Noah terpaku di tempatnya. Ia memandang sang ibu dengan tatapan tak percaya, sedangkan wanita itu hanya melihatnya datar.
"Uhh, kayaknya Noah salah denger," elak Noah sembari berusaha tertawa.
"Kamu salah dengar? Ya sudah biar Mami ulangi, Mami mau jodohin kamu sama anak teman Mamih," ulang Stevia.
Seketika tawa Noah langsung terhenti, ia menggeleng. "Noah gak mau."
Stevia mengernyitkan dahi. "Apa alasanmu menolak?"
Noah membisu dengan pikiran yang berkecamuk memikirkan seorang pemuda yang begitu ia cintai. Mana mungkin ia menerima perjodohan ini dan meninggalkan Raka yang telah menemaninya selama bertahun-tahun.
"Pokoknya Noah gak mau," tegas Noah sekali lagi.
"Mau gak mau, Mami akan tetap menjodohkan kamu. Lagi pula perempuan yang akan dijodohkan sama kamu itu cantik, jadi gak ada alasan untuk menolak."
"Noah gak peduli mau secantik apa dia, Noah tetap nentang perjodohan konyol ini," tampik Noah yang mengundang ekspresi tak suka dari Stevia.
"Jangan bilang kamu nolak karna pemuda yang sedang duduk bersantai di sofa?"
"Ya, dan Noah cuma mau sama Raka. Kalau gak sama Raka berarti gak sama siapa pun," ucap Noah mantap.
Stevia berdecih. Ia menyunggingkan senyum sinis sembari tangannya meraih miniatur kecil yang terpajang di ruangan itu.
Seraya memainkan miniaturnya, Stevia berkata. "Indahnya kisah cinta remaja."
Di sisi lain, Raka yang merasa bosan setelah cukup lama menunggu Noah akhirnya memutuskan untuk bermain ponsel.
Atensi Raka langsung beralih dari benda persegi itu ke para bodyguard yang berjaga di sudut ruangan. Di rumah besar milik keluarga Pradipta memang banyak sekali penjaganya, bahkan mereka sampai berjaga di sudut ruangan dan kini mereka semua dengan kompak menundukkan badan saat seorang wanita paruh baya tiba-tiba muncul.
Raka sontak bangkit dari duduknya. Ia memandang wanita tersebut yang terlihat sangat elegan, walaupun sudah berumur tetapi wajahnya tampak awet muda.
Raka berjalan menghampiri wanita itu dan memberi salam. "Siang, Omah."
Wanita yang dipanggil 'Omah' itu hanya mengangguk saja. Ia menelisik seisi rumah lalu kembali pada Raka.
"Di mana Noah dan ibunya?"
"Noah ada di ruang kerja Mami," jawab Raka.
Omah hanya mengangguk dan langsung pergi meninggalkan Raka menuju tempat yang sebelumnya Raka beritahukan.
Raka mengernyitkan dahi. Ia bingung kenapa tiba-tiba saja neneknya Noah datang ke sini, padahal wanita itu jarang sekali berkunjung, dan ditambah lagi dengan ibunya Noah yang ingin bicara serius dengan pemuda itu.
Tak ingin ikut campur, Raka memilih untuk kembali ke meja dan mengambil kotak donatnya yang tinggal setengah. Ia berjalan ke sudut ruangan yang terdapat bodyguard berkepala plontos.
"Om botak, Om pasti belum makan, 'kan?" tebak Raka.
"Belum tuan muda."
"Anjir parah banget mertua gue, orang kerja gak dikasih makan," ujar Raka, "ya udah nih, Om, makan donat aja ya. Nanti aku minta Noah buat beliin nasi padang lima bungkus biar kenyang," sambungnya sembari menyodorkan kotak donat itu.
"Gak perlu tuan muda, saya makan nanti saja," tolak bodyguard itu yang merasa tak enak, terlebih lagi majikannya yang disalahkan oleh bocah di depannya ini.
"Gak usah malu-malu elah."
"Udah nih, buat Om aja semuanya." Raka memberikan kotak donatnya ke bodyguard tersebut yang mau tak mau harus pria itu terima.
Di tempat yang berbeda namun di waktu yang sama, Noah masih berusaha untuk menolak perjodohan yang menurutnya konyol dan tidak masuk akal ini.
"Yah, apa pun alasanmu, Mami akan tetap melanjutkan perjodohan ini," putus Stevia sambil meletakkan kembali miniaturnya.
"Mi—"
Ucapan Noah menggantung karena tiba-tiba saja pintu ruangan dibuka dari depan, memperlihatkan seorang wanita paruh baya yang berjalan masuk.
"Omah?" gumam Noah kebingungan.
Wanita itu melirik Noah sekilas lalu beralih ke Stevia.
"Stevia, Ibu sudah dengar semuanya," seru wanita itu, "dan Ibu gak setuju dengan perjodohan ini," lanjutnya.
"Tapi Noah anakku, Bu. Aku mau yang terbaik buat dia," protes Stevia.
"Kamu bukan mau yang terbaik untuknya, tapi kamu mau yang terbaik untuk hubungan pertemananmu, 'kan?"
Stevia diam seribu bahasa, pasalnya yang ibu mertuanya itu katakan sepenuhnya benar. Ia ingin menjodohkan Noah dengan anak temannya hanya karena mementingkan hubungan pertemanan mereka saja tanpa mempertimbangkan faktor lain.
Noah diam menyimak, ia sudah tidak heran lagi dengan kelakuan ibunya ini. Lagi dan lagi ia harus menjadi korban dari keegoisan orang dewasa.
"Pokoknya aku akan tetap menjodohkan Noah, gak peduli Ibu setuju atau nggak," final Stevia.
"Gak bisa seperti itu karna Ibu juga berhak memutuskan yang terbaik untuk cucu Ibu satu-satunya, dan karena itu perjodohan ini gak akan pernah terjadi."
"IBU ITU GAK BERHAK ATAS NOAH!" pekik Stevia penuh emosi.
"Berhenti membantah karena suamimu juga tidak setuju dengan semua ini. Lebih baik kamu pergi ke rumah temanmu itu dan bilang padanya kalau perjodohan di antara anak kalian tidak akan pernah terjalin sampai kapan pun."
Stevia mengepalkan tangan sembari mengatur deru napasnya. Ia memilih pergi dari sana dengan perasaan kesal yang tak dapat disembunyikan. Sekali lagi ia kalah telak dari ibu mertuanya itu.
Setelah sang ibu pergi, Noah memandang Omah dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Omah—" Perkataan Noah menggantung karena Omah lebih dulu menginterupsi.
"Jangan senang dulu. Kamu batal dijodohkan dengan pilihan ibumu tapi bukan berarti kamu tidak dijodohkan dengan pilihan Omah."
TBC
_
_
_
KAMU SEDANG MEMBACA
Mata Kembar Buta [BxB] ✓
General Fiction⚠️BxB Rafael Melviano, seorang pemuda biasa yang selalu mendapat perundungan dari teman sekelasnya. Entah dosa apa yang telah ia perbuat hingga pantas mendapat luka berupa umpatan yang menyayat jiwa dan kekerasan fisik yang menghunus raga. Meski bat...
![Mata Kembar Buta [BxB] ✓](https://img.wattpad.com/cover/377370638-64-k442536.jpg)