Rafa mengayun-ayunkan kakinya sembari menyenandungkan lagu random yang ia ketahui. Matanya terpejam sesaat begitu menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya.
Dirinya sedang berada di taman belakang sekolah, duduk di kursi seorang diri untuk menunggu kedatangan seseorang yang mengajaknya bertemu.
Membuka kembali kelopak matanya, Rafa mendapati ada seorang pemuda dengan penampilan urakan yang berjalan menghampirinya. Rafa sedikit bergeser agar pemuda itu bisa duduk di samping kanannya.
Orang yang menyuruhnya untuk ke tempat ini tak lain adalah Ethan. Pemuda itu duduk bersandar pada kursi lalu memandang Rafa sejenak.
"Kenapa lu mau bantu Raka? Apa lu mau balas dendam ke para pembully secara perlahan?"
Suara berat Ethan memecah keheningan di antara keduanya. Rafa memandang lurus ke depan, ia merasa aneh dengan Ethan yang berpikir demikian, padahal sedari awal niat Rafa benar-benar tulus ingin membantu.
"Kalo iya, gue bakal dukung lu. Kali ini gue bakal turun tangan langsung," sambung Ethan yakin.
Rafa segera menggeleng, ia tak pernah berpikir untuk membalaskan dendam pada para pembully karena dirinya tahu alasan yang mendasari mereka melakukan hal tersebut.
Sudah cukup ia dan Noah dihantam beribu luka oleh orang yang sama. Dirinya tak ingin membuat lara di antara mereka semakin besar. Yang Rafa inginkan yaitu berdamai dan memperbaiki semuanya dengan caranya sendiri.
"Aku gak pernah berpikir buat balas dendam, sudah cukup kami saling melukai satu sama lain. Sekarang aku cuma mau hidup damai tanpa diliputi rasa bersalah," balas Rafa. Sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis.
Ethan tersenyum sinis. "Naif dan tolol, kombinasi yang pas."
Rafa mengernyit bingung, mengapa jadi Ethan yang marah sedangkan yang menghadapi ini semua adalah Rafa?
"Kalo gue jadi lu bakal balas semua perlakuan buruk yang udah mereka lakuin selama ini. Dan asal lu tau, sekarang adalah waktu yang tepat buat ngasih mereka pelajaran," ujar Ethan. Manik hitamnya ia arahkan untuk menatap pemuda manis di sampingnya.
"Coba inget-inget lagi hal yang udah mereka lakuin ke lu. Semua itu pasti bikin lu sedih sekaligus sakit, 'kan?" ucap Ethan, "dan setelah lu berhasil bangkit, lu cuma diem seolah gak terjadi apa-apa. Di mana pikiran lu, Raf?" lanjutnya.
Rafa dibuat semakin bingung, Ethan seolah menghasutnya untuk berbuat hal yang bahkan tak pernah terlintas di benaknya selama ini. Ia tahu Ethan adalah orang berjasa karena sudah membantunya untuk melindungi diri dari para perundung, tetapi sikap pemuda itu semakin aneh membuat Rafa bertanya-tanya.
"Kenapa kamu seolah ngehasut aku buat ngelakuin itu? Sebenernya apa yang kamu mau?" tanya Rafa serius.
Ia benar-benar tak habis pikir dengan Ethan yang terus mendorongnya untuk melakukan hal semacam ini.
Ethan tersenyum jengkel. Ia ingin sekali menghantam kepala Rafa dengan batu besar agar pemuda itu sadar. Sejujurnya Ethan merasa bahwa Rafa tak tahu terima kasih, setelah diberi dukungan dan cara agar bisa melindungi diri, pemuda itu malah berlaga bak malaikat.
"Kenapa diam? Apa kamu ada niat lain di balik kata-katamu?"
Ethan menggertakkan giginya, tatapan matanya berubah menjadi tajam saat Rafa terus menodongkan berbagai pertanyaan yang membuatnya kesal.
'Ya, gue ngehasut lo biar tontonan favorit gue gak hilang dalam waktu dekat, sialan," batin Ethan menjerit.
__
Rafa memandang kosong ke arah bawah, kepalanya terus-menerus memikirkan hubungannya dengan Ethan yang semakin renggang. Sebenarnya sedari awal pun mereka memang tak begitu dekat, tetapi sekarang keduanya seakan makin menjauh satu sama lain.
Perasaan tak enak menyelimuti Rafa hingga membuatnya merasa begitu bersalah. Mungkinkah dirinya terlalu mencecar Ethan dengan pertanyaan yang membuat pemuda itu marah dan berakhir seperti ini? Entahlah Rafa semakin pusing dibuatnya.
"Raf, mau ke perpus?"
Lamunan Rafa seketika buyar saat mendengar suara itu. Ia menoleh dan mendapati Raka yang sedang berdiri di samping mejanya.
"Boleh, ayo ke sana," balas Rafa lalu bangkit dari duduknya.
"Eh, bentar, tadi si Ezra juga mau ikut. Mana tuh anak," kata Raka sembari matanya menelisik seisi kelas untuk mencari keberadaan temannya.
"Woi, Zra. Jadi ikut gak?!" tanya Raka sedikit berteriak setelah mendapati Ezra yang berada cukup jauh darinya.
"Iya jadi," jawab Ezra lalu berjalan menghampiri Raka.
Sebelum benar-benar jauh, Ezra menyempatkan diri untuk melirik Noah dan Sandi yang masih di tempatnya. Kedua pemuda itu terlihat agak kesal saat dirinya dan Raka mulai dekat dengan Rafa.
Rafa mulai melangkah menuju perpustakaan sekolah bersama kedua pemuda yang bisa dibilang temannya sekarang?
Hubungan Rafa dan Raka semakin membaik. Mereka menjadi lebih dekat, ditambah dengan Ezra yang juga sering belajar bersama sehingga ketiganya cukup sering menghabiskan waktu bertiga. Walau terkadang masih terdapat rasa canggung di antara mereka, namun hal itu tak menjadi penghalang.
Rafa cukup senang sebab ia mendapat teman setelah sekian lama tak ada seorang pun yang ingin menjadi temannya, meski orang itu tak lain adalah perundungnya dulu.
Rasa senang dan sedih juga menyelimuti Rafa. Ia sedih karena Noah masih belum bisa menghilangkan kebencian yang tertanam di dalam dirinya. Rafa harap Noah mau memaafkan ibunya dan memulai lembaran baru tanpa dendam yang menyertai.
TBC
_
_
_
KAMU SEDANG MEMBACA
Mata Kembar Buta [BxB] ✓
Fiction Générale⚠️BxB Rafael Melviano, seorang pemuda biasa yang selalu mendapat perundungan dari teman sekelasnya. Entah dosa apa yang telah ia perbuat hingga pantas mendapat luka berupa umpatan yang menyayat jiwa dan kekerasan fisik yang menghunus raga. Meski bat...
![Mata Kembar Buta [BxB] ✓](https://img.wattpad.com/cover/377370638-64-k442536.jpg)