Bab 14

2.5K 211 8
                                        

Rafa mengusap peluh yang membanjiri dahinya akibat berlari keliling lapangan selama lima belas menit lamanya. Ia menyipitkan mata ketika sinar matahari pagi membuatnya silau. Dengan kaki yang tak memakai alas, Rafa terus berlari mengabaikan rasa lelah.

Pemuda itu memandang orang-orang yang sama sedang berlari mengelilingi lapangan seperti dirinya. Kini Rafa sedang mengikuti kelas bela diri untuk pertama kalinya.

Setelah berbicara dengan Ethan membuat Rafa jadi tahu harus mulai dari mana. Ia segera mendaftar di salah satu kelas bela diri yang ada di luar sekolah. Sebenarnya di sekolahnya pun menyediakan ekstrakurikuler yang sama. Namun, Rafa tak ingin secara terang-terangan untuk mencoba hal ini, karena bisa saja para perundung kembali mengucilkannya saat mengetahui Rafa mencoba untuk belajar melindungi dirinya sendiri.

"Heh, siapa yang nyuruh kamu buat jalan?! Saya minta kamu lari! Jangan lembek jadi cowok!" bentak seorang pria yang merupakan guru di sana.

Orang yang ditegur itu kembali berlari sekuat tenaga. Rafa yang melihatnya jadi semakin bertekad untuk menyelesaikan pemanasannya dengan baik agar tidak mendapatkan teguran juga, jujur saja kelas ini melatih mental para muridnya.

__

Hari demi hari telah berlalu, kini kedua manik Rafa berbinar menatap semangkuk soto di depannya. Saat ini ia sedang berada di kantin untuk makan siang.

Baru saja ingin menyantap makanannya, tiba-tiba datang tiga orang siswa menghampiri mejanya. Rafa tak memedulikan kehadiran Noah dan teman-temannya itu, ia lebih memilih untuk memakan sotonya sebelum dingin.

"Woi, Rafa," panggil Sandi namun tak mendapat respons apa pun dari sang empu.

"Pindah. Ini meja gue," titah Noah sembari memberikan tatapan mengintimidasi.

Rafa menghela napas lelah. Ia meletakkan garpunya ke atas meja dengan keras lalu menatap Noah malas.

"Sejak kapan meja ini punya kamu?" tanyanya.

Noah menggerakkan kepadanya ke samping lalu tersenyum miring. "Lu nantangin gue?"

Alis Rafa bertaut ketika mendengar pertanyaan itu. "Aku gak nantangin, aku cuma nanya."

"Halah banyak bacot. Buruan pergi sebelum gue pake kekerasan buat ngusir lu," ancam Noah.

"Gak mau. Aku duluan yang dapet meja ini," tolak Rafa, "lagi pula kalian masih bisa duduk di meja lain," lanjutnya.

Setelah selesai mengatakan itu, tiba-tiba saja cairan berwarna cokelat mengguyur ke mangkuk soto Rafa hingga membuat kuah soto tersebut berubah warna. Rafa mendongak, menyaksikan Sandi yang menuangkan es milo ke dalam makan siangnya.

Belum sempat menyerap kejadian barusan, tiba-tiba seseorang dari arah belakang mencekeram rambut Rafa lalu menghantamkannya ke mangkuk dengan keras, sehingga membuat wajah Rafa kotor dan juga terasa panas ketika bersentuhan dengan kuah makanan tersebut.

Seketika seisi kantin menjadi hening setelah menyaksikan kejadian barusan. Seluruh siswa yang ada di sana, termasuk Raka terdiam ketika Noah menghantamkan kepala Rafa begitu keras. Mereka biasa melihat pemuda itu merisak siswa lain, namun kali ini yang dilakukan pemuda itu sudah kelewatan.

"Mampus, makan tuh soto campur milo!" kelakar Sandi yang disambut gelak tawa dari Noah, tetapi tidak dengan Raka.

Pemuda itu hanya diam dan terlihat lelah dengan kelakuan dua temannya yang membuat seluruh pasang mata memandang ke arah mereka.

Memalukan. Satu kata yang ada di benaknya.

Rafa mengusap wajahnya yang basah, beruntung soto yang tadi ia pesan tidak pedas jadi tidak begitu parah melukai kulitnya.

Rafa mengambil mangkuk soto yang tinggal sedikit isinya karena tadi sempat tumpah dengan gerakan cepat, lalu berbalik dan menuangkannya ke wajah Noah, membuat pemuda itu mematung dengan keadaan kepala yang sudah dipenuhi oleh mi dan seragam yang basah.

Rafa kembali berbalik lalu mengambil es jeruknya, lantas mengguyur Sandi dengan minuman tersebut.

Semua orang yang ada di kantin menganga melihat itu. Rafa, siswa culun yang selalu ditindas oleh kawanan perundung akhirnya membalas perbuatan mereka di depan semua orang.

Beberapa dari mereka berharap pemuda itu mengeluarkan sisi pemberontaknya yang lebih besar lagi untuk memberikan pelajaran kepada para perundung, karena jujur saja mereka juga sudah muak dengan para pemuda itu yang selalu bertindak semaunya.

Rafa mengepalkan tangan di sisi tubuh, dadanya naik turun menahan emosi yang coba ia bendung. Dengan mata yang memerah ia melirik Noah tajam.

"Puas?" tanyanya.

"Bangsat," geram Noah. Manarik paksa kerah seragam Rafa.

Satu tangannya sudah berada di udara hendak mendaratkan bogem mentah ke lawannya. Namun, suara bisik-bisik dari para siswa dan siswi yang melihatnya dengan tatapan aneh berhasil membuat Noah menurunkan tangannya perlahan.

Ia melangkah pergi keluar dari kantin dengan perasaan malu karena korbannya berani melawan, ditambah penampilannya yang dibuat kacau seperti ini. Sebelum benar-benar pergi, Noah menyempatkan diri untuk menendang salah satu kursi yang ada di sana hingga terbalik, membuat semua orang kembali berbisik mengenai dirinya.

"Sok petantang-petenteng, giliran ditantang kayak ayam sayur."

"Kalo gue jadi dia malu tuh."

"Jelas, gak pernah dilawan tapi sekalinya dikasih paham gitu deh."

Raka melirik sekilas sekumpulan gadis yang sedang menggosipkan mereka. Ia memilih untuk tak menanggapi dan menarik tangan Sandi untuk keluar dari kantin.

Setelah para perundung pergi, suara sorak-sorai dan tepuk tangan memenuhi seisi kantin. Seluruh siswa dan siswi memandang Rafa dengan senyum yang terpatri di wajah mereka, bahkan sampai ada yang memberikan pemuda itu jempol.

Mereka semua mengapresiasi tindakan Rafa yang sudah berani melawan para perundung.

Rafa mengarahkan pandangannya ke penjuru kantin, memperhatikan para murid yang memberikannya sorakan sebagai bentuk apresiasi membuat ia kikuk, tetapi sesaat kemudian ia menundukkan badannya sebagai tanda terima kasih.

"THAT'S MY MAN!"

Semua sontak menoleh ke arah seorang gadis yang sedang berdiri di atas kursi seraya mengacungkan sendoknya ke udara dengan manik yang mengarah pada Rafa.

Melihat Anara si waketos yang begitu bersemangat membuat mereka semua kembali bersorak untuk gadis itu.

"Udah ya njing. Lu yang kayak gitu gue yang malu," ujar Niel sambil menutupi wajahnya dengan satu tangan.

Rafa menyunggingkan senyum tipis melihat Niel dan Anara. Mereka adalah salah satu orang yang membuatnya berani membela diri dari perisakan yang terjadi. Ia bersyukur bisa bertemu dengan kedua gadis itu.








TBC







_
_
_

Mata Kembar Buta [BxB] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang