Bab 28

1.7K 153 4
                                        

Rafa meletakkan nampan berisi cemilan di atas meja. Ia tersenyum kecil ke Ezra yang membantunya membawa nampan berisi minuman.

"Duh, gak usah repot-repot," kata Anara. Ucapan dan tindakannya seolah tak selaras, sebab ia langsung mengambil satu gelas jus dan langsung meneguknya.

"Si anjir, gak usah repot-repot tapi ujung-ujungnya tetep diminum." Sandi beranjak bangun dengan masih mengusap kepalanya. Sedangkan Niel berjalan di belakangnya menuju sofa samping Anara.

"Ssstt, lu gak diajak," timpal Anara acuh tak acuh.

Rafa hanya terkekeh mendengar pertengkaran kecil itu. Ia sangat senang karena bisa membawa teman-teman barunya untuk bermain di huniannya, sebab sebelumnya tidak pernah ada temannya yang bertamu ke rumah.

Arlingga pun mengizinkan seluruh teman Rafa untuk datang, dan beruntung Theyya sedang ke luar negeri untuk jalan-jalan bersama teman-temannya, jadi Rafa bisa leluasa bermain dengan yang lain tanpa harus mendengar ocehan tak mengenakan dari ibu tirinya itu.

Rafa membawa teman-temannya ke rumah besar Arlingga karena ia sudah kembali ke hunian ini beberapa minggu terakhir. Rafa menerima permintaan sang ayah untuk kembali tinggal bersama, sebab di rumah sebelumnya ia sulit untuk menghilangkan bayang-bayang El, seolah memori keduanya selalu berputar di kepalanya, dan dengan pindah ke sini ia harap bisa sedikit menghapus kenangan itu, walaupun dirinya tidak benar-benar ingin menghilangkan hal itu sepenuhnya.

Suara bel terdengar, membuat atensi Rafa segera teralihkan. Ia bergegas ke pintu utama untuk menyambut orang di depan sana yang ia yakini bahwa itu Arlingga yang baru pulang kerja.

Saat membuka pintu, bukannya sang ayah yang ia lihat, melainkan seorang pemuda dengan senyum canggung yang ia berikan.

"Raka?"

"Maaf gue dateng telat," ujar Raka, lalu ia menyerahkan kantung plastik berisi martabak manis yang ada di tangannya.

"Eh, gak perlu repot-repot, Ra," balas Rafa tak enak.

"Udah gapapa, buat yang lain makan juga."

"Makasih," serunya sembari tersenyum manis.

Lantas kepalanya menoleh ke sana ke mari untuk mencari keberadaan seseorang yang seharusnya bersama Raka.

"Noah mana?" tanyanya saat menyadari Raka datang seorang diri.

Raka diam sejenak, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Gue juga gak tau. Pas tadi gue samper dia gak ada di rumah, hp-nya juga gak aktif."

Rafa terdiam. Wajahnya jadi murung begitu mendengar penjelasan Raka. Memang sedari awal seharusnya ia tidak berharap terlalu lebih, karena pada akhirnya semua itu hanya akan menjadi angan-angannya saja.

Tak mungkin juga Noah sudi menginjakkan kakinya di dalam rumah yang dulunya menjadi hunian wanita yang telah merusak hidupnya.

"Udah gak usah sedih. Mungkin Noah cuma butuh waktu buat ini semua, lu tau kan gak mudah buat dia ngelupain lukanya? Tapi tenang aja, gue bakal berusaha buat bantu dia berdamai walaupun butuh waktu yang gak sebentar." Raka menepuk-nepuk bahu pemuda manis di hadapannya.

Rafa tersenyum simpul, kemudian mengangguk. "Ya udah, ayo masuk."

Keduanya melangkah menuju ruang tamu untuk berkumpul dengan yang lainnya.

Selagi menunggu makan malam yang masih disiapkan, Rafa dan teman-teman yang lain memilih untuk bermain game bersama serta saling mengobrol, ya walaupun hal yang mereka bicarakan tak jauh-jauh dari konspirasi.

Hal tersebut dipicu oleh Niel dan Anara yang memang suka sekali berteori dan dengan topik tersebut berhasil membuat mereka menjadi lebih dekat satu sama lain. Meski beberapa kali Sandi dan Raka mengajukan teori mereka yang tak masuk akal dan lebih terkesan seperti lawakan, hingga membuat yang lain malah tertawa terbahak-bahak. Namun, inilah yang membuat keenam anak muda itu merasakan kehangatan seperti sebuah keluarga.

__

Kini keenam remaja itu sudah duduk rapi di meja makan, menyantap berbagai lauk yang tersaji dengan lahapnya.

Suasana meja makan hening tetapi tak dapat dimungkiri bahwa semua orang di sana merasakan kebahagiaan karena bisa berkumpul dan menikmati momen kebersamaan mereka. Meski awal pertemuannya tak begitu baik, tetapi mereka semua mencoba untuk membangun hubungan yang lebih erat mulai saat ini.

Setelah acara makan malam selesai, Ezra, Raka, Sandi, serta Niel, dan Anara kembali berkumpul di ruang tengah. Sedangkan Rafa masih di dapur berniat mengambil air di dalam kulkas.

Saat ingin menutup pintu kulkas, ujung mata Rafa mendapati ada sebuah kue yang masih dalam keadaan utuh. Rafa menatap sendu kue tersebut yang di atasnya bertuliskan kalimat 'Happy Birthday Noah'.

Pemuda itu merasakan kekecewaan ketika orang yang akan ia dan teman-temannya berikan kejutan di hari ulang tahunnya malah tidak hadir.

Niat sebenarnya Rafa mengundang teman-temannya tak lain adalah untuk merayakan ulang tahun Noah. Ia mengetahui kapan hari lahir pemuda itu dari Raka dan untuk itu dirinya berencana untuk membuat kejutan kecil. Namun, sepertinya ia lupa akan satu hal. Tidak seharusnya Rafa membuat pesta di rumahnya, karena pasti Noah tidak akan datang dan ternyata hal itu terbukti benar.

Rafa menghela napas panjang, lantas mengambil kue itu dan membawanya ke tempat teman-temannya berada. Akan sayang jika kue tersebut tidak dimakan dan hanya dibiarkan begitu saja.

Rafa berniat membelikan hadiah untuk Noah besok, meski ia tak yakin kalau pemuda itu akan menerimanya. Rafa berpikir yang terpenting adalah niat baik yang akan ia laksanakannya, tidak peduli reaksi apa yang akan ia dapatkan sekalipun itu adalah umpatan atau bahkan sumpah serapah yang biasa Noah lontarkan padanya.









TBC










_
_
_

Mata Kembar Buta [BxB] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang