Bab 22

2.2K 175 3
                                        

Raka memandang seorang pemuda yang tengah curi-curi pandang ke arah Rafa. Orang itu tak lain adalah Ezra yang sedari tadi tak hentinya bolak-balik melihat Rafa saat dirinya lengah.

Ketiganya masih berada di perpustakaan dan bukannya fokus pada bukunya, Raka malah menaruh anensi pada Ezra. Ia menyadari ada sesuatu dalam tatapan yang Ezra layangkan ke Rafa yang sedang menulis dan sama sekali tidak sadar jika dirinya tengah ditatap begitu dalam oleh Ezra.

Kilauan yang tepancar dari manik Ezra seolah memberitahu Raka jika pemuda itu sedang jatuh cinta. Jangan tanya kenapa Raka bisa mengetahui hal ini, karena dirinya sendiri sering mendapat tatapan penuh puja dari Noah.

"Rafa," panggil Raka.

Yang dipanggil namanya sontak mendongak. "Kenapa? Ada yang gak kamu pahami?"

Raka menggeleng, ia melirik Ezra sekilas lalu kembali ke Rafa. "Lu balik sama siapa?"

"Aku pulang sendiri, kenapa emang?"

"Kata Ezra pulang bareng dia aja, nanti dianter sampe rumah," balas Raka dengan senyum penuh arti. Sedangkan Ezra yang tidak merasa bilang begitu hanya bisa melongo di tempat. Mulutnya hendak mengeluarkan suara tetapi Raka lebih dulu menginterupsi.

"Iya kan, Zra, lu mau nganter Rafa pulang?"

Rafa menoleh ke arah Ezra, air wajahnya seolah meminta penjelasan pemuda itu.

"Ah, iya, gue mau ngajak Rafa pulang bareng." Pernyataan itu keluar begitu saja dari mulut Ezra.

Raka menarik sudut bibirnya, tersenyum penuh arti ketika Ezra berhasil masuk ke dalam rencananya.

"Sebelumnya makasih tapi gak usah repot-repot, aku bisa naik bus kok," kata Rafa yang langsung mendapat gelengan dari Raka.

"Gak, gak. Sesekali lu pulang bareng kami gitu, jangan naik bus butut mulu," protes Raka.

"Tapi—"

"Udah gak usah ada tapi-tapian segala, kasian tuh Ezra udah berharap lu mau pulang bareng dia." Raka menunjuk Ezra dengan dagunya, sementara pemuda itu hanya diam pasrah.

Rafa kembali melihat Ezra yang kini tersenyum kikuk. Ia diam sejenak lalu berkata, "Aku beneran boleh pulang sama kamu, Ezra?"

"I-iya boleh." Sial, baru kali ini Ezra gugup ketika berbicara dengan orang lain. Ia ingin sekali mengumpati Raka, tetapi di sisi lain dirinya berterima kasih pada pemuda itu karena sudah membantunya untuk mendekati Rafa.

Raka tersenyum puas, ia mengerti perasaan yang Ezra taruh ke pemuda manis di hadapannya. Dan mungkin mulai sekarang dirinya akan mendukung hubungan mereka.

"Udah yuk lanjut lagi," ajak Raka yang diangguki keduanya.

__

"Raf, gue minta lu dateng ke sini karna ada yang mau gue bahas."

Suara Raka mengambil alih seluruh perhatian Rafa. Ia sudah menebak sedari awal Raka memintanya datang ke taman menjelang sore hari untuk membahas sesuatu.

"Gue mau ngucapin makasih sekaligus minta maaf sama lu," terang Raka.

"Makasih udah mau bantu gue buat belajar. Karna lu, sekarang gue jadi suka sama hal ini dan terkesan kalo gue nikmati segala ilmu yang gue pelajari," sambungnya.

Rafa tersenyum simpul, ia turut senang atas Raka yang mulai menikmati proses belajarnya dan tidak hanya untuk mengejar nilai agar mendapatkan barang yang pemuda itu inginkan.

"Sama-sama. Aku ikut seneng dengernya," balas Rafa tulus.

Hening sesaat, tak ada lagi obrolan di antara keduanya hingga suara Raka memecah kesunyian yang menyelimuti.

"Gue minta maaf, Raf. Selama ini gue udah jahat sama lu, bahkan di saat lu gak ngapa-ngapain ...," ungkapnya melirih.

"Gue tau gak mudah buat maafin orang brengsek kayak gue yang udah buat lu tersiksa dan ketakutan setiap kali ke sekolah, tapi gue tulus bilang gini."

"Setelah ngelakuin hal buruk tapi lu masih aja baik ke gue rasanya gue tertampar dan tersadar kalo gue salah. Bukan cuma Noah yang sakit di sini, tapi lu juga. Kalian sama-sama diterjang luka dari orang yang sama dan itu pasti gak mudah—" Raka menggantung ucapannya, sedangkan Rafa masih setia mendengarkan dalam diam.

"Gue masih inget persis di malam saat Noah dateng ke rumah gue dengan keadaan kacau. Baju dan badannya basah karna nerjang hujan di malam itu cuma buat nemuin gue. Di saat dia ngeliat gue, dia langsung nerjang tubuh gue dan mulai terisak. Badan dia juga dingin dan gemetar hebat. Di situ gue bingung dia kenapa, tapi pas udah mulai tenang dia cerita kalo bibinya meninggal gantung diri ...," tutur Raka, memelankan suaranya di empat kata terakhir.

Raka menarik napas sejenak, mengingat kejadian di saat Noah datang menghampirinya dengan membawa kabar duka.

Raka tahu saat itu yang dibutuhkan Noah adalah pelukan dan kata-kata penenang dan hanya Raka lah yang mampu memberikan itu semua. Bahkan di saat terpuruk sekalipun keluarga pemuda itu tidak ada di sisinya.

"Gue sedih pas tau hal itu dan mikir pasti sulit jadi Noah yang harus kehilangan sosok penting di hidupnya, terlebih lagi ortunya yang gak begitu peduli sama dia. Tapi sekarang gue sadar kalo ini semua bukan kesalahan lu, Raf. Yang berbuat itu nyokap lu dan gak sepantasnya gue sama yang lain nyalahin lu atas semua ini, dan untuk itu ... gue minta maaf."

Raka menatap manik cokelat terang milik Rafa, ia memandang dengan tatapan teduh. Sungguh Raka begitu menyesal atas apa yang telah ia perbuat selama ini.

Rafa menarik sudut bibirnya membentuk senyum kecil. Ia merasa lega karena Raka sudah sadar dan tidak lagi menganggapnya sebagai pelaku dari semua masalah yang telah terjadi.

"Aku udah maafin kamu, Ra, bahkan jauh sebelum kamu minta maaf," ucap Rafa.

Raka terhenyak, ia dibuat makin merasa bersalah sekarang. Pemuda manis itu benar-benar membuatnya terharu karena mau menerima permintaan maafnya.

Raka menggeser duduknya kemudian menerjang tubuh Rafa dan memeluknya dari samping. "Makasih, makasih banyak lu udah mau berbaik hati buat maafin gue."

Rafa kembali tersenyum, kali ini senyumnya lebih lebar dari sebelumnya. Ia membalas pelukan Raka dengan lembut.

Di sisi lain, tanpa keduanya sadari ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan. Netra elangnya menatap dua insan itu dengan emosi yang tak tertahan.

Rasa cemburu menguasai dirinya saat menyaksikan sang kekasih memeluk pemuda lain yang sangat ia benci. Tanpa berniat menghampiri keduanya, lelaki itu memilih pergi tanpa menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi.










TBC










_
_
_

Mata Kembar Buta [BxB] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang