Bab 15

2.6K 194 8
                                        

Seorang pemuda yang berada di pojok kantin memandang datar kerumunan siswa-siswi yang masih bertepuk tangan untuk Rafa, sebagai bentuk apresiasi mereka terhadap pemuda itu.

Ethan berdecih ketika sudah benar-benar muak melihat kelakuan mereka semua.

"Manusia munafik. Selama ini mereka cuma diem pas liat ada anak dibully, tapi sekarang mereka semua seolah jadi pendukung setia korban," tuturnya.

Awalnya Ethan merasa bersemangat ketika menyaksikan para perundung yang mendapatkan balasan dari Rafa. Namun, setelah mendengar suara riuh sorakan, seketika suasana hatinya langsung berubah drastis.

Ethan bangkit dari duduknya. Ia berjalan keluar kantin dengan langkah lebar, meninggalkan orang-orang munafik yang membuatnya ingin muntah.

Rafa yang menyadari kepergian Ethan pun mengekori pemuda itu untuk membahas sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman.

__

BRAKKK!

Ezra tersentak kaget saat mendengar suara yang begitu keras dari arah luar. Saat ini ia sedang berada di dalam toilet sekolah untuk menyelesaikan panggilan alam.

Tak lama setelah suara pintu dibanting itu terdengar, kini suara yang lebih nyaring seperti pecahan kaca yang jatuh menghantam lantai mengisi kesunyian hingga memekakkan telinga Ezra.

"ARGHH BANGSAT!"

Ezra segera keluar dari dalam bilik toilet ketika suara terikan seseorang yang begitu familier menyapa indra pendengarannya.

Seketika tubuhnya mematung dengan mata yang melebar saat menyaksikan pemandangan di hadapannya. Noah, pemuda di depannya itu terlihat sedang mengepalkan tangan dengan kuat hingga urat tangannya tercetak jelas, bahkan kepalan tangannya itu mengeluarkan cukup banyak darah hingga menetes dan mengotori lantai.

Kaca wastafel juga sudah pecah berkeping-keping yang Ezra yakini bahwa itu adalah ulah temannya.

"Kenapa lu di sini?"

Ezra terperanjat ketika Noah mengajukan pertanyaan kepadanya dengan ekspresi yang sulit diutarakan.

Belum sempat menjawab, perhatian keduanya lebih dulu teralihkan pada pintu toilet yang tiba-tiba terbuka. Menampilkan Raka dengan Sandi yang setia mengekorinya dari belakang.

Raka berhenti tepat di depan Noah. Ia melirik Ezra sekilas lalu mengamati pecahan kaca di lantai, juga beberapa tetes darah segar yang terus mengalir dari tangan Noah.

Mata pemuda itu seketika menjadi merah karena marah setelah menyadari apa yang telah Noah lakukan.

"GOBLOK! BISA GAK SI LU KALO LAGI EMOSI GAK USAH NGELUKAIN DIRI SENDIRI?!" sewot Raka sembari menatap Noah nyalang.

Yang ditatap hanya diam, tak berani membantah sedikit pun.

"Gak usah minta obatin sama gue," ucap Raka lalu berbalik, hendak pergi dari sana namun tangan Noah lebih dulu menahan lengan pemuda itu.

"Ra, kok lu yang marah?" Dengan bodohnya Noah mengajukan pertanyaan tersebut hingga membuat Raka kembali melayangkan tatapan tajam.

"Ya lu pikir lah tolol! Gimana bisa gue gak marah kalo setiap kali emosi, lu selalu ngelampiasin ke diri sendiri dan berakhir luka-luka!"

"Dikira gue gak khawatir apa, bangsat!" sambungnya.

Hening untuk beberapa saat, tak ada yang membuka suara termasuk Ezra dan Sandi yang hanya bisa saling pandang.

Beruntung, hanya ada mereka berempat di dalam toilet, jadi pertengkaran ini tidak disaksikan oleh orang lain.

Setelah beberapa saat diselimuti oleh kesunyian yang canggung, akhirnya suara seseorang memecah keheningan di antara mereka.

"G-gue minta maaf," ujar Noah, berhasil membuat Ezra dan Sandi menganga.

Seorang Noah Orian Pradipta yang dikenal sebagai pemuda dengan sisi pemberontak yang tinggi serta ego yang tak terkalahkan tunduk di hadapan Raka.

Bahkan selama mereka berteman, Ezra dan Sandi tidak pernah sekali pun melihat Noah meminta maaf kepada orang lain selain Raka. Mau seburuk apa pun perlakuan ia kepada orang lain, pemuda itu seakan tak sudi marapalkan kata maaf meskipun itu adalah kesalahannya.

"Zra, boleh minta tolong ambilin seragam di loker Noah?" tanya Raka sambil memegangi tangan Noah yang terluka. Ia juga menyuruh pemuda itu melepas seragamnya yang basah.

Tak dapat dimungkiri bahwa Raka merasa cemas dengan kondisi Noah sekarang, karena mau bagaimanapun pemuda itu adalah kekasihnya.

Ezra mengangguk. "Bentar gue ambillin."

Baru saja hendak menyentuh gagang pintu, suara Sandi berhasil membuat Ezra terhenti.

"Gue ikut, sekalian mau ambil seragam juga."

Ezra dan Sandi berjalan beriringan menuju tempat tujuan, mereka meninggalkan Noah dan Raka berdua.

Sebenarnya Ezra bingung dengan situasi saat ini. Ia tak mengerti apa yang terjadi hingga membuat Noah begitu marah dan juga siapa yang telah berani melakukan hal tersebut, sebab saat tadi bel istirahat berbunyi Ezra tidak ikut teman-temannya ke kantin, melainkan pergi ke toilet dulu dan berniat akan menyusul setelah selesai dengan urusannya.

Untuk menjawab rasa penasarannya, Ezra memberanikan diri untuk bertanya pada Sandi.

"Baju lu kenapa bisa basah, San?" tanya Ezra. Mencoba menggunakan topik lain untuk memancing jawaban yang ia inginkan dari temannya itu, sebab ia yakin hal ini berhubungan dengan kemarahan Noah.

"Disiram es jeruk gue sama si Rafa. Emang pepek," jawab Sandi, mencoba menahan emosi ketika ingatan beberapa menit lalu terlintas kembali di pikirannya.

Ezra mengernyitkan dahi. "Kok bisa? Emangnya lu ngapain?"

"Gue, Raka sama Noah pas di kantin minta dia buat pindah meja, tapi dia gak mau dan akhirnya gini deh. Si Noah disiram soto dan gue mandi es jeruk. Raka doang jir yang aman," tutur Sandi.

Ezra terdiam, ia tak menyangka jika Rafa benar-benar melakukan hal itu. Rafa yang selama ini ia kenal sebagai pemuda rapuh yang tak punya cukup keberanian untuk memberontak. Namun, sepertinya pandangan mengenai pemuda itu akan berubah setelah kejadian ini.








TBC






_
_
_

Mata Kembar Buta [BxB] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang