Bab 35

1.8K 153 6
                                        

Raka mamandang langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong, sedangkan tangannya tak hentinya memberikan usapan lembut pada kepala Noah yang tengah menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher Raka.

Hal yang sedari tadi menggerayangi otaknya tak dapat lagi ia tahan. Dengan suara sedikit serak Raka bertanya, "Noah, lu masih inget kalo gue ngajuin satu permintaan, 'kan?"

"Hm, mau apa? Bilang aja, gue bakal turutin semuanya," jawab Noah lalu mengecup pipi Raka.

Raka diam sejenak, ia menggigit bibir bawahnya gugup. "Gue mau lu berdamai dengan masa lalu, termasuk memperbaiki hubungan lu sama Rafa."

Kata-kata itu berhasil membuat Noah tersentak dan langsung menjauh dari Raka. Sebelumnya ia tak mengira jika persyaratan yang hendak Raka ajukan adalah hal tersebut.

"Gak usah dilanjut, gue mau ke toilet." Noah mulai melangkah ke arah toilet yang ada di dalam kamar Raka. Ia berusaha menghindari pembahasan yang sensitif baginya.

Raka meremas jari-jemarinya saat Noah berusaha menghindar, tetapi meskipun begitu, ia akan tetap menumpahkan semuanya saat ini juga. Sebab ketika melihat Noah yang terus menyimpan rasa benci terhadap Rafa seolah menorehkan luka dalam dirinya.

Raka hanya ingin semuanya menjadi lebih baik. Sudah cukup mereka terluka oleh orang yang sama. Kini saatnya untuk membuka lembaran baru, tempat di mana seseorang dapat menata lagi hidupnya tanpa diiringi oleh rasa dendam.

"Noah, gue tau lu ngerasa sakit sama apa yang udah dilakuin nyokapnya Rafa, tapi lu gak bisa ngehakimin Rafa hanya karna dia anak dari perempuan yang lu benci."

Noah tertohok, kalimat itu mampu menghentikan langkahnya. Ia diam membeku di tempat dengan pikiran yang melayang mengingat kejadian masa lalunya, serta semua perlakuan buruk yang ia berikan untuk Rafa.

"Lu gak paham, Ra. Nyokap dia udah buat perempuan yang paling gue sayang pergi."

"Kita udah sebelas tahun bareng, Noah. Dan gue saksi dari semua rasa sakit itu ... gue sadar selama ini yang udah kita lakuin ke Rafa itu salah, dan secara gak sadar kita ngasih luka baru ke orang lain yang bahkan dia juga korban ..."

Sudah cukup selama ini Raka hanya diam saat Noah kesulitan menerima masa-masa suram yang pernah pemuda itu lewati. Sekarang ia akan berusaha membantu Noah untuk berdamai dan memperbaiki semuanya.

Hening sebentar, Raka menarik napasnya dan lanjut berbicara dengan suara yang mulai bergetar.

"Lu gak bisa terus-terusan mikul beban itu selamanya. Cepat atau lambat seseorang pasti bakal pergi, dan jangan sampe kita hidup dalam penyesalan karna biarin semua rasa sakit itu ngalir terus-menerus ...." Raka menjeda ucapannya. Ia mengatur napasnya yang mulai terasa sesak.

"Meski masa-masa itu sulit buat dilupain, tapi senggaknya dengan berdamai, ngebuat kita gak terus-terusan terjebak di dalamnya," lanjutnya lirih.

Raka menatap lekat punggung Noah seiring dengan air mata yang mulai turun tanpa diminta. Sedangkan Noah mengeraskan rahangnya dengan tangan yang terkepal kuat.

Noah perlahan membalikkan tubuhnya. Matanya mendapati Raka yang berdiri diam, tak jauh darinya. Sorot mata pemuda itu begitu dalam, seolah menyimpan kekecewaan yang begitu besar padanya.

Noah mendekat, meraih tubuh Raka dan menariknya ke dalam pelukannya. Seolah menyalurkan energi dan kekuatan untuk cintanya, meski pada nyatanya ia lah yang membutuhkan itu semua.

Raka menyatukan dahinya ke dada Noah sembari menangis. Tangannya terangkat untuk memukul bahu Noah guna menyalurkan semua rasa sakit dan sesak yang semakin mendera.

Mata Kembar Buta [BxB] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang