Bab 19

2.2K 177 9
                                        

Rafa melangkahkan kakinya menuju ruang kelas dengan ditemani suara senandung yang mengalun indah dari dalam mulutnya.

Ketika sampai di depan kelas ia langsung berjalan masuk. Pandangannya mengarah ke satu titik, yaitu ke baris paling belakang. Di sana terjadi hal yang cukup aneh bagi Rafa, karena ia melihat Raka yang sedang fokus membaca buku sembari sesekali dahi pemuda itu berkerut karena tak mengerti materi yang ia baca.

Di atas meja pemuda itu juga penuh dengan Highlighter Pen dengan warna yang berbeda-beda dan banyak buku lainnya. Sedangkan Noah yang duduk di samping Raka memandangnya dengan tatapan seperti biasa, tatapan yang penuh akan cinta. Setelah sebelumnya tatapan itu sempat redup, kini kembali lagi, bahkan jauh lebih mendalam.

Noah terkekeh saat Raka mengerutkan dahi, mencoba memahami apa yang ia baca. Pemuda itu terlihat lucu di matanya, bahkan apa yang dilakukan Raka tak luput dari pandangan Noah.

Sejujurnya Rafa sedikit iri karena Raka mempunyai sosok yang begitu mencintainya seperti Noah. Cinta keduanya samar terlihat namun jelas terasa, berbeda dengan kisah cinta Rafa yang harus berakhir tanpa adanya ucapan selamat tinggal.

Tak ingin hanyut dalam kesedihan masa lalu, Rafa memilih untuk berjalan ke kursinya dan duduk di sana sembari menunggu bel masuk berbunyi.

Sedangkan di bagian lain kelas, tepatnya empat kursi dari baris paling belakang terdapat seorang pemuda yang memandang heran temannya.

"Tumben banget lu belajar. Mau jadi kutu buku kayak Ezra kah?" tanya Sandi, membuat Ezra yang duduk di sampingnya memutar bola matanya jengah.

"Gak lah, asal lu tau aja gue belajar karna mau menang taruhan dari Zerga," balas Raka. Maniknya masih fokus pada setiap kata yang ada di lembar kertas tersebut.

"Lu taruhan apa sama bang Zerga?" Kini gantian Ezra yang bertanya.

Raka menutup bukunya, atensinya langsung beralih ke Ezra. "Taruhan kalo nilai ujian gue bagus, dia bakal beliin gue PS5."

Setelah mengatakan itu, Raka langsung tersenyum senang, membayangkan jika nilainya bisa naik ia akan menguras habis dompet sang kakak.

"Si anjir bisa gitu. Eh, tapi kalo nilai lu di semester ini tetep jelek kek biasa gimana?" tanya Sandi penasaran.

Senyum Raka seketika hilang tergantikan dengan ekspresi masam yang pemuda itu tampilkan.

"Kalo tetep jelek gue bakal jadi babunya selama seminggu. Emang anak anjeng," gerutunya yang langsung mengundang gelak tawa dari Sandi dan yang lain.

"Daripada ngetawain gue, mending kalian bantu jelasin nih materi biar gue paham," cetus Raka.

"Gak bisa. Lu tau sendiri kan nilai gue pas-pasan," timpal Sandi.

"Mau gue daftarin les aja?" tawar Noah yang langsung mendapat gelengan kepala dari Raka.

"Gak, percuma nanti duit gue abis-abis juga buat bayar guru les. Kalo gitu mending langsung buat beli PS," tolak Raka dengan segala pemikirannya yang aneh itu.

"Gue yang bayar."

Raka kembali menggeleng. "Gak ah, mending duitnya lu pake buat hal lain. Lagian juga gue gak bakal lama-lama belajar, orang cuma buat semester ini doang si."

Alasan sebenarnya Raka menolak sebab ia merasa tak enak jika terus melibatkan Noah dalam urusan pribadinya, terlebih lagi ini soal uang. Pemuda itu terhitung sudah cukup banyak mengeluarkan uang untuk Raka, entah untuk membelikan pemuda itu makanan, hadiah, mengajaknya jalan-jalan serta masih banyak lagi. Jika seperti ini rasanya Raka memiliki sugar daddy yang seumuran dengannya.

Sebenarnya Raka sendiri berasal dari keluarga kelas menengah ke atas, tetapi tetap saja Noah akan bersikeras membelikan berbagai hal yang Raka inginkan.

Noah melakukan hal itu karena sejujurnya ia tak tahu harus menggunakan uangnya untuk apa, terlebih ia percaya jika uang bisa membeli kebahagiaan. Entah caranya dengan membelanjakan uang itu untuk membelikan sesuatu dan diberikan ke orang tersayang atau yang lainnya.

Lagi pula neneknya juga mengajarkan hal yang sama. Ada satu kalimat yang selalu neneknya ucapan, yaitu 'habiskan saja uangmu hari ini karna besok pasti sudah tak laku.'

Termasuk ajaran sesat memang, namun jika dilihat lebih saksama keluarga Pradipta tidak pernah sedikit pun merasa kekurangan, terkecuali kekurangan kasih sayang.

"Gue punya ide bagus," celetuk Sandi.

"Apa?" tanya ketiganya serempak.

"Di circle ini kan yang paling pinter itu Ezra, nah gimana kalo dia aja yang ngajarin Raka?" Sandi tersenyum licik ke arah Ezra. Ia akan membuat temannya itu tersiksa karena harus mengajari Raka yang sulit menyerap materi seperti dirinya.

Ezra langsung menggeleng cepat. "Gak, gak. Gue sibuk."

"Kok lu gitu si, Zra?" seru Raka. Bibirnya melengkung ke bawah. Ia menoleh ke arah Noah untuk meminta pembelaan.

Noah terkekeh sebentar saat melihat wajah Raka yang menurutnya lucu jika sedang sedih.

"Lu kenapa malah ketawa, bukannya belain gue gitu." Raka memukul tangan Noah cukup kencang hingga membuat sang empu meringis.

Noah berdehem sejenak lalu mengalihkan atensinya ke Ezra. Sorot matanya mengisyaratkan kepada pemuda itu untuk menuruti permintaan Raka.

"Iya, iya. Gue ajarin," final Ezra, meski nada bicaranya penuh dengan keterpaksaan.

Raka dan Sandi yang mendengarnya langsung bertos ria, merasa senang karena berhasil membuat Ezra setuju.

Dalam hati Ezra merutuki Sandi yang membuatnya harus terjebak dalam hal ini. Sedangkan temannya itu terlihat seperti tidak ada beban setelah berhasil mengerjai Ezra.







TBC





_
_
_

Mata Kembar Buta [BxB] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang