Bab 11

2.8K 217 11
                                        

Rafa memandang pantulan dirinya di cermin. Ia membenarkan tataan rambut yang masih basah, lantas membenahi kerah seragamnya.

Hari ini ia bertekad untuk masuk sekolah meskipun kondisinya masih belum pulih, karena mau bagaimanapun keadaannya, dunia akan tetap berjalan seperti biasa, bukan?

Rafa meraih ranselnya yang berada di sofa lalu berjalan keluar dari rumah untuk menuju ke sekolah.

Selama di jalan, Rafa terus memikirkan bagaimana ia akan menjalani hari ini setelah izin tidak masuk selama beberapa hari dan mengabaikan seluruh pesan yang sebelumnya Noah kirimkan.

Skenario buruk mulai terbayang di kepalanya, ia yakin para perundung tidak akan membiarkannya lolos begitu saja.

Setelah sampai di depan gerbang sekolah, Rafa diam sejenak. Ia memegang kedua tali ranselnya, berusaha meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Dengan langkah berat Rafa mulai berjalan memasuki halaman sekolah.

Baru saja beberapa meter beranjak dari tempatnya, kini Rafa kembali terhenti karena segerombolan siswa yang menghadang jalan.

Rafa melihat orang-orang di depannya yang tak lain adalah para perundung. Ia menelan ludah susah payah ketika melihat seringai kecil di wajah Noah.

"Akhirnya si cupu masuk juga," seru Noah sembari berjalan mendekat.

Menyadari posisinya tidak aman, Rafa spontan mundur beberapa langkah. Namun, pergerakannya itu langsung terhenti ketika tangan Sandi hinggap di bahunya dan mencengkeramnya cukup kuat.

"Mau ke mana si pake mundur-mundur segala?" tanya Sandi dengan nada mengejek.

"Biasalah takut itu," timpal Raka yang sedang asyik menonton mereka sambil memakan permennya.

Rafa menundukkan kepala ketika Noah semakin mendekat. Seketika atmosfer yang mengelilingi dirinya menjadi tidak enak dan mencekam.

"Gue tanya sama lu, selama ini ke mana aja? Apa lu sengaja gak masuk biar bisa lolos dari kami?" todong Noah dengan berbagai pertanyaannya.

"Jawab, bangsat!" umpat pemuda itu ketika tidak mendapat respons apa pun dari lawannya.

Rafa menggeleng masih dengan kepala yang tertunduk, tak berani melihat Noah.

Rafa sudah bertekad sebelumnya untuk melawan para perundung. Namun, entah mengapa dirinya tidak memiliki sedikit pun keberanian untuk melakukan hal tersebut. Seakan memang ia adalah makhluk paling lemah dan pantas untuk menjadi bahan bully bagi siswa lain.

Tanpa Rafa dan yang lainnya sadari ada banyak pasang mata yang menyaksikan perisakan ini terjadi. Namun, sekali lagi tak ada satu pun yang berani mengambil tindakan untuk membantu Rafa lepas dari para perundung.

Tiba-tiba sebuah tangan mencekeram dagu Rafa lalu memaksanya untuk mendongak. Ia mendapati wajah Noah yang sudah sangat dekat dengannya.

"Gue pikir lu punya keberanian yang sama besarnya kayak nyokap lu, tapi ternyata gue salah. Lu lebih lemah dari yang gue pikir."

Perkataan Noah barusan berhasil membuat tubuh Rafa bergetar. Ia tahu jika Noah sudah membawa-bawa ibunya pasti pemuda itu akan melakukan hal yang jauh lebih parah dari ini.

"WOI, LEPASIN DIA!"

Semua orang yang ada di sana sontak mengalihkan pandangan ke sumber suara.

Noah menjauhkan tangannya dari dagu Rafa ketika melihat siapa yang meneriakinya tadi.

"Gak usah ikut campur," ucap Noah dingin sembari matanya menatap tajam dua siswi di hadapannya.

Ia tahu siapa kedua gadis itu yang tak lain adalah Niel dan Anara. Sang ketos dan waketos di Pradipta High School.

"Oh, jelas kami harus ikut campur masalah kek gini," balas salah satu siswi ber name tag Niellen Genevieve B.

"Gak usah banyak bacot. Lo babu sekolah mending urusin hal lain," cela Sandi.

"Walaupun kami babu sekolah sengganya berguna, gak kayak kalian yang bisanya cuma bully anak orang," bela siswi dengan name tag Arneyva Anasera.

"Terus kalo kami bully anak orang kenapa? Apa urusannya sama lo?" tantang Noah.

"Lu tolol apa gimana sih? Udah tau gue sama Anara punya tanggung jawab di sini sebagai bagian dari organisasi sekolah," balas Niel.

"Kalian punya jabatan di sekolah ini bukan berarti gue harus nurut perintah kalian," kata Noah.

"Emang susah ya ngomong sama anak mamih yang manja dan selalu berlindung di balik kuasa ortu," sindir Niel.

Noah menarik kasar kerah seragam Niel. Ia sudah tidak dapat lagi menahan emosi setelah mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut gadis itu.

"Lepasin temen gue, njing!" Anara berteriak sembari berusaha menarik tangan Noah agar menjauh dari sahabatnya.

"Kenapa lu marah? Fakta, ya?" Niel tersenyum miring, menantang pemuda di hadapannya.

"Bajingan," geram Noah.

Keduanya saling melemparkan tatapan tajam menusuk satu sama lain hingga akhirnya suara seseorang terdengar.

"Noah, udah lepasin aja. Dia cewek," titah Raka yang sedari tadi hanya diam mengamati.

Noah menoleh sejenak ke Raka lalu dengan terpaksa menjauhkan tangannya dari Niel.

Niel membenahi seragamnya setelah berhasil bebas.

"Lu gapapa?" tanya Anara yang langsung diangguki sang empu.

"Ternyata si anak mamih cuma bisa nurut sama pacarnya doang hahaha," cerca Niel sembari tertawa mengejek.

"Maksud lu apa?" Kini gantian Raka yang bertanya. Jujur saja ia sangat geram dengan gadis itu yang memiliki keberanian untuk melawan mereka.

"Harusnya lu tau maksud gue dan sekarang mending kalian pergi daripada gue laporin ke BK," ancam Niel.

"Kalo lu berdua bukan cewek udah gue habisin sekarang juga," gertak Noah.

Pemuda itu membenturkan bahunya pada bahu Niel lalu berjalan pergi, disusul dengan Raka dan Sandi.

"Halah bacot! Anak kek lo gak bakal bisa apa-apa kalo gak ada uang dan kuasa yang dibuat jadi tameng! Bisanya cuma ngancem doang! Dasar mental patungan!" pekik Niel kepada Noah yang sudah menjauh.







TBC







_
_
_

Mata Kembar Buta [BxB] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang