Bab 25

2.1K 174 8
                                        

"Raf, sini buru!"

Rafa segera menghampiri Sandi yang tengah berdiri sambil memegang mic di tangannya.

"Woi balikin micnya," perintah seorang anggota OSIS yang sebelumnya menegang benda itu lebih dulu.

"Apaan si lu, orang gue mau nyanyi juga," sewot Sandi seraya menatap tajam pemuda itu.

"Ya udahlah serah lu." Pemuda itu berlalu pergi, ia lebih memilih untuk menonton perlombaan daripada harus berdebat dengan Sandi. Lagi pula mic tersebut memang disediakan untuk warga sekolah yang ingin memeriahkan acara dengan lagu yang dinyanyikan.

"Woi Raka, Noah, sama Ezra, sini lu pada!" titah Sandi yang langsung dilaksanakan ketiga temannya itu.

"Kenapa, San?" tanya Raka.

"Dengerin gue nyanyi ya," jawab pemuda itu yang langsung mendapat gelengan dari ketiganya. Mereka bergegas pergi meninggalkan tempat itu, enggan mendengarkan suara Sandi ketika sedang bernyanyi, bahkan Ezra sampai menarik lengan Rafa untuk pergi bersama.

"Sialan, malah pada kabur," umpat Sandi.

Walaupun teman-temannya tidak ingin mendengarkan, Sandi tidak patah semangat. Ia akan tetap bernyanyi untuk menghibur orang-orang yang masih lomba atau bahkan untuk penonton dan para guru sekali pun.

Sandi mendekatkan micnya ke mulut sembari mengingat lagu yang akan ia nyanyikan.

Waktu ku kecil aku gak tau yang mungil-mungil
Ku sentil-sentil kukira pentil gak taunya pensil
Waktu ku tolol aku gak tau yang nongol-nongol
Ku senggol-senggol kukira botol gak taunya pestol
Tembak, tembak!

"DOR DOR DOR!" seru para siswa dan siswi di sana. Mereka telah berkumpul mengelilingi Sandi ketika mendengar lagu tersebut dinyanyikan, seolah tengah menggelar konser dadakan.

"BUBAR, BUBAR!"

Suara itu berhasil membuat kerumunan langsung membubarkan diri ketika melihat siapa yang memerintahkan hal tersebut.

Sandi mengernyitkan dahi melihat Niel dan Anara yang baru datang. "Rusuh ege lu."

"Elu yang rusuh! Emang gak ada lagu lain apa, udah tau ada anak kelas sepuluh yang masih polos-polos," balas Anara sembari menunjuk kumpulan siswa kelas sepuluh yang berdiri tak jauh dari mereka.

Sandi mengikuti arah yang Anara tunjuk, ia mendengus malas. "Itu yang dibilang polos? Orang mukanya aja kayak muka-muka kriminal."

Niel yang sedang meminum minumannya langsung tersedak. Ia menatap Sandi sembari mencoba menahan tawanya tetapi sekeras apa pun ia mencoba, suara membahana itu akhirnya lolos juga.

"Hahaha mana bener lagi," timbrung Niel.

"Udahlah terserah kalian. Mending gue kumpul sama anggota OSIS yang lain aja daripada ngeributin hal kayak gini," sentak Anara lalu melangkah pergi. Namun, baru dua langkah ia kembali berbalik.

"Request lagu goyang nasi padang, San!" ucapnya sambil nyengir kuda.

__

Rafa berpikir keras ketika melihat piring berisi tepung yang di dalamnya terdapat beberapa karet. Ia bingung bagaimana cara mengambil karet itu dengan sedotan yang mengapit di mulutnya.

Setelah beberapa lomba selesai, kini giliran lomba estafet karet yang akan dimainkan oleh kelas XI MIPA 2 dan beberapa kelas lainnya.

Cara bermain lomba ini adalah dengan mengambil karet menggunakan sedotan melalui perantara mulut dan dipindahkan ke garis finish oleh peserta lomba.

Rafa sudah baris rapi dengan empat orang lainnya yang ada di belakangnya, yaitu dengan urutan Rafa di paling depan, setelahnya Ezra, Noah, Raka, baru Sandi yang berada paling ujung, dekat dengan meja yang terdapat piring plastik untuk menampung karet yang berhasil dikumpulkan oleh timnya.

Ketika bunyi peluit terdengar, Rafa segera mengarahkan sedotan di mulutnya untuk mengambil karet di tumpukan tepung itu, kemudian berjalan beberapa langkah untuk memindahkan karetnya ke Ezra, dan seterusnya begitu.

Mereka begitu antusias, terkecuali Noah yang terlihat ogah-ogahan, sebab seperti yang kalian tahu bahwa di timnya terdapat orang yang tidak ia sukai.

Meski sudah menolak untuk tidak ikut bermain, tetapi paksaan dari Raka yang akhirnya membuat Noah mau tak mau harus menurutinya, terlebih lagi nama pemuda itu sudah terdaftar sebagai peserta.

"Yang bener napa!" Raka memukul lengan Noah sembari menatapnya tajam, pasalnya sedari tadi Noah sulit untuk memindahkan karet gelang dari sedotannya ke sedotan Raka.

"Iya, iya," balas Noah yang sudah pasrah.

Tidak tahu saja sebenarnya Noah sulit mengoper benda itu karena tidak fokus akibat melihat Raka yang menurutnya sangat cantik.

Masalah tak hanya sampai di situ, seakan mereka memang tidak ditakdirkan untuk memenangkan perlombaan ini, sebab Sandi yang malah tertawa terbahak-bahak ketika melihat mimik wajah Raka yang begitu serius saat akan mengoper karet padanya.

"Sialan lu, San! Orang tinggal ambil doang juga terus taro di piringnya, malah ngakak!" murka Raka. Ia kesal sebab piring mereka baru terisi tiga karet sedangkan tim lawan sudah lebih banyak.

"Iya, iya maap," ujar Sandi, masih berusaha menahan tawanya.

Raka yang mendengarnya segera mengacungkan jari tengah dengan ekspresi jengkel. Ia kemudian kembali menjepit sedotan di kedua sisi mulutnya.

Berbanding terbalik dengan keadaan tiga pemuda di belakang sana, Rafa dan Ezra malah terlihat santai-santai saja dan terkesan menikmati permainan.

Rafa kembali melangkah menuju Ezra, ia sedikit berjinjit untuk mengoper karet di sedotannya ke sedotan milik Ezra. Karena posisi mereka yang sulit, akhirnya Ezra menekuk lututnya sedikit agar Rafa lebih tinggi darinya.

Saking fokusnya pada karet itu, Rafa sampai memegang kedua bahu Ezra yang lebih rendah darinya. Mendapat sentuhan tersebut membuat Ezra menggerakkan tangannya untuk memeluk pinggang Rafa agar pemuda itu tetap seimbang.

Posisi keduanya begitu intim, hingga berhasil mengundang teriakan histeris dari beberapa gadis fujoshi yang menyaksikan.

Posisi keduanya begitu intim, hingga berhasil mengundang teriakan histeris dari beberapa gadis fujoshi yang menyaksikan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.








TBC






_
_
_

Mata Kembar Buta [BxB] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang