"Lu mainnya yang bener, jangan jadi beban. Nggak di emel gak di dunia nyata, gue mulu yang gendong."
Rafa memutar bola matanya jengah, pasalnya sedari tadi Sandi tak hentinya mengoceh mengenai lomba voli balon air yang diadakan sekolah untuk memperingati 17 Agustus, yakni hari kemerdekaan negeri kita tercinta.
Satu kelompok dengan Sandi untuk mewakili kelasnya membuat Rafa sedikit kepikiran, jika mereka kalah bisa saja Sandi menyalahkannya.
Rafa mengedarkan pandangan ke sekeliling lapangan yang luas. Ada banyak sekali orang dengan warna pakaian yang sama, yakni baju bebas berwarna merah, dan dresscode itu tentunya telah ditentukan oleh sekolah.
Banyak dari mereka yang memberi semangat kepada para siswa yang sedang mengikuti lomba balap karung. Rafa terkekeh melihat para siswa yang biasa mengenakan helm mahal dengan motor mereka untuk berkendara di jalan dengan keren, tetapi sekarang mereka malah menggunakan helm tersebut untuk balap karung.
"Selanjutnya lomba voli balon air. Dipersilakan untuk kelas XI MIPA 2 dan XII MIPA 4 segera ke lapangan."
Suara dari panitia lomba mengambil alih perhatian Rafa, ia segera diseret oleh Sandi menuju lapangan. Pemuda itu terlihat sangat bersemangat sekaligus tidak sabar untuk mengalahkan kakak kelasnya.
"Semangat anak-anakku!" seru Raka dari tepi lapangan. Ia berdiri di samping Noah, keduanya sudah terlihat seperti orang tua yang menyemangati anak-anaknya.
Ezra yang ada di dekat mereka hanya memutar bola matanya malas, ia sudah muak dengan jokes papa-mama ini.
Ketiga pemuda itu tidak ikut lomba kali ini sebab sudah ada teman kelas mereka yang lebih dulu mendaftar untuk ikut serta dalam perlombaan tersebut, sedangkan Rafa dan Sandi adalah pilihan wali kelas mereka.
Rafa memperhatikan panitia yang mulai membagikan kain pada para peserta. Di masing-masing kelompok terdapat enam orang yang bermain dan juga berpasangan. Rafa berpasangan dengan Sandi dan mendapat satu kain, begitu pula dengan empat orang lainnya yang berada di tim mereka.
Permainan voli balon air ini dilakukan dengan cara menaruh balon air ke kain atau sarung dan melemparnya ke daerah lawan. Jika ingin mendapatkan poin, balon air harus jatuh ke daerah lawan. Ketika balon air keluar dari daerah lawan maka kelompok lawan lah yang mendapatkan poin.
Rafa meneguk ludahnya ketika Sandi menatapnya dengan tajam, seolah mengisyaratkan bahwa mereka harus memenangkan permainan ini. Rafa benar-benar heran dengan pemuda itu, padahal perlombaan ini hanya untuk senang-senang, tetapi sisi kompetitif pemuda itu terlalu banyak mengambil alih.
"Satu, dua, tiga ... mulai!"
Suara dari panitia kembali terdengar bertepatan dengan tangan Rafa dan Sandi yang mulai melempar balon air ke daerah lawan.
Balon itu melambung melewati net dan berhasil mendarat di dalam kain lawan dengan selamat. Kini gantian kelas XII yang menyerang balik dengan melemparkan balonnya ke tim Rafa.
Sandi yang melihat balon itu melambung ke arahnya segera berlari menghampiri sambil merentangkan kain di tangannya. Tetapi bukannya mendarat di atas kain itu, balon berwarna biru berisi air itu malah menghantam kepala Sandi hingga menyebabkan isinya tumpah, alhasil kepala dan tubuh pemuda itu basah kuyup.
Sandi menunduk ketika bulir air menetes dari rambutnya. Tatapan matanya seketika menjadi nyalang. Rafa yang melihat hal tersebut hanya bisa melongo di tempat.
"Bajingan," desis Sandi.
Permainan kembali berlanjut dan ketika balon yang baru ada di tim Rafa, Sandi segera meletakkannya di kain dan langsung mengayunkannya sekuat tenaga, bahkan sampai membuat Rafa kesulitan untuk mengimbangi tenaganya.
Dengan emosi yang menggebu-gebu, Sandi segera melempar balon air itu hingga terbang tinggi dan mendarat tepat di wajah kakak kelasnya. Sama yang terjadi pada Sandi tadi, balon itu pecah hingga menyebabkan isinya keluar, bahkan lebih parahnya lagi kaca mata kakak kelasnya itu sampai lepas dari tempatnya.
"HAHAHA MAMPUS!" teriak Sandi puas karena bisa membalas kakak kelasnya itu yang tadi melakukan hal serupa padanya.
"Mainnya jangan ganas-ganas lah, Bang," ujar seorang pemuda dari pihak lawan.
"Nih, ngomong nih sama pantat," sahut Sandi sambil menepuk bokongnya, tak lupa juga ia menunjukkan wajah mewingnya dengan ekspresi ala-ala Sigma Boy. Tingkah konyolnya itu didukung oleh lagu serupa yang sedang OSIS putar hingga terdengar seantero sekolah.
Rafa berusaha menahan tawanya agar tidak pecah, pasalnya Sandi terlihat sangat tengil sekarang, dan ditambah lagi saat ia melihat kakak kelas yang tadi terkena balon air malah tertawa sambil memegangi perutnya.
Bahkan setelah kegebok balon air pun ia masih sempat-sempatnya memberi makan humor recehnya itu.
Permainan akhirnya dilanjutkan dan tanpa diduga, setelah kejadian tadi Sandi jadi lebih bersemangat untuk mengatur strategi bersama Rafa agar bisa mencetak poin paling banyak. Tanpa keduanya sadari, hal itulah yang membuat mereka menjadi sedikit lebih dekat.
Hingga karena kerja sama tim yang baik, kelompok mereka berhasil memenangkan perlombaan.
Rafa tersenyum bahagia saat panitia mengumumkan keberhasilan mereka dalam lomba kali ini, begitu pun dengan Sandi yang sampai melompat-lompat kegirangan. Ia bahkan merangkul bahu Raka, seolah mereka sudah sangat akrab sebelumnya.
"Gila, keren juga main lu, Raf," puji Sandi sambil berjalan keluar dari lapangan.
"Rafa gitu loh!" sahut Rafa percaya diri, tak lupa juga dengan kekehan kecil yang keluar dari mulutnya.
Sandi menyunggingkan senyum lalu mengacak surai Rafa gemas.
"Rafa, Sandi, nih boss!"
"Senggol dong!"
Setelahnya terdengar suara tawa mereka berdua yang saling bersahut-sahutan, menandakan sebuah hubungan pertemanan yang mungkin akan terjalin setelahnya.
TBC
_
_
_
KAMU SEDANG MEMBACA
Mata Kembar Buta [BxB] ✓
Narrativa generale⚠️BxB Rafael Melviano, seorang pemuda biasa yang selalu mendapat perundungan dari teman sekelasnya. Entah dosa apa yang telah ia perbuat hingga pantas mendapat luka berupa umpatan yang menyayat jiwa dan kekerasan fisik yang menghunus raga. Meski bat...
![Mata Kembar Buta [BxB] ✓](https://img.wattpad.com/cover/377370638-64-k442536.jpg)