Alunan musik lembut senandung yang keluar dari mulut seorang pemuda manis mengisi keheningan sebuah taman yang indah. Rafa, pemuda itu berjalan di atas rerumputan dengan El di sisinya.
Berada di taman belakang rumah untuk sekadar menghabiskan waktu bersama dan menikmati indahnya langit senja dengan suara gemerisik dedaunan yang terkena hembusan angin selalu berhasil membuat Rafa merasakan damai dalam dirinya.
"Aku tahu, aku harus mengatakannya," ucap El, "kamu terlihat sangat cantik sekarang, berjalan melalui taman dengan sinar mentari yang menyinari rambutmu dan senyuman di wajahmu," sambungnya.
Rafa menoleh ke samping, menatap El tak percaya. Ia mulai merasakan panas yang menjalar di area pipinya.
"Hahaha lucu."
"Apa sih!" Rafa membuang muka. Tidak ingin El melihat wajahnya yang sudah bersemu merah.
El yang memuji Rafa cantik memang ada benarnya, walaupun ia adalah laki-laki tetapi tidak dapat dimungkiri bahwa Rafa memiliki wajah yang tak kalah cantik dengan perempuan. Tubuh mungil, surai pendeknya yang halus, iris cokelat terang yang indah, serta bibir tipisnya bisa membuatnya tampak cantik di mata siapa pun yang melihat.
Setelah beberapa saat mengitari area taman, akhirnya Rafa dan El mendudukan diri mereka di ayunan sembari mengamati matahari sore yang hendak bertukar peran dengan bulan yang sebentar lagi akan muncul.
Rafa mengedarkan pandangan ke sekeliling taman. Pandangan matanya terhenti ketika melihat ke arah bunga-bunga yang bermekaran.
Ia segera bangkit dan berjalan menghampiri bunga-bunga itu. Memandang semua bunga di sana lalu berjongkok untuk melihat lebih dekat pada salah satu bunga, lantas ia memetik bunga itu dengan hati-hati.
Setelah mendapat bunga yang diinginkan, Rafa bergegas menghampiri El yang sedang berjalan ke arahnya. Ia berhenti tepat di depan El, kemudian menyodorkan tanaman tersebut.
"Untukku?" tanya El yang langsung diangguki sang empu.
El tersenyum lembut lalu mengadah untuk menerima bunga itu. Rafa yang melihatnya segera meletakkan bunga tersebut di telapak tangan laki-laki itu. Namun, ada yang aneh di sini. Rafa terdiam ketika melihat bunga itu jatuh ke rerumputan, yang artinya bunga tadi menembus tangan El hingga berakhir tergeletak di tanah.
Rafa mendongak untuk melihat El yang anehnya sudah tidak ada di depannya.
"El?" lirihnya sembari mengedarkan pandangan ke penjuru taman.
Rafa berdiri dalam diam. Ia merasakan ada yang janggal sekarang. Bagaimana bisa El tiba-tiba menghilang dari hadapannya secepat itu?
Setelah beberapa saat mematung, akhirnya Rafa menyadari sesuatu. Seakan semua benang merah kasat mata ini sudah menemukan jalurnya di kepala pemuda itu.
Ia merasakan kakinya lemas hingga tak dapat menopang berat badannya dan berakhir jatuh terduduk di tanah.
"Gak, ini gak mungkin," sangkalnya, "El gak mungkin cuma teman imajinasiku ...," lanjutnya dengan suara gemetar.
Rafa buru-buru bangkit lalu berlari ke dalam rumah. Ia memandang seisi rumah yang terasa asing sekarang. Saat berjalan ke ruang tamu, ia mendekati sebuah bingkai foto dirinya dan El.
Dengan tangan yang gemetar, Rafa meraih bingkai foto tersebut.
"Gak mungkin ...." Air mata mulai mengenang di pelupuk mata pemuda itu saat melihat bingkai foto yang hanya ada dirinya di sana. Sendiri, tanpa El. Tanpa laki-laki yang begitu berarti baginya.
"Apa aku gila?" gumamnya pada diri sendiri.
Rafa meraba sofa di sampingnya untuk menopang tubuhnya yang sudah terasa sangat lemah. Ia duduk di sana dengan kepala yang bersandar pada punggu sofa, serta mata yang terpejam.
Kini kepingan puzzle mulai terkumpul membentuk fakta baru yang sangat sulit untuk diterima oleh Rafa.
Mulai dari orang-orang yang memandangnya aneh saat sedang bersama dengan El, hingga terakhir kali tetangganya berkata bahwa ia tinggal sendiri. Seakan El memang benar-benar tidak ada karena memang ia hanya singgah di pikiran Rafa dan tidaklah nyata.
__
Beberapa tahun yang lalu
Seorang pria tengah berdiri sembari mengepalkan kedua tangan di sisi tubuh. Menatap penuh marah pada wanita di hadapannya.
"Dari mana saja kamu?"
"Bukan urusanmu," balas wanita itu ketus.
"Aku suamimu, Zenora!" Arlingga mengatur napasnya yang menggebu-gebu. Ia benci saat istrinya selalu pergi dari pagi sampai malam dan tak mengurus anak mereka.
"Lalu apa? Aku tak pernah menganggapmu sebagai suami, jadi berhenti mengekangku!" Zenora menatap tajam Arlingga.
"Jika kau memang membenciku tidak apa, tapi tolong berikan perhatian untuk Rafa. Dia anakmu."
"Dia bukan anakku."
"ZENORA!"
"AKU TAK PERNAH MENGINGINKAN ANAK SIALAN ITU! JADI BERHENTI MENYEBUT DIA ANAKKU!"
Arlingga bungkam mendengar kalimat yang keluar dari mulut istrinya. Ia tahu sedari dulu Zenora memang tidak mencintainya, tapi haruskah dia mengatakan bahwa ia tak menginginkan kehadiran putra mereka?
"AKU BENCI KAU DAN PERNIKAHAN INI!" Zenora membanting vas bunga yang ada di atas meja dengan keras kemudian berlalu begitu saja, meninggalkan Arlingga yang masih diam membisu.
Di sisi lain, di balik pintu sebuah kamar terdapat seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang sedang mengintip ke luar untuk menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Ia menahan air mata yang hendak turun membasahi wajahnya.
Dengan langkah kecil, Rafa berlari keluar dari rumah besar itu. Tak sanggup lagi menyaksikan orang tuanya yang selalu bertengkar dan menyisakan goresan luka di dalam dirinya.
Langkahnya terhenti di sebuah taman yang sepi. Ia duduk di sebuah ayunan sembari
menundukkan kepala, tak peduli lagi akan bahaya yang kapan saja bisa menghampiri.
Rafa sangat ingin memiliki keluarga yang harmonis seperti yang selalu diceritakan teman-temannya saat di sekolah. Namun, sepertinya hal itu hanya bisa jadi angan-angannya saja.
Ingin sekali rasanya ia punya orang yang bisa memperlakukannya dengan baik serta menyayanginya dengan tulus seperti yang didapatkan anak-anak lain.
Di bawah cahaya lampu yang menerangi taman itu, Rafa melihat sebuah siluet di depannya. Ia mendongak dan mendapati seorang anak laki-laki yang sedang menatap ke arahnya.
Mengamati lebih dalam, Rafa menyadari betapa tampannya anak itu. Dengan rambut hitam halus dan manik abunya yang memancarkan kilatan saat terkena cahaya dari lampu taman.
"Aku boleh main sama kamu?" tanyanya dengan senyum manis yang terpatri.
Rafa diam sejenak, namun akhirnya ia mengangguk tanda mengizinkan. Ia mengamati anak laki-laki itu yang terlihat senang saat dirinya memperbolehkannya untuk bermain bersama.
Anak itu mendudukan diri di ayaunan samping Rafa. Jika dilihat lagi, anak laki-laki itu memiliki usia beberapa tahun lebih tua dari Rafa.
Terjadi keheningan di antara mereka, hingga akhirnya ada yang membuka suara.
"Oh iya, nama kamu siapa?"
"Rafa. Kalau kamu?" Rafa balik bertanya.
"Aku El," jawab anak itu sembari tersenyum hangat.
Sebuah senyum yang akhirnya menjadi awal mula perjalanan yang panjang dan menghabiskan begitu banyak emosi dalam diri seorang Rafael Melviano.
TBC
_
_
_
KAMU SEDANG MEMBACA
Mata Kembar Buta [BxB] ✓
Fiksi Umum⚠️BxB Rafael Melviano, seorang pemuda biasa yang selalu mendapat perundungan dari teman sekelasnya. Entah dosa apa yang telah ia perbuat hingga pantas mendapat luka berupa umpatan yang menyayat jiwa dan kekerasan fisik yang menghunus raga. Meski bat...
![Mata Kembar Buta [BxB] ✓](https://img.wattpad.com/cover/377370638-64-k442536.jpg)