Bab 17

2.3K 174 3
                                        

Ezra melangkahkan kakinya menuju suatu tempat. Ia sangat panik ketika Raka mendatanginya dan berkata kalau Rafa tengah berkelahi.

Ia sangat mengkhawatirkan pemuda itu dan entah dapat keberanian dari mana Ezra segera mendatangi kelas kosong yang sebelumnya Raka bilang.

Ketika sampai di sana, Ezra tak menemukan orang yang ia cari, dirinya hanya mendapati Sandi yang sedang mengusap darah di sudut bibirnya dan Noah yang tengah duduk bersandar pada dinding sambil menenggelamkan wajahnya di lutut.

Ezra dan Raka berjalan mendekat ke keduanya.

"Lu gapapa, San?" tanya Ezra cemas melihat wajah Sandi yang bonyok.

"Pake nanya," balas Sandi, melirik Ezra sinis. Yang dilirik hanya menghela napas gusar.

"Noah," panggil Ezra. Ia bingung mengapa Noah menyembunyikan wajahnya dengan tubuh yang bergetar.

Noah tak menjawab, ia tetap diam dalam kesunyian yang kini menyelimuti keempat pemuda itu.

Suasana ruangan seketika menjadi tak nyaman, seakan memberi tanda bahwa sang penghuni yang tengah berada di sana dalam keadaan terluka.

Raka bersimpuh di depan Noah, ia mengusap surai pemuda itu penuh sayang.

"Noah ...," lirihnya yang masih tak mendapat respons dari sang empu.

Raka meletakkan tangannya di kedua sisi wajah Noah dan membuat pemuda itu mendongak menatapnya. Manik yang biasanya memandang Raka penuh cinta kini telah redup ditutupi oleh luka dan air mata.

"Gue di sini," ucap Raka lalu membawa Noah ke dalam rengkuhannya.

Ia paham ketika Noah menangis kemungkinan besar pemuda itu mengingat lagi luka lamanya. Sebelas tahun mereka telah bersama jadi tidak sulit untuk mengetahui apa penyebab pemuda itu terisak.

Noah menenggelamkan wajahnya pada dada Raka sembari meremas ujung seragam yang Raka kenakan. Tangisnya semakin pecah ketika akhirnya ia mendapat tempat nyaman untuk menumpahkan segala rasa sakitnya.

"Jangan takut ditinggal lagi, gue di sini buat lu dan selamanya akan selalu begitu," tutur Raka sembari mengelus punggung Noah untuk menenangkannya.

Ezra menatap nanar kedua temannya, ia tak mengerti dengan situasi saat ini dan apa yang telah menyebabkan Noah menunjukkan sisi rapuhnya yang sebelumnya tak pernah pemuda itu tunjukkan.

Setelah beberapa saat menangis dalam dekapan Raka, Noah akhirnya bisa kembali tenang. Ia menjauhkan tubuhnya dari Raka dan menyadari seragam Raka yang telah basah akibat tangisannya.

"Seragam kamu basah, Ra," seru Noah merasa bersalah.

Raka yang mendengarnya tersenyum kecil. "Gapapa, yang penting lu udah ngerasa baikan sekarang."

Noah mengulum bibirnya, ia menatap Raka dengan tatapan sendu. "Maaf ..."

Raka mengernyitkan dahi. "Maaf karna?"

"Maaf karna gue lemah, maaf gue selalu ngerepotin lu dan yang lain." Noah tertunduk, air matanya siap meluncur kembali, namun sebelum itu Raka lebih dulu menangkup wajah Noah hingga mereka berdua saling tatap.

"Lu gak lemah. Apa yang lu rasain itu wajar, cuma cara lu aja yang salah ... dan jangan pernah bilang kalo lu ngerepotin karna itu sama sekali gak bener," ungkap Raka lalu mengecup manik Noah bergantian.

"Ulu-ulu~ romantisnya mama-papa," celetuk Sandi yang berada di samping Ezra. Bocah itu bahkan tak bisa melihat situasi.

__

"Mah, Raka pulang!" teriak Raka ketika baru saja menginjakkan kaki di dalam huniannya.

"Gak usah teriak-teriak, nyet."

Raka menatap nyalang laki-laki yang sedang duduk santai di sofa sambil memainkan ponsel.

"Suka-suka gue lah," balasnya.

"Eh, anak Mama udah pulang. Loh ini temen-temenmu?" ucap seorang wanita yang tak lain adalah ibunya Raka. Ia terlihat begitu antusias saat mendapati teman-teman anaknya yang bertamu.

"Siang, Tante," sapa ketiganya bersamaan.

"Siang juga. Ayo duduk, duduk. Sudah lama Tante gak ketemu kalian." Anasera meraih lengan Noah dan menariknya untuk duduk di sofa.

"Kamu minggir sana, ini anak kesayangan Mama mau duduk," usir Anasera kepada laki-laki yang tadi sempat menyahuti Raka. Lelaki itu tak lain adalah Zerga—anak sulungnya.

"Iya, iya. Nih aku pindah," sahut Zerga malas.

"Tante, kok aku gak disuruh duduk juga?" Sandi nyeletuk sambil memasang ekspresi sedih di wajahnya.

"Eh, iya, iya, maaf. Tante sampe lupa kalo ada kamu sama Ezra. Sini duduk Nak, nanti Tante masakin makan malam buat kalian." Anasera langsung membawa Sandi dan Ezra untuk mengistirahatkan tubuh mereka di sofa.

Anasera terlihat sangat antusias menyambut ketiganya. Ia sangat senang ketika Raka membawa teman-temannya main ke rumah, terlebih lagi jika itu Noah. Ia sangat menyayangi Noah sudah seperti anaknya sendiri, bahkan memperlakukannya dengan sangat baik karena Noah yang merupakan teman masa kecil Raka dan selalu menjaga anak bungsunya itu.

"Sebentar ... kenapa wajah kalian lebam begini?" tanya Anasera khawatir, ia mengamati wajah Noah dan Sandi bergantian.

"Tawuran paling," celetuk Zerga.

"Mulut lu!" geram Raka. Ia melemparkan bantal sofa ke arah kakaknya itu yang malah tertawa puas.

"Hahaha canda elah. Sensi amat si, mentang-mentang pacar lu." Zerga melirik Raka dan Noah bergantian sembari tersenyum menggoda.

"Bacot, yang jomblo mending diem-diem aja." Raka melirik sang kakak sinis.

"Sudah, sudah. Raka tolong ambilin kotak P3K buat obatin lukanya," suruh Anasera yang langsung dipatuhi sang anak.

Ia terlihat khawatir dengan keadaan Noah dan Sandi. Firasatnya mengatakan jika keduanya bertengkar entah dengan siapa dan berakhir seperti ini. Dasar anak muda, selalu saja menghadapi segala hal dengan kekerasan. Pikirnya.








TBC







_
_
_

Mata Kembar Buta [BxB] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang