Bab 27

2K 157 8
                                        

"Aku mau undang kalian besok buat makan malam. Kalian mau, 'kan?"

Pertanyaan yang keluar dari mulut Rafa secara tiba-tiba berhasil membuat semua orang menoleh ke arahnya.

"Ada acara apa emangnya?" tanya Niel sebelum meminum airnya.

"Cuma acara makan malam biasa kok," jawab Rafa, "kalian jangan lupa datang ya," lanjutnya dengan tatapan memohon.

Sandi menimpali, "Pasti kita dateng, lagian kapan lagi bisa makan gratis. Iya, gak?"

"Yeh, pikiran lu makanan mulu," celetuk Niel.

"Serah gue lah." Sandi memasang raut wajah songong yang berhasil menyulut emosi Niel.

"Bocah freak kayak dia gak usah diajak."

"Wah, bocah songong. Liat aja nanti gue yang bakal dateng pertama ke rumahnya Rafa dan bakal ngabisin semua makanan sebelum lu dateng," ancam Sandi.

"Noh kan, emang udah paling bener gak usah ngajak dia," tutur Niel.

"Nyenyenye." Sandi menirukan ekspresi ikan julid di salah satu film Barbie yang pernah ia tonton.

Keduanya terus berdebat dengan disaksikan teman-teman yang lain. Niel yang keras kepala dan Sandi yang tak mau kalah merupakan perpaduan yang sangat pas untuk membuat telinga siapa pun yang mendengarnya seolah ingin meledak.

Rafa melirik ke arah Anara yang malah tertawa kegirangan saat menyaksikan perdebatan Sandi dan Niel, bahkan tak hanya gadis itu saja yang tertawa, melainkan Raka juga.

Rafa menoleh ke arah Ezra, ia memandang pemuda itu sesaat sebelum matanya bergulir untuk melihat ke Noah, lantas kembali lagi pada Ezra.

Ezra yang mengerti akhirnya mengangguk, berusaha meyakinkan Rafa yang terlihat ragu. Rafa mengulum bibirnya sebelum akhirnya kembali melihat Noah yang sibuk memainkan ponsel.

"Noah, aku harap kamu mau ... datang juga sama kayak yang lain," serunya.

Tak ada jawaban dari sang empu, walaupun Rafa yakini kalau pemuda itu mendengarnya. Hingga tiba-tiba saja sebuah tangan meraih tangan Rafa yang ia letakkan di atas meja, dan mulai mengusapnya dengan lembut.

Rafa tersenyum kecil ke Ezra. Apa yang dilakukan pemuda itu seolah menyalurkan kekuatan sekaligus untuk menghiburnya.

Dirinya terlalu berharap besar, sedangkan Noah mana sudi menginjakkan kakinya di kediaman Arlingga, mengingat hubungan mereka yang belum juga membaik.

"Tenang aja, Raf. Noah bakal dateng sama gue nanti. Ya, 'kan?" Raka menyenggol lengan Noah dengan sikunya agar pemuda itu merespons.

"Gak—"

"IYA!" pekik Raka, memotong ucapan Noah.

Ia menatap Noah tajam, kilatan matanya seolah mengisyaratkan sebuah peringatan, hingga mampu membuat sang lawan bicara mengangguk pasrah.

"Ya, tapi gue gak janji," putus Noah.

Rafa tersenyum senang. Selain Noah mau menerima undangannya, ia juga mengulas senyum karena Noah begitu penurut jika bersama Raka.

__

"YAHAHAHA LING-NYA NYANGKUT!"

"EH, KURANG AJAR!"

"SINI LO BANGSAT!"

Anara menatap jengah kedua makhluk yang sedang bertengkar hingga bermain kejar-kajaran itu.

Ia tak habis pikir dengan Sandi yang sangat suka mengganggu Niel, dan begitu juga dengan Niel yang selalu saja emosi jika berada di dekat pemuda itu. Contohnya saja saat ini, ia, Niel, dan juga Sandi sedang mabar tetapi karena Niel memakai karakter di game yang tidak biasa ia gunakan pun membuatnya kesulitan, tetapi bukannya diberi kata-kata agar ia semangat dan semacamnya, Sandi malah mengejek gadis itu terus-menerus hingga membuatnya kehilangan kesabaran.

"JANGAN KABUR LO SHIBAL!"

"TAK DAPAT TANGKAP, TAK DAPAT TANGKAP!"

Suara keduanya memenuhi seisi ruangan, membuat Anara mau tak mau angkat bicara.

"Jangan berisik, kita di rumah orang!" tegas Anara, mengingat mereka tengah bertamu di rumah Rafa.

Anara menghela napas lelah, tak ada dari mereka yang mau mendengarkannya. Niel masih saja mengejar Sandi yang berlari sambil tertawa terbahak-bahak.

Anara pikir kunjungan pertama mereka ke rumah Rafa akan menjadi kunjungan terakhir, sebab orang tua Rafa pasti sangat muak dengan kebisingan ini.

Setelah beberapa saat berlari mengejar Sandi yang masih saja mengejeknya membuat Niel sedikit kelelahan dan berakhir dengan pijakan kakinya yang tak tepat pada lantai sehingga membuatnya jatuh terduduk.

"Nah kan, mampus," ujar Anara yang masih nyaman duduk di sofa. Ia tak berniat untuk menolong sahabatnya itu.

Sandi yang semula berlari bak orang kesetanan kini berhenti dan berjalan menghampiri Niel yang masih terduduk di lantai sambil memegangi kakinya yang sakit.

Tanpa diduga, Sandi mengulurkan tangannya hingga membuat Niel mengernyit bingung. Namun, walau begitu, ia tetap berusaha meraih tangan pemuda itu untuk membantunya berdiri.

Begitu tangan Niel hendak mencapai tangan Sandi, tiba-tiba saja pemuda itu menekuk empat jarinya dan hanya meninggalkan satu jari yang berdiri tegak. Jari tersebut tak lain adalah jari tengah.

Niel mendongak untuk melihat wajah Sandi yang sekarang terlihat menyebalkan berkali-kali lipat dari biasanya, tak lupa juga senyum meledek pemuda itu yang terpatri.

"Sialan."

Gadis itu segera menarik lengan Sandi hingga membuatnya jatuh terduduk di lantai. Setelah berhasil membuat Sandi sejajar dengan tingginya, Niel langsung menjambak rambut pemuda itu dengan kuat, hingga membuat Sandi mengaduh kesakitan.

"Masih mau ngeledek gue lagi, hah?!" Niel menguatkan cengkeramannya, membuat kepala Sandi otomatis mendongak ke atas.

"Akhh sakit! Lepas, lepas!" raung Sandi, merasa kepalanya akan botak jika dibiarkan dalam posisi seperti ini.

"Jawab dulu!"

"I-iya, iya ... ampun."

Sebenarnya Niel tak ingin melepaskan Sandi, tetapi kehadiran sang pemilik rumah, yaitu Rafa yang berjalan dari arah dapur dengan membawa nampan berisi cemilan, berhasil membuat Niel mau tak mau harus membebaskan Sandi.

"Awas lu sekali lagi gangguin gue," peringat Niel sembari menjauhkan tangannya dari kepala Sandi.

"Dasar psikopat," gumam Sandi seraya mengusap-usap kepalanya.










TBC






_
_
_

Mata Kembar Buta [BxB] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang