Bab 33

1.6K 149 8
                                        

"Kenapa lu masih aja temenan sama mereka?"

Rafa membuang pandangan ke arah lain begitu orang di depannya kembali menanyakan hal yang sama.

Ia sedang berada di belakang sekolah dengan Ethan yang memaksa untuk datang ke sini bersama karena ada yang ingin pemuda itu bicarakan. Namun, setiap kata yang keluar dari mulutnya bagai omong kosong yang lenyap di udara.

"Gue udah pernah bilang sebelumnya kalau mereka itu yang bikin lu trauma sampe kayak gini." Ethan kembali berucap. Entah mengapa karena dirinya sempat membantu Rafa dan membuat pemuda itu bangkit, jadi ia menganggap bahwa dirinya juga punya hak untuk menerapkan batasan dalam hidup pemuda itu.

"Lu aneh, Raf. Seharusnya lu balas dendam ke mereka, bukannya malah temenan sama para bajingan itu," ujar Ethan. Nada suaranya terdengar jengkel.

"Aku udah pernah bilang kalau aku gak mau balas dendam, Ethan. Aku cuma mau damai aja ... kamu gak ngerti," lirih Rafa dengan manik yang menatap Ethan penuh harap.

Ia ingin Ethan mengerti apa yang dirinya rasakan, sebab dengan balas dendam apa yang akan dirinya dapatkan selain luka baru? Bahkan bisa saja luka itu tak hanya membekas dalam hatinya, tetapi juga bisa merantai ke orang lain hingga meninggalkan lubang mengangga yang lebih dalam lagi.

Ethan mencibir, "Kalo ada penghargaan buat orang tolol, lu berhak dapet penghargaan itu."

Rafa meremas celana yang ia kenakan. Kini pelupuk matanya sudah penuh akan air mata begitu hatinya merasakan sakit ketika mendengar pernyataan Ethan barusan.

"Sebenernya apa yang lu cari dari mereka, hah? Kenapa kesannya lu mendekat ke mereka buat dapet perhatian?"

Rafa tertunduk ketika kata-kata itu kembali menghunusnya. Tak dapat dimungkiri bahwa apa yang dikatakan Ethan ada benarnya. Ia memang butuh perhatian dan kehangatan saat sedang bersama orang-orang tersayang, karena jujur saja sedari kecil Rafa hampir tak pernah mendapatkan hal itu.

"Kalau pun hal itu bener, tapi lu gak bisa terus gini, Raf," seru Ethan, "rasa sakit itu harus dilampiasin dan gak bisa selamanya dipendam. Mau sekuat apa pun lu, tapi suatu saat luka itu bakal muncul lagi atau bahkan bisa aja bikin seseorang jadi trauma dan depresi. Dan untuk itu, balas semua perlakuan pembully yang udah bikin lu sakit bahkan hampir gila," sambungnya.

"Aku gak sakit dan aku gak gila," sangkal Rafa dengan nada yang terdengar sangat menjengkelkan di telinga Ethan.

"Lu sakit."

Rafa menggeleng. "Gak, aku gak sakit."

"Lu sa—"

"NGGAK! AKU GAK SAKIT!"

"LU SAKIT, GOBLOK! MANA ADA ORANG SEHAT YANG MAU TEMENAN SAMA PERUNDUNGNYA DULU DAN BOHONGIN DIRINYA SENDIRI?!" maki Ethan tepat di depan wajah Rafa, hingga membuat pemuda itu memejamkan mata dan menutup kedua kelinganya dengan tangan.

"LU SAKIT, RAF! SAKIT!" pekik Ethan dengan napas yang memburu. Dadanya naik turun karena emosi yang sudah sampai pada puncaknya.

Rafa terus menutup kedua telingannya seraya memejamkan mata kuat. Apa yang dikatakan Ethan benar. Rafa sakit.

"Nggak ...." Tanpa sadar manik indah itu meluruhkan air mata yang sedari tadi coba ia tahan. Tangisan yang disertai dengan raungan pilu tersebut mengisi udara yang terasa semakin dingin.

Ethan mendorong tubuh Rafa ke dinding hingga membuatnya terbentur cukup keras. Ia mencekram dagu pemuda itu, memaksa agar Rafa membuka kelopak mata dan melihat tepat ke arahnya.

Lantas, Ethan mendekatkan bibirnya ke telinga Rafa dan berbisik, "Ini peringatan terakhir. Jauhi mereka atau lu bakal terima akibatnya."

"Jangan harap lu bisa bahagia setelah berhasil manggil gue ke dalam hidup lu. Lu cuma milik gue, jadi gak boleh ada yang nyiksa dan nyakitin lu selain gue."

Ethan membelai pipi Rafa lalu tersenyum miring. "Ayo akhiri ini secepatnya dan setelah itu kita pergi ke tempat yang jauh. Tempat di mana kita bisa liat seseorang yang sebenarnya gak pernah ada di dunia, tapi hidup di jiwa orang yang terluka."

Setelah mengatakan itu, Ethan meletakkan jari telunjuknya di bawah dagu Rafa dan membuat pemuda itu mendongak dengan air mata yang sudah memenuhi hampir seluruh bagian wajahnya.

"Cantik," gumam Ethan, "tapi gue yakin bakal lebih cantik lagi ketika wajah ini penuh sama darah dari para monster yang udah ngehancurin hidup lu," lanjutnya.

Kedua tangan Rafa sudah bergetar hebat di bawah sana. Ia tak tahu harus apa, sebab dirinya sama sekali tidak bisa melawan atau membantah Ethan. Seolah semua energinya telah habis terkuras hanya dengan berhadapan dengan pemuda itu.

Perlahan Ethan berjalan mundur, menjauh dari Rafa. Lantas berbalik dan beranjak pergi dengan senyum penuh arti yang masih tercetak jelas.

Sementara itu, Rafa merasa seluruh tubuhnya lemas dan tak memiliki tenaga lagi. Trauma masa lalunya seakan bangkit setelah Ethan memperlakukannya dengan demikian.

"Apa benar aku sakit ...?" monolognya seiring dengan air mata yang kembali turun membasahi pipi.

"Rafa!"

Saat sedang memandang kosong ke arah tanah, tiba-tiba saja suara seseorang memanggil nama Rafa dari kejauhan terdengar. Namun, tak dapat membuat sang empu mengalihkan pandangan, sebab sudah terlalu hanyut dalam alam bawah sadarnya.

Ezra berlari menghampiri Rafa dan berhenti tepat di depannya. Ia menundukkan kepala untuk melongok wajah Rafa. Ezra tertegun untuk sementara waktu begitu melihat Rafa yang terus menangis dalam diam.

Ia menarik pemuda itu dalam dekapannya. "Kenapa? Ada sesuatu yang buat kamu sedih?"

Bukannya menjawab, Rafa malah semakin kencang menangis. Ia meremas seragamnya untuk menyalurkan semua rasa sesak yang semakin mendera.

Sedangkan Ezra yang menyadari kalau Rafa semakin terisak dalam rengkuhannya hanya bisa mengusap punggung pemuda itu sembari mengeratkan pelukannya.

"Gapapa nangis aja. Luapin semuanya," seru Ezra.

"Aku di sini," lanjutnya.

Pikiran Rafa melayang begitu mendengar kalimat tersebut. Dirinya kembali mengingat jika Ethan mengatakan bahwa dirinya sakit dan ia harus membalas semua lukanya selama ini. Namun, saat melihat Ezra rasanya tak mampu Rafa melakukan semua itu. Jangankan balas dendam, berniat untuk menyakiti orang lain saja Rafa tak pernah terpikir.

Salahkah jika dirinya hanya ingin hidup damai tanpa harus membalas kejahatan yang orang-orang perbuat padanya selama ini?










TBC









_
_
_

Mata Kembar Buta [BxB] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang