"Yang ini atau ini?"
Noah menatap dua buah buku yang Raka sodorkan padanya. Saat ini ia sedang berada di sebuah toko buku untuk menemani Raka membeli buku yang pemuda itu inginkan.
"Beli dua-duanya aja," jawab Noah.
"Si anjir. Percuma gue nanya, tapi ya udah deh."
Raka kembali mencari-cari buku yang sekiranya bagus. Akhir-akhir ini ia memiliki hobi baru yakni membaca, entahlah dirinya sudah tertular virus ambis dari Ezra.
Di sela kegiatannya itu, Noah masih setia menemani walaupun pemuda itu paling benci dengan yang namanya buku, tetapi jika yang meminta adalah Raka mana mungkin Noah menolak.
Beberapa saat mereka saling diam sebab Raka yang masih fokus pada buku-buku di hadapannya, sedangkan Noah hanya mengamati dalam hening. Hingga akhirnya potongan memori lewat di kepala Noah. Ia kembali merasa kesal sekaligus cemburu saat mengingat Raka yang sangat dekat dengan Rafa, karena mau bagaimanapun rasa benci masih bersarang dalam hatinya.
"Ra, bisa gak lu jangan terlalu deket sama Rafa?" tanya Noah tiba-tiba. Jujur saja pertanyaan itu sangat ingin ia ajukan dari lama. Namun, ia takut jika Raka akan marah dan menjahuinya.
"Kenapa gitu?" Raka balik bertanya.
"Lu tau sendiri kan kalo gue masih gak suka sama dia?"
Raka menghela napas, ia tahu Noah masih belum bisa berdamai dengan Rafa, tetapi haruskah pemuda itu memintanya untuk menjauh dari Rafa?
"Ya, gue tau, tapi lu harus sadar satu hal. Semua masalah ini akarnya dari nyokap Rafa dan itu artinya Rafa gak berhak dapet kebencian dari siapa pun karena dia aja gak tahu menahu tentang masalah ini," jelas Raka, mencoba meyakinkan pemuda di depannya kalau Rafa tidak bersalah.
"Lu mihak dia sekarang? Apa lu lupa siapa yang udah bikin hidup gue kayak gini?" Noah menatap Raka dingin. Ia tak percaya jika Raka benar-benar membela orang yang sangat ia benci.
"Apa yang gue bilang itu fakta dan lo harus sadar akan hal itu. Di sini yang terluka bukan cuma lu, tapi Rafa juga," tutur Raka.
"Itu karma, karma atas perbuatan nyokapnya yang ngejalang."
"NOAH!" teriak Raka. Untung saja toko tidak terlalu ramai, jadi tidak ada yang menonton pertengkaran mereka berdua.
"Gue tau lu benci sama nyokapnya, tapi kali ini lu bener-bener keterlaluan," ucap Raka. Maniknya seolah memancarkan kekecewaan yang mendalam
"Pergi, gue bisa pulang sendiri," usir Raka. Ia sudah tidak peduli lagi jika harus pulang seorang diri dengan menaiki kendaraan umum.
Noah menggeleng, ia hendak melontarkan perkataan lagi namun suara dering ponsel menghentikannya.
Diraihnya benda pipih itu dari dalam saku celana. Noah diam sebentar sembari memandang layar ponsel, ternyata yang menghubunginya tak lain adalah ibunya sendiri.
Perasaan bingung melandanya untuk beberapa saat, pasalnya wanita itu jarang sekali menghubungi Noah. Jangankan lewat telepon, bicara secara langsung saja hampir tak pernah.
Noah mengangkat panggilan tersebut dan langsung berbicara pada orang di seberang sana. Beberapa saat mereka berbincang hingga akhirnya sang ibu mematikan panggilan itu sepihak.
"Mami nyuruh gue pulang sekarang," seru Noah.
"Pulang tinggal pulang, gue juga gak nahan lu," ketus Raka.
Noah menghela napas gusar. "Ayo bayar bukunya, abis itu ke rumah gue sebentar, baru setelahnya gue anter lu pulang."
"Gak," tolak Raka. Ia masih kesal dengan ucapan Noah beberapa saat lalu.
"Ra," panggil Noah. Kali ini nada bicaranya terkesan dingin, belum lagi ditambah dengan tatapan tajam pemuda itu yang langsung membuat Raka merinding.
"Y-yaudah ayo."
__
Sebuah motor sport melaju dengan kecepatan tinggi dan terhenti di pekarangan rumah yang begitu luas. Sang pengendara turun dari motor disusul oleh pemuda lainnya.
Noah berjalan ke dalam rumah besar bergaya modern itu dengan langkah lebar. Ia mengabaikan sambutan dari para bodyguard yang berjaga, bahkan dirinya juga meninggalkan Raka di belakang.
"Bajingan, gue ditinggal," umpat Raka.
Noah menghentikan langkahnya ketika mendapati seorang wanita yang tengah duduk di sofa dengan anggunnya. Ia mendekat ke wanita itu yang tak lain adalah ibunya.
"Ada apa, Mi? Kenapa minta Noah buat cepet-cepet pulang?" tanya Noah memulai obrolan.
"Noah, gue—" Dari arah belakang terdengar suara Raka yang menggantung ucapannya.
Raka melirik Noah sekilas lalu berjalan menghampiri ibu dari Noah. Ia hendak meraih tangan wanita itu untuk menyalaminya. Namun, wanita itu langsung menarik tangannnya menjauh.
Raka diam sejenak, ia tersenyum miris sebelum beranjak dan berdiri tak jauh dari tempat Noah.
'Nyesek jir, gini amat calon mertua,' batin Raka.
Stevia memandang Raka dari bawah sampai atas dengan tatapan mengintimidasi. Selalu saja pemuda itu yang ada di sisi anaknya, jika begini terus rencananya tidak akan berjalan lancar.
"Ikut Mami ke ruang kerja," titah Stevia dan langsung berjalan meninggalkan dua pemuda itu.
Noah menoleh ke Raka lalu menyerahkan plastik yang sedari tadi dirinya bawa. "Selagi nunggu gue, makan ini."
Raka mengambil plastik itu lalu membukanya, di dalamnya ternyata berisi kotak donat. Seketika matanya langsung berbinar, ia berjalan ke arah sofa dan duduk di sana seraya menyantap makanan itu dengan lahap.
"Udah sana susul mak lu," suruh Raka sambil mengunyah donatnya.
Noah menurut, ia segera berjalan menuju ruang kerja ibunya. Di sana sang ibu tengah berdiri membelakangi Noah.
"Mami mau ngomong apa sama Noah?"
Stevia membalikkan badannya menghadap sang anak. Ia memandang Noah sebentar.
"Kamu akan Mami jodohkan."
TBC
_
_
_
KAMU SEDANG MEMBACA
Mata Kembar Buta [BxB] ✓
General Fiction⚠️BxB Rafael Melviano, seorang pemuda biasa yang selalu mendapat perundungan dari teman sekelasnya. Entah dosa apa yang telah ia perbuat hingga pantas mendapat luka berupa umpatan yang menyayat jiwa dan kekerasan fisik yang menghunus raga. Meski bat...
![Mata Kembar Buta [BxB] ✓](https://img.wattpad.com/cover/377370638-64-k442536.jpg)