"ANGELA MASUK! ANGELA MASUK GUE SEKARAT!"
"AKHH BANGSAT!"
"Hahaha mati."
Ezra melirik Sandi tajam yang sedari tadi tak berhenti berteriak. Pemuda itu sedang bermain game online di ponselnya bersama Noah, namun mulutnya sedari tadi tidak hentinya mengoceh, membuat fokus Ezra terganggu.
"Zra, ini hasilnya bisa dapet segini dari mana dah?"
Ini lagi, Ezra sudah sangat muak berada satu ruangan dengan teman-temannya. Mereka berempat sedang berada di kediaman Raka, tentunya Ezra berada di sini untuk mengajarkan Raka mengenai meteri pelajaran yang pemuda itu tidak pahami.
"Ini kan dijumlahin sama yang ini," geram Ezra. Ia menekankan jarinya pada tulisan angka yang ada di bukunya. Sudah berkali-kali menjelaskan tetapi Raka masih saja tak paham.
Raka menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Hah? Gimana, gimana?"
Ezra mengembuskan napas lelah lalu beranjak dari kursi meja belajar. Ia berjalan melewati Noah dan Sandi yang duduk di atas karpet bulu dengan masih memainkan game di ponsel mereka masing-masing.
Ezra melangkah ke arah balkon yang terhubung dengan kamar Raka. Ia menarik napas dalam-dalam lalu berteriak keras, meluapkan segala emosinya.
"ARGHHHH!"
Kesabarannya yang seluas samudra itu seakan tak berarti jika sudah berhadapan dengan Raka yang saat diajari selalu mengeluarkan kata 'hah?' berulang kali.
Noah dan Sandi sontak menoleh ke arah Ezra, keduanya saling pandang sejenak lalu mengedikkan bahu acuh tak acuh. Mereka memilih untuk melanjutkan permainan.
Saat dirasa sudah cukup baik, Ezra segera kembali ke kursinya. Ia kembali menjelaskan ulang bagian yang tidak Raka pahami dengan sabar.
Sial, harusnya Ezra dibayar mahal oleh pemuda itu karena setelah ini mungkin saja ia harus mendatangi psikolog karena stres.
__
Rafa menoleh ke belakang, ia melirik empat orang yang sedang duduk di kursinya masing-masing. Namun, atensinya berfokus pada dua pemuda di antara mereka.
"Zra, ini gimana anjir gue gak paham," ujar Raka. Menusuk-nusuk punggung Ezra dengan pulpen agar pemuda itu berbalik badan dan menjawabnya.
"Gak tau, Ra. Gue nyerah," balas Ezra. Ia sudah tidak sanggup lagi. Raka benar-benar membuatnya frustrasi.
Selama beberapa waktu seakan menjadi guru untuk Raka, Ezra dibuat kebingungan karena sang teman terkadang tak mengerti penjelasannya. Mungkin kah metode yang ia pakai salah atau tidak cocok dengan pemuda itu, Ezra pun tak tahu, yang penting sekarang ia sudah tak lagi menjadi guru untuk Raka.
"Si anjir, ya udah lah gue mau nyerah juga," timpal Raka. Persetan dengan taruhan sialan itu, ia tak peduli lagi jika harus menjadi pembantu Zerga.
"Kenapa gitu? Belum ada seminggu udah mau nyerah aja," heran Noah yang duduk di kursi samping Raka.
"Capek, gue gak kuat lama tatap-tatapan sama buku." Raka menjadikan lengan sebagai bantalan lalu menenggelamkan wajahnya di sana.
"Kalo gak kuat tatap-tatapan sama buku mending tatap-tatapan sama gue aja," canda Noah yang malah mendapat tatapan jengah dari Ezra dan Sandi.
"Mulai gombalan om-om mesumnya," kelakar Sandi.
Rafa yang menyaksikan hal itu jadi merasa sedikit kasihan pada Raka. Ia melihat ada semangat dalam diri Raka untuk meningkatkan nilainya. Hati Rafa jadi tergugah untuk membantu pemuda itu.
Mengabaikan segala rasa sakit yang pernah diakibatkan Raka padanya di masa lalu, Rafa bangkit lalu berjalan menghampiri pemuda itu.
Naif, satu kata yang mampu mendeskripsikan seorang Rafael Melviano.
Keempat siswa tersebut langsung memandang Rafa dengan air wajah yang sulit ditebak ketika ia sudah berada di hadapan mereka.
Rafa menyadari Noah yang melayangkan tatapan nyalangnya, kilatan kebencian masih menyelimuti pemuda itu hingga matanya tak dapat berbohong.
Meskipun Noah dan teman-temannya sudah tidak lagi mengganggu Rafa, tetapi sesekali pemuda itu masih memandangnya dengan penuh dendam.
Tak mengindahkan pandangan yang orang-orang berikan untuknya, Rafa memberanikan diri untuk mengeluarkan kalimat yang sedari tadi berada di ujung lidahnya.
"Raka, aku denger kamu kesulitan buat belajar, kalau aku bantu apa kamu keberatan?"
Semuanya diam, Raka menatap Rafa curiga. Segala skenario buruk seakan menari-nari di kepalanya. Berpikir bahwa ini hanya alasan Rafa untuk mendekatinya dan setelah itu membalas semua perlakuan buruk yang pernah Raka lakukan ke pemuda tersebut.
"Gak perlu mikir yang aneh-aneh, aku tulus mau bantu kamu," ungkap Rafa seakan mengetahui isi kepala Raka saat ini.
Rafa memang tulus ingin membantu. Ia tahu sulitnya belajar sendiri sebab sebelumnya jarang melakukan hal itu, dan karena ia melihat Raka memiliki semangat akhirnya ia memutuskan untuk membantu sebelum kobaran semangat itu hilang.
Rafa cukup percaya diri untuk membantu mengajar karena nilainya juga sangat baik, ia juga selalu mendapat peringkat di kelas.
"S-serius?" tanya Raka, masih was-was dengan pemuda di hadapannya.
Rafa mengangguk sembari tersenyum manis. "Tentu."
Berakhirlah keduanya duduk di meja Raka dengan Rafa yang mulai mengajarkan pemuda itu. Ia terlihat sangat antusias dan gembira bisa mengajarkan orang lain, begitu pun dengan Raka yang manggut-manggut saat Rafa menjelaskan. Entah mengapa dirinya mudah paham jika diajari oleh pemuda manis itu.
Sedangkan di sisi lain Noah terlihat cukup kesal karena Raka berdekatan dengan Rafa. Ia merasa dikhianati tetapi mau bagaimana lagi jika itu sudah menjadi pilihan sang kekasih.
Noah hanya bisa diam sembari menahan rasa cemburu saat Raka duduk dan berbicara dengan Rafa. Lagi pula jika pemuda itu berani macam-macam dengan Raka, Noah bersumpah akan membuat Rafa tersiksa seperti sebelumnya.
Ezra yang ada di dekat keduanya hanya menatap nanar. Ia berharap Rafa benar-benar tulus membantu dan bukan untuk membalas perlakuan para perundung karena ia takut jika pemuda itu kembali terluka.
Menjadi seorang pengecut membuat Ezra merutuki dirinya sendiri, untuk sekadar mendekati orang yang ia suka saja tidak bisa, apalagi melindunginya.
Ia selalu berharap suatu hari bisa mendapatkan hati Rafa sepenuhnya, namun Ezra sadar sedari awal saja ia tidak pernah turun tangan untuk membantu sang pujaan hati, jadi pantaskah jika dirinya menginginkan Rafa menjadi miliknya?
TBC
_
_
_
KAMU SEDANG MEMBACA
Mata Kembar Buta [BxB] ✓
General Fiction⚠️BxB Rafael Melviano, seorang pemuda biasa yang selalu mendapat perundungan dari teman sekelasnya. Entah dosa apa yang telah ia perbuat hingga pantas mendapat luka berupa umpatan yang menyayat jiwa dan kekerasan fisik yang menghunus raga. Meski bat...
![Mata Kembar Buta [BxB] ✓](https://img.wattpad.com/cover/377370638-64-k442536.jpg)