END

3.5K 172 8
                                        

"Lu buta, Raf. Pantes El pergi ninggalin lu," ujar Ethan yang kini menghentikan langkahnya karena mereka berdua sudah berada di tepi rooftop.

Mata Rafa membola seketika. Bagaimana bisa Ethan tahu soal El sedangkan pria itu saja tidak benar-benar ada dan Rafa juga tidak pernah bercerita kepada siapa pun tentangnya.

"K-kamu tau El ...?" tanyanya lirih.

Ethan menggerakan kepala ke samping sembari tersenyum remeh. "Kalo gue gak tau gimana bisa gue ngomong soal dia, tolol."

"Kenapa bisa ...." Rafa menatap Ethan, berharap ia mendapat jawaban yang lebih jelas dari pernyataan pemuda itu sebelumnya.

"Lu bakal tau setelah ini." Ethan kembali menyeringai. Terdapat makna tersembunyi dari senyum itu yang akan menjawab segala tanya di benak Rafa.

"Maksud kamu—"

Rafa tidak dapat menyelesaikan ucapannya karena tiba-tiba saja ia didorong hingga membuat tubuhnya terhempas dan melewati pembatas rooftop.

Mata Rafa terpejam begitu menyadari sudah tak ada harapan lagi agar ia tidak terjatuh. Namun, entah keberuntungan dari mana karena dirinya tak kunjung menghantam tanah, melainkan menggantung dengan tangan yang berpegang erat pada tepi rooftop yang berhasil menahan tubuhnya.

Beberapa detik berada di posisi berbahaya ini, hingga Rafa mendongakkan kepala untuk melihat Ethan yang melongok ke arahnya. Senyum puas dapat Rafa lihat dari pemuda itu.

Pelupuk mata Rafa sudah penuh dengan bulir bening yang siap keluar kapan saja, ditambah saat maniknya mendapati sosok lain yang tiba-tiba hadir di samping Ethan. El—sosok yang selama ini ia rindukan kini memandangnya sendu, berbanding terbalik dengan ekspresi wajah Ethan.

Pemandangan itu tak bertahan lama, sebab lambat laun sosok mereka mulai pudar, seperti serpihan debu yang tersapu angin.

Rafa terkesiap. Jika El yang hilang dirinya sudah tidak heran lagi, tetapi mengapa Ethan juga ikut lenyap sama seperti El?

Suara-suara mulai berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Perkataan orang-orang yang bilang bahwa dirinya naif, bodoh, dan gila terus terngiang hingga membuat Rafa merasakan sakit yang melanda kepalanya.

Tak tahan akan dirinya yang tidak dapat membedakan mana yang nyata dan ilusi, membuat Rafa mendapatkan sebuah dorongan untuk mengakhiri semua ini.

Sejujurnya Rafa tidak ingin mati, namun ia sudah tak kuat lagi dan merasa bahwa ini keputusan yang tepat daripada ia harus terus menderita sepanjang hidupnya.

Secara perlahan pegangan pada tepi rooftop mengurai, disusul dengan tubuh Rafa yang terjun bebas dengan setitik air mata yang menghiasi wajahnya.

Tubuh pemuda itu jatuh dan menghantam tanah dengan keras. Darah mulai keluar mengotori seragam putihnya, dan pada saat itu juga nyawanya direnggut paksa hingga yang tersisa hanya raga tanpa jiwa.

Di sisi lain, Ezra yang hendak memasuki gedung sekolah tiba-tiba terhenti, tubuhnya membeku begitu melihat sosok yang terjatuh di hadapannya. Ia mendongak ke atas dengan cemas—melihat rooftop sekolah yang ternyata kosong, tak ada siapa-siapa di sana.

Meskipun merasa ragu, Ezra tetap melangkah mendekat ke tubuh itu dengan jantung yang berdegup kencang.

Begitu ia sudah dekat dan melihat wajah orang yang terbaring tanpa nyawa, seketika tubuh Ezra terhuyung. Tubuhnya seolah kehilangan kekuatan dan ia jatuh terduduk di tanah, tak mampu lagi berdiri.

Di hadapannya, tergeletak Rafa—tubuhnya berlumuran darah, matanya terpejam seakan tak akan pernah lagi terbuka. Ezra merasa dunianya seolah runtuh, kepalanya berputar dengan napas yang tercekat.

"Rafa ...." Suara Ezra hampir tak terdengar. Air mata mulai mengalir di pipinya, menciptakan jejak basah yang sulit untuk dihentikan.

Di saat itu juga, dunia seakan berhenti berputar, hanya ada rasa kehilangan yang begitu dalam dan menghancurkan hatinya. Ia tak menyangka jika jasad di depannya adalah Rafa—orang yang begitu dirinya cintai.

Sementara itu, di waktu yang sama namun dengan latar yang berbeda, terdapat seorang pemuda yang sedang mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Pemuda itu tak lain adalah Noah.

Lengkap dengan seragam abunya, Noah berkendara menuju sekolah setelah semalam menginap di rumah Raka dan kembali ke rumahnya sebelum matahari muncul.

Saat sedang fokus dengan jalan di depannya, tiba-tiba saja dari arah berlawanan terdapat sebuah mobil yang oleng hingga berpindah jalur dan menghantam Noah dengan kencang, hingga membuat pemuda itu terpental dari motornya.

Noah terguling, tubuhnya bergoresan dengan aspal hingga menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, sebelum akhirnya ia terhenti di tengah jalan.

Detik berikutnya, kesadaran Noah direnggut paksa. Suara-suara dari para pengendara lain yang panik saat menyaksikan kecelakaan itu mulai samar terdengar dan lambat laun menghilang seiring dengan pandangang Noah yang mulai menghintam.

Mata yang awalnya terbuka kini terpejam dengan tubuh yang terkulai lemas.

Kecelakaan itu bertepatan dengan jatuhnya Rafa dari rooftop. Noah bahkan belum sempat meminta maaf kepada pemuda itu, tetapi semuanya telah usai hanya dalam hitungan detik.

Dan pada akhirnya semua akan kembali ke pelukan sang pencipta, dan yang tersisa untuk manusia yang telah menorehkan luka hanyalah sebuah penyesalan dalam jiwa.








USAI








_
_
_

Mata Kembar Buta [BxB] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang