"DASAR ANAK GAK BERGUNA!"
"NYUSAHIN AJA BISANYA!"
Rafa tertegun melihat Theyya yang memakinya hanya karena hal sepele.
Wanita itu menunjuk pecahan kaca yang berserakan di lantai dengan wajah merah padam. "Kamu megang gelas saja masih gak benar, Rafa! Saya tanya sekarang, apa kamu cacat? Gak kan, tapi kenapa buat hal seperti ini saja kamu nggak becus?!"
Pemuda yang dimaki itu hanya diam sembari menggaruk kuku jarinya pada celana, tak lupa juga kepala yang secara refleks tertunduk.
"M-maaf ...," cicitnya. Rafa berani bersumpah jika dirinya tak sengaja memecahkan gelas saat hendak mengisinya dengan air. Tetapi ia benar-benar tidak menyangka jika kesalahan kecil yang diperbuatnya bisa memancing amarah Theyya hingga sebesar ini.
Ibu tirinya itu bahkan tak menanyakan apakah ia baik-baik saja ketika mendapati kaki Rafa yang berdarah akibat terkena serpihan gelas kaca.
Theyya berdecih. Ia menyugar rambut panjangnya penuh emosi. "Benar ternyata, menyusahkan menampung anak sepertimu di rumah ini. Sangat merepotkan."
Rafa semakin tertunduk. Pelupuk matanya kini sudah penuh akan air mata yang siap keluar dan menumpahkan segala sesak yang dirinya rasakan. Sebegitu sakitnya perkataan Theyya hingga mampu menghunus tepat pada jantungnya.
Tak peduli seberapa tulus Rafa marapalkan kata maaf, Theyya malah semakin menjadi. "Pantas saja ibumu pergi, rupanya dia tak sanggup mengurus anak menyusahkan sepertimu."
Mendengar kalimat yang dengan mudah Theyya keluarkan semakin membuat Rafa merasa sakit. Sosok yang seharusnya melindungi, memberikan kasih sayang, serta perhatian padanya kini malah menghadiahinya dengan seonggok luka yang tak akan hilang hingga embus napas terakhir.
Pantaskah ia mendapat cacian seperti ini hanya karena dirinya tak sengaja menjatuhkan sebuah gelas yang harganya tak sebanding dengan luka yang ditorehkan ibu tirinya itu. Meski Rafa yakin bahwa Theyya memang sedari dulu tak menyukainya dan dengan dirinya melakukan kesalahan ini, wanita tersebut dapat memiliki alasan untuk menumpahkan segala umpatan yang memang sudah sejak lama terpendam dalam benaknya.
"Maaf ... Ibu," lirih Rafa, dan untuk pertama kalinya ia memanggil Theyya dengan sebutan 'ibu' yang membuat wanita itu mencibir.
"Aku bukan ibumu, sialan," umpatnya. Ia benci jika dipanggil demikian, terlebih yang memanggilnya adalah Rafa—anak tirinya yang ia anggap sebagai beban.
"Ada apa ini?" seru Arlingga yang berjalan mendekat ke arah keduanya.
"Anakmu tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar hingga membuatku kesal." Theyya mendelik ke arah Rafa yang kini masih tertunduk.
Arlingga menoleh ke putranya itu dan beralih melihat pecahan kaca yang berserakan di lantai. Ia mengembuskan napas panjang sebelum menyuruh Rafa untuk pergi bersiap karena anak itu harus ke sekolah pagi ini dan jangan sampai terlambat.
Rafa menurut. Ia melangkah ke kamarnya menyisakan Arlingga dan Theyya yang masih diselimuti amarah.
"Jangan terlalu keras. Dia hanya tak sengaja dan kumohon perlakukan dia lebih lembut, karena bagaimanapun dia anakmu juga sekarang" Perkataan Arlingga menyatu dengan udara dan lenyap begitu saja tanpa mendapat respons dari sang lawan bicara.
__
Setelah pertengkaran di rumah tadi, Rafa menjadi tidak bersemangat, bahkan hanya untuk menyusuri koridor sekolah saja ia tak bertenaga, ditambah dengan suara bisik-bisik dari beberapa siswa dan siswi di sana yang memandangnya dengan sorot tak suka.
"Liat si aneh itu, bisa-bisanya dia malah temenan sama orang yang pernah ngebully dia dulu."
"Gue rasa dia kayak gitu buat dapet perhatian, biasalah anak kurang kasih sayang."
"Lebih ke naif si kalo kata gue."
Suara dari beberapa siswi yang sedang menggosipkan Rafa terdengar begitu jelas di telingannya. Ia sedikit tertampar dengan perkataan mereka, sebab mau bagaimanapun ucapan tersebut benar adanya. Rafa naif dan bodoh karena memilih untuk berteman dengan orang-orang yang telah merusak mentalnya.
Rafa terus berjalan dengan pandangan kosong serta kepala yang terus memikirkan perkataan orang-orang di sekelilingnya. Hingga langkah kakinya terhenti ketika mendapati seseorang memanggil.
Rafa segera menoleh. Netranya menangkap Ethan yang sedang bersandar pada loker dengan mulut yang tersumpal permen.
Pemuda berpenampilan urakan itu berjalan mendekat. "Ikut gue."
Rafa mengernyit bingung. "Ikut ke mana? Sebentar lagi bel masuk."
"Gak usah banyak bacot. Lu tinggal ikut aja apa susahnya?" sentak Ethan. Ia mencekal pergelangan tangan Rafa, lantas menariknya pergi ke suatu tempat.
Rafa hendak memberontak, tetapi saat melihat wajah Ethan yang sepertinya sedang dalam suasana hati yang tidak baik, ia memilih untuk mengurungkan niat.
Keduanya sampai di rooftop yang tampak sepi. Hanya ada mereka berdua di sana. Lantai rooftop juga basah karena kemarin malam hujan mengguyur.
"Kenapa ajak aku ke sini?" Rafa menatap Ethan penuh tanya.
"Gue cuma mau nepatin janji gue," jawab Ethan setelah melepaskan tangan Rafa dari genggamannya.
"Janji?" gumam Rafa masih bingung dengan ucapan Ethan, sebab seingatnya Ethan tidak pernah membuat janji apa pun.
"Ya, janji buat ngasih lo pelajaran karna masih aja deket sama orang-orang itu."
Rafa tersentak. Seketika pikirannya mulai memikirkan skenario buruk yang akan Ethan lakukan padanya.
Kedua kaki Rafa melangkah mundur begitu Ethan mendekat secara perlahan. Senyum mengerikan tercetak jelas di wajah pemuda itu hingga berhasil membuat Rafa ketakutan.
"Bodoh, lu gak pernah mau dengerin omongan gue dan maksa buat bertahan sama sumber luka lu itu," caci Ethan seraya mengikis jarak di antara dirinya dan Rafa.
"Apa sebegitu kesepiannya diri lu sampe nyari seseorang yang bahkan gak pantes buat dapet kebaikan lu. Seharusnya lu buka mata dan sadar kalo orang di depan lu ini lebih pantes ada di sisi lu dibandingkan sama para manusia itu," sambungnya.
Rafa hanya terdiam sembari menahan rasa takut yang kini mulai menjalar hingga menyelimutinya begitu melihat wajah Ethan yang layaknya seorang psikopat yang siap untuk mengeksekusi korbannya.
"Lu buta, Raf. Pantes El pergi ninggalin lu."
TBC
_
_
_
KAMU SEDANG MEMBACA
Mata Kembar Buta [BxB] ✓
Ficción General⚠️BxB Rafael Melviano, seorang pemuda biasa yang selalu mendapat perundungan dari teman sekelasnya. Entah dosa apa yang telah ia perbuat hingga pantas mendapat luka berupa umpatan yang menyayat jiwa dan kekerasan fisik yang menghunus raga. Meski bat...
![Mata Kembar Buta [BxB] ✓](https://img.wattpad.com/cover/377370638-64-k442536.jpg)