Semilir angin sore menerpa tubuh seorang pemuda manis yang kini tersadar dari pingsannya.
Dengan tatapan sendu, pemuda itu menatap langit yang kini berwarna oren kemerahan, pertanda bahwa ia sudah cukup lama tak sadarkan diri di rooftop sekolah.
Dengan langkah gontai, ia menuruni satu per satu anak tangga, berniat kembali ke kelas untuk mengambil tasnya. Sepanjang jalan dirinya tak menemukan satu orang pun di dalam gedung sekolah, tak mengherankan, karena memang sekolah telah berakhir sejak 30 menit yang lalu.
Setelah mengambil tasnya, Rafa hendak berbalik untuk keluar kelas. Namun, kepalanya lebih dulu menoleh ke arah empat kursi di baris paling belakang. Pandangannya terpaku ke keempat kursi tersebut, yang mana tiga di antaranya merupakan kursi milik para perundung dan satunya lagi milik Ezra.
Hanya dengan memandang benda tersebut mampu membuat bola mata Rafa berembun dan tangannya gemetar. Kepalanya tertunduk, jemarinya meremat kuat celana yang ia kenakan. Tetes demi tetes air mata mulai mengalir membasahi wajah lebamnya dan disusul dengan isakan yang keluar tanpa diminta.
Rafa ingin sekali berteriak bahwa ia sudah lelah, rasanya sudah tidak sanggup lagi untuk sekadar berhadapan dengan tiga pemuda itu yang membuat kehidupan sekolahnya seperti di neraka.
Dirinya merasa frustrasi. Ia udah sangat muak menjadi korban perisakan di sekolah elite ini. Menjadi pintar, memiliki paras rupawan, dan hati yang baik, serta harta sekalipun tidak bisa menjamin semua hal akan berjalan sesuai dengan keinginan kita.
Jika boleh jujur, Rafa memiliki satu impian sedari dulu. Ia sangat ingin berteman dengan para perundung, kerena tidak dapat dimungkiri jika dirinya merasakan sedikit kehangatan saat bersama mereka. Aneh memang, tapi jika sedang bersama keempat pemuda itu dirinya jadi merasa mempunyai teman dan tidak kesepian lagi, apalagi saat mereka membuat lelucon dan tertawa bersama.
Namun, apa boleh buat jika takdir seolah tidak merestuinya untuk menjadi teman dari keempat pemuda itu, tetapi malah sebaliknya. Ia harus menjadi korban yang lemah dan sama sekali tidak bisa melawan ketika ditindas.
Rafa menyeka air matanya, lantas menarik nafas panjang. Mencoba menghentikan tangisan yang semakin lama membuat dadanya terasa sesak.
Ia berjalan keluar kelas setelah merasa lebih baik. Kakinya terus melangkah hingga membawanya melewati parkiran sekolah yang sudah sepi. Dari sudut matanya dapat ia lihat ada motor sport berwarna hitam yang masih terparkir rapi di sana, juga seorang pemuda yang duduk di atas motor itu.
Tidak terlalu memedulikan, Rafa memilih untuk terus berjalan keluar dari parkiraan dan menuju halte bus yang tidak terlalu jauh dari gedung sekolah.
Kepalanya sedikit ia tundukkan ketika orang-orang yang berlalu-lalang melihatnya dengan tatapan aneh. Mungkin tidak semestinya seorang pelajar berpenampilan kacau seperti dirinya yang terdapat luka lebam di wajah, juga seragamnya yang lusuh.
Ketika sudah sampai di halte, Rafa menarik sudut bibirnya ke atas membentuk senyum tipis. Ia berjongkok untuk mengelus seekor kucing berbulu oren yang terlihat sangat menggemaskan.
Pemuda itu membuka tasnya untuk mengambil makanan kucing yang selalu dibawanya ke mana-mana, barangkali ia bertemu kucing liar yang kelaparan seperti sekarang.
Sudah sejak lama Rafa menyukai kucing, tetapi ia tidak pernah memeliharanya sendiri, dan itu sebabnya dirinya selalu bermain dengan kucing liar yang ia temui di jalan. Dengan bermain bersama makhluk menggemaskan ini dapat membuat suasana hatinya menjadi jauh lebih baik.
Cukup lama Rafa menunggu bus yang tak kunjung datang hingga membuatnya bosan, tetapi untungnya ada makhluk berbulu oren yang setia menemaninya, atau mungkin lebih tepatnya setia pada makanan yang telah Rafa berikan.
Tangan mungilnya terulur untuk mengelus bulu kucing itu yang sedang sibuk menyantap makanannya dengan lahap.
"Karena sekarang langit senja, jadi aku bakal kasih kamu nama Senja. Namanya bagus, 'kan?" tanya Rafa yang mana langsung dibalas dengan geraman keras dari kucing itu, seolah tidak setuju dengan nama yang diberikan pemuda di hadapannya.
Rafa menaikkan alis, mulutnya hendak mengeluarkan pertanyaan lain tetapi ia urungkan karena bus yang sedari tadi ia tunggu sudah tiba.
Sebelum melangkah memasuki bus tersebut, Rafa lebih dulu menepuk-nepuk kepala Senja dengan lembut, memberikan salam perpisahan kepada kucing itu.
Di sisi lain, seorang pemuda yang sedang bertengger di atas motor tak dapat menahan senyum ketika menyaksikan interaksi Rafa dengan kucing liar tadi.
Walaupun hanya menyaksikan hal itu dari kejauhan ia tetap merasa bahagia sekaligus lega, sebab orang yang ia dicintai masih bisa menerbitkan seulas senyum di saat kondisinya tidak baik-baik saja.
Setelah beberapa saat, akhirnya pemuda itu kembali mengendarai motornya setelah bus yang tadi ditumpangi Rafa sudah tidak lagi terlihat.
Ia melajukan kendaraannya menjauh dari halte setelah memastikan orang yang sedari tadi ia khawatirkan sudah dalam perjalanan pulang.
Walaupun tidak bisa mengawasi serta menjaganya dari dekat, dirinya akan tetap mencoba melindungi pujaan hatinya itu meski dari kejauhan, sebab hanya itu yang bias ia lakukan.
TBC
_
_
_
KAMU SEDANG MEMBACA
Mata Kembar Buta [BxB] ✓
Ficção Geral⚠️BxB Rafael Melviano, seorang pemuda biasa yang selalu mendapat perundungan dari teman sekelasnya. Entah dosa apa yang telah ia perbuat hingga pantas mendapat luka berupa umpatan yang menyayat jiwa dan kekerasan fisik yang menghunus raga. Meski bat...
![Mata Kembar Buta [BxB] ✓](https://img.wattpad.com/cover/377370638-64-k442536.jpg)