Bab 8

3.1K 232 23
                                        

Disarankan ketika membaca bab ini sambil mendengarkan lagu "Kau Rumahku"
Biar apa, Kak? Biarin 🥰

✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

Rafa memandang kue ulang tahun di hadapannya. Ia segera memotong kue itu menjadi beberapa bagian dengan ditemani El yang duduk di sampingnya.

Rafa menaruh potongan kuenya ke piring kecil lalu memberikannya ke El sembari terus tersenyum, ia tak dapat menyembunyikan rasa senangnya saat ini.

Jari telunjuknya mencolek krim yang ada di kue tersebut, lalu ia arahkan ke hidung El hingga hidung laki-laki itu pun menjadi putih.

Rafa tertawa puas setelah berhasil menjahili El, terlebih lagi melihat wajah laki-laki itu yang terlihat sangat lucu ketika terkejut.

El menghela napas. Ia berpura-pura kesal tapi sudut bibirnya terangkat menunjukkan sedikit senyuman. Tangannya bergerak untuk menyeka krim di kue. Detik berikutnya krim itu sudah berpindah tempat ke pipi Rafa. Kini gantian El yang tertawa melihat wajah Rafa yang berubah kecut.

"Krim dibalas krim," kata El dengan senyum kecil.

"Oh, oke." Rafa hendak menyeka krim di kuenya, namun El lebih dulu melakukan hal tersebut dan kembali menyekakan krimnya di wajah Rafa.

Ingin melakukannya sekali lagi, tetapi Rafa yang menyadari hal itu pun segera mengambil ancang-ancang untuk kabur.

Ketika El berjalan mendekat, Rafa segera melangkahkan kakinya untuk berlari menjauh dari laki-laki itu.

"Hei, jangan kabur!" teriak El.

El mulai berlari mengejar Rafa, sudut bibirnya tertarik membentuk senyum saat mendengar suara tawa Rafa yang mengisi kekosongan.

"Kejar aja kalo bisa," tantang Rafa.

"Mau main-main denganku, ya?" tanya El ketika Rafa mengejeknya dan terus melarikan diri. Kata-kata Rafa seakan mengobarkan semangat kompetitifnya yang menyenangkan.

"Kita lihat nanti, siapa yang akan tertawa ketika aku sudah berhasil menangkapmu."

Senyuman El semakin melebar seiring langkahnya yang semakin cepat. Langkah kakinya yang panjang membuatnya dengan mudah menutup jarak di antara mereka berdua.

"Tolong aku dikejar singa!" pekik Rafa saat menyadari jaraknya dan El semakin dekat.

Langkah Rafa membawa mereka berdua ke taman belakang. Napas Rafa tersengal-sengal seiring dengan kakinya yang bergerak lebih lambat.

Tiba-tiba sebuah tangan hinggap di pinggang Rafa, tubuh mungilnya terangkat akibat orang di belakangnya.

"Hahaha lepas," pintanya diiringi dengan tawa.

"Gak mau," tampik El. Masih dengan seringai kecil di wajahnya.

Rafa memberontak hingga membuat El terpaksa melepaskan dirinya. Ia menurunkan tubuh Rafa perlahan lalu membaliknya hingga menghadap dirinya.

"Masih mau main-main lagi, hm?"

Rafa menggeleng sebagai respons, kemudian merebahkan tubuhnya dengan beralaskan rumput untuk beristirahat setelah cukup lama bermain kucing dan tikus bersama El.

Ia memandang langit malam yang begitu indah dengan jutaan bintang yang menghiasi, membuat Rafa merasakan damai dalam dirinya.

El ikut berbaring di sebelah Rafa. Mereka saling melemparkan pandangan dan melebarkan senyuman satu sama lain.

Kini Rafa tidak takut lagi jika seseorang meninggalkannya, karena ia memiliki El yang selalu ada untuknya. Laki-laki itu adalah anugerah terindah yang tuhan kirimkan. Ia membuat Rafa menjadi lebih kuat untuk menjalani kehidupan yang teramat kejam setelah 'peristiwa itu' terjadi, serta mengajarkan Rafa untuk tetap menjadi orang yang baik di saat dunia tak berpihak padanya.

El meraih tangan Rafa, lantas menautkan sela jemarinya pada sela jemari Rafa. Ia menatap pemuda di sampingnya dengan senyum hangat, tatapannya dipenuhi kekaguman.

El semakin mengeratkan jemari mereka seraya pandangannya beralih ke atas untuk melihat langit yang sekarang menjadi tontonan pemuda manis di sampingnya.

__

Tak terasa hari telah bertukar kembali. Terlihat Rafa yang tengah berlari kecil menuju rumah. Kini suasana hatinya dalam kondisi yang sangat baik, karena ia habis memberi makan Senja saat tadi sedang menunggu bus untuk pulang sekolah.

Saat ingin membuka gerbang huniannya, tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pundaknya dari belakang. Rafa berbalik dan mendapati wanita setengah baya yang sedang berdiri sambil membawa kotak berukuran sedang yang di dalamnya berisi kue ulang tahun.

"Nak Rafa, tadi ada kurir yang nganter kue ke sini. Katanya si dari ayah kamu dan berhubung kamu-nya lagi sekolah, jadi Ibu deh yang nerima paketnya," tutur wanita itu yang merupakan tetangga Rafa.

"Oh, iya. Makasih banyak, Bu. Maaf jadi ngerepotin." Rafa mengambil kotak kue itu seraya tersenyum hangat.

Ternyata ayahnya masih memperhatikannya walau dari jauh dan bukan secara langsung.

"Iya, sama-sama. Oh iya, Nak Rafa ulang tahun, ya?" tanya wanita tersebut yang langsung diangguki oleh sang empu.

"Selamat ya, doa yang terbaik buat kamu dan sekeluarga," ujar wanita itu.

"Iya, sekali lagi makasih banyak, Bu." Sudut bibir Rafa terus terangkat. Ia sangat bersyukur karena masih ada orang baik di sekitarnya.

Wanita tersebut menepuk pundak Rafa lalu kembali berkata, "Ke rumah Ibu, ya? Ibu masak banyak hari ini, kita makan bareng-bareng sekalian ngerayain ulang tahun kamu. Di rumah juga ada anak Ibu yang seusia kamu."

"Sebelumnya makasih, Bu, tapi aku udah ada janji makan malam bareng temenku," tolak Rafa halus.

Wanita itu mengangguk. "Ya sudah kalau gitu, tapi kapan-kapan mampir ke rumah Ibu ya."

"Iya Bu, nanti kapan-kapan aku main ke rumah Ibu."

Terjadi keheningan setelahnya. Wanita di hadapan Rafa terlihat tengah berpikir dalam diam.

"Ibu boleh nanya sesuatu?"

Rafa diam sejenak lalu mengangguk sebagai jawaban.

"Semalam ada temanmu yang main, ya? Ibu denger suara kamu ketawa-ketawa yang gak kayak biasanya."

"Itu El, Bu. Dia kan memang tinggal sama aku," jelas Rafa.

"Tapi bukannya kamu tinggal sendiri?"








TBC





_
_
_

Mata Kembar Buta [BxB] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang