Bab 23

2.1K 172 7
                                        

Rafa memandang pantulan dirnya di cermin seraya merapikan tataan rambutnya. Atensinya teralihkan ketika mendengar suara motor dari luar rumah. Ia segera meraih ranselnya dan langsung berjalan keluar untuk menemui seseorang.

Netranya mendapati seorang pemuda yang sedang duduk di atas motor. Meskipun pemuda itu mengenakan helm full face tetapi Rafa dapat mengetahui orang itu yang tak lain adalah Ezra.

Tadi malam Ezra menghubunginya dan berkata akan menjemput Rafa untuk berangkat sekolah bersama, dan ya, seperti yang kalian lihat sekarang, pemuda itu sudah duduk di atas motor tersebut dengan Ezra yang mulai melajukan kendaraannya meninggalkan pekarangan rumah Rafa.

Keduanya menjadi semakin dekat setelah menghabiskan banyak waktu bersama, terutama selama di sekolah. Dan hal itu juga yang membuat Ezra memberanikan diri untuk mendekati Rafa secara langsung. Ia sudah membuang jauh-jauh pemikiran bagaimana respons teman-temannya jika tahu dirinya menyukai Rafa.

Sejujurnya Ezra bisa mendekati Rafa juga karena ada campur tangan Raka di dalamnya, pemuda itu membantu serta mendukung Ezra untuk mendekati Rafa perlahan dan mengungkapkan perasaannya itu.

Awalnya Ezra pikir Raka akan menjahuinya dan menganggapnya sebagai pengkhianat ketika mengetahui bahwa dirinya menyukai Rafa, tetapi dugaan itu salah besar, sebab Raka lah orang pertama yang menyetujui dan mendukung Ezra dalam kisah cintanya ini.

Selama di perjalanan tak ada obrolan antara keduanya, Ezra yang sibuk mengendarai motornya dan Rafa yang menikmati pemandangan di sekeliling jalan. Hingga akhirnya suara Ezra memecah keheningan di antara mereka.

"Rafa, mampir ke tukang bubur dulu, ya?"

"Oh, iya. Aku juga belum sarapan hehe," balas Rafa setuju.

Ezra mengangguk lalu membelokkan motornya menuju tukang bubur ayam yang ada di pinggir jalan. Keduanya turun dari motor dan langsung menghampiri sang penjual.

"Bang, bubur ayamnya dua ya. Makan di sini," seru Ezra yang langsung diangguki penjual bubur tersebut.

"Siap, Mas. Duduk aja dulu, abis ini saya buatin pesanan Mas-nya," ujar akang itu sembari menyiapkan pesanan pelanggan lain.

Ezra dan Rafa mendudukan diri mereka di kursi yang ada di sana sembari menunggu. Tak berapa lama kemudian pesanan mereka sudah tersaji di meja, lengkap dengan air minumnya juga.

Rafa segera menyantap bubur ayamnya dengan lahap, ia sempat terpaku sesaat begitu lidahnya merasakan rasa lezat dari makanan itu.

"Kenapa?" tanya Ezra yang menyadari Rafa terdiam.

Rafa menoleh ke arah sang empu, lalu berkata, "Buburnya enak."

Mendengar hal tersebut membuat Ezra menarik sudut bibirnya membentuk senyum kecil. Menurutnya Rafa sangat menggemaskan ketika sedang makan.

"Kalo kamu suka nanti aku pesenin lagi. Habisin dulu yang ini," ucap Ezra.

"Okey!" sahut Rafa bersemangat. Entahlah hanya karena bubur ayam saja pemuda itu bisa sangat bahagia, atau mungkin bukan karena makanannya tetapi melainkan orang yang sedang makan bersamanya?

Keduanya melanjutkan acara makan mereka dalam hening, hanya ada suara sendok yang beradu dengan mangkuk, selebihnya suara kendaraan yang berlalu-lalang di sana.

Ezra kembali mengalihkan pandangannya ke arah Rafa. Ia mendapati ada sedikit bubur di sudut bibir pemuda itu. Ezra mendekatkan wajahnya ke wajah Rafa sembari mengulurkan ibu jarinya untuk membersihkan sudut bibir pemuda itu.

Wajah keduanya sudah sangat dekat sekarang, bahkan Rafa bisa merasakan deru napas Ezra, yang mana hal tersebut berhasil memunculkan semu merah di kedua pipinya. Rafa malu karena Ezra tak kunjung menjauh dari wajahnya tetapi malah diam terpaku sembari memandangnya begitu lekat.

Pandangan keduanya bertemu dan seolah tersihir hingga tatapan itu terkunci dalam waktu yang cukup lama. Mengagumi satu sama lain hingga tanpa sadar perasaan keduanya pun mulai tumbuh.

__

Ezra membawa motornya memasuki area sekolah dan mengundang banyak atensi dari para siawa dan siswi di sana.

Laju motornya terhenti di parkiran sekolah, Ezra dan Rafa segera turun. Tak lama kemudian tiga motor besar dan gagah mendekat, tiga pengendara itu memarkirkan motornya masing-masing secara berdekatan.

Satu per satu dari mereka membuka helm-nya dan seperti dugaan Ezra, mereka bertiga tak lain adalah Noah, Raka, juga Sandi.

Raka berjalan mendekat dan disusul dua pemuda lainnya. Ia memandang Ezra dan Rafa dengan senyum penuh arti.

"Udah berangkat bareng aja, kalo gitu jangan lupa traktirannya," celetuk Raka dengan seringai jahil.

Hal itu berhasil membuat rona merah menjalar di area pipi Rafa, ia merasa wajahnya memanas hanya karena mendengar ucapan Raka.

"Nanti gue traktir cilok satu tusuk," balas Ezra.

"Yee, gembel amat cuma satu tusuk," protes Raka.

Di saat keduanya berbincang, Noah dan Sandi hanya bisa diam mengamati. Sejujurnya mereka tak begitu suka melihat Raka dan Ezra yang semakin akrab dengan Rafa, dan ditambah lagi kini mereka mengetahui kalau Ezra menaruh rasa pada pemuda itu.

Beberapa saat kemudian mereka berlima berjalan menuju gedung sekolah sembari mengabaikan tatapan dan bisik-bisik dari seluruh warga sekolah yang merasa keheranan, pasalnya Rafa yang sebelumnya adalah korban perisakan kini malah berteman dekat dengan para perundungnya dulu. Hal itu membuat para murid merasa heran sekaligus bertanya-tanya.

"Rafa!"

Suara itu berhasil menghentikan langkah mereka berlima. Rafa segera berbalik badan untuk melihat siapa yang memanggil namanya.

Di sana, tak jauh dari tempatnya terlihat Niel dan Anara yang kini mendekat. Niel serta Anara memandang kelima pemuda itu dengan air wajah yang sulit dijelaskan.

"Lu kenapa jadi deket sama mereka, Raf?" tanya Niel sembari berbisik.

Rafa yang mendengarnya langsung mengalihkan pandangan ke arah Raka dan Ezra, meminta mereka untuk masuk ke kelas lebih dulu dan hal itu pun dituruti oleh keduanya, bahkan Noah dan Sandi langsung melenggang pergi.

"Lu gak diapa-apain lagi, 'kan? Atau lu diancem buat temenan sama mereka?" todong Anara dengan berbagai pertanyaannya.

Rafa menggeleng. "Nggak kok, kalian tenang aja. Sekarang mereka temenku."

"Hah?! Temen apanya njir?!" beo Anara yang langsung mendapat hadiah berupa pukulan keras pada lengannya, sang pelaku tak lain adalah Niel.

Gadis itu diam-diam mengumpat karena sang teman tidak bisa menjaga nada bicaranya, pasalnya sekarang banyak orang menoleh ke arah mereka dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa mereka terganggu.

"Lu beneran temenan sama mereka?" tanya Niel memastikan.

"Iya, dan mereka gak seburuk itu kok. Aku juga nyaman temenan sama mereka," jawab Rafa seraya menyunggingkan senyum.

Niel mengangguk, ia rasa pernyataan Rafa jujur dan jika dilihat dari ekspresi yang Rafa tampilkan ia juga tidak merasa tertekan atau semacamnya saat sedang bersama keempat pemuda itu.

"Ya udah kalo lu udah mulai nyaman temenanan sama mereka, tapi kalo mereka kembali macem-macem lagi, lu santet aja biar kapok," saran Niel, karena mau bagaimanapun yang berhak memilih adalah Rafa sendiri. Ia dan Anara hanya bisa membantu dan memberi saran sebisanya saja.









TBC








_
_
_

Mata Kembar Buta [BxB] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang