teman-temannya sejenak sebelum menggelengkan kepala. "Gue gak ikut dulu, ada les nanti sore."

"Ah, gak asik lu belajar mulu," keluh Raka.

"Lu kan udah pinter, Zra. Gak usahlah belajar terlalu keras. Sesekali kita main bareng gitu," hasut Sandi.

"Udah biarin aja kalo emang Ezra gak bisa ikut, gak usah dipaksa." Noah mengambil alih pembicaraan yang membuat keduanya langsung terdiam.

Ezra tersenyum kecil setelah Noah mengatakan itu. Ia tahu Noah memang siswa nakal dan selalu mencari masalah entah di sekolah atau di luar. Namun, pemuda itu tidak pernah memaksa temannya untuk mengikuti keinginannya.

"Ya udah, tapi kalo kita mau main lagi lu harus ikut," ucap Raka yang langsung diangguki oleh sang empu.

Mereka berempat berjalan hingga sampai di parkiran. Ezra memakai helmnya dan menyalakan mesin motornya, tak mengindahkan suara bisik-bisik dari segerombolan siswi yang menatap ia dan ketiga temannya dengan tatapan penuh puja.

Hal yang biasa terjadi di Pradipta High School. Banyak gadis dan pemuda yang mengagumi ketampanan dari Ezra dan teman-temannya. Namun, dari banyaknya orang yang mengantre untuk mendapatkan hati mereka, tidak seorang pun bisa memikat Ezra yang memang sudah lebih dulu jatuh sedalam-dalamnya pada pesona Rafa, si pemuda culun yang menjadi korban perisakan di sekolah ini.








TBC








_
_
_

Mata Kembar Buta [BxB] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang