21

339 20 0
                                        

Sheira pov

Malam ini terasa dingin sekali. Aku dapat merasakan bagaimana dinginnya angin malam yang menyeruak menembus kulitku. Setelah menidurkan If, aku keluar menuju balkon kamar. Aku sangat merindukan tempat ini karena sudah lama sekali kamar ini kosong. Kami baru saja pindah ke kamar kami yang berada di atas setelah sekian lama kami menempati kamar bawah.

Aku merindukan tempat ini karena disinilah aku merenungkan semua hal yang terjadi di hidupku. Saat orang tuaku pergi bertemu Tuhan, aku selalu berada disini sambil menatap langit. Aku mengaduh pada Tuhan karena Ia telah mengambil kedua orang tuaku sekaligus. Aku merasa Tuhan tidak adil padaku. Namun, saat hadirnya ibu dari anak-anakku, aku merasa jika Tuhan sudah mempersiapkan kebahagiaan lain untukku. Tuhan mengambil kebahagiaanku, tapi Tuhan juga akan memberikan kebahagiaan yang lain.

Dengan hadirnya istri dan kedua anakku, aku tidak pernah mengeluh lagi pada Tuhan. Di tempat ini tidak ada lagi keluhan yang aku ucapkan pada Tuhan. Semuanya tergantikan dengan do'a dan ucapan syukurku. Aku ingin hidup lebih lama lagi dengan mereka. Aku ingin menua dengan istriku, aku ingin melihat anakku menikah, dan aku ingin mendengar tawa riang cucuku.

Aku mendongakan kepalaku ke arah langit. Kedua tanganku memegang pagar pembatas balkon dan aku menutup kedua mataku. Aku membiarkan diriku tertabrak oleh angin yang semakin berhembus kencang. Beberapa saat kemudian, aku merasakan ada tangan yang melingkar sempurna di perutku. Ada seseorang yang menempel di punggungku dan aku merasakan kecupan di bahu belakangku. Aku tersenyum dengan perlakuan yang ia berikan.

“Hubbyy.. kenapa disini? Disini dingin sayang”. Ucapnya tanpa melepaskan pelukannya.

“Gapapa sayang, lagi pengen disini aja. Baby boy udah tidur?”. Tanyaku karena tadi ia sedang menidurkan bayi laki-lakiku.

“Hmm.. barusan. Lagi ada sesuatu yang ganggu pikiran kamu by?”. Tanyanya.

“Gak ada, cuma pengen disini aja nikmatin angin malem”. Jawabku yang dibalas dengan anggukan.

“Hubby..”. Panggilnya.

Aku memutar badanku untuk menghadap ke arahnya. Aku merapikan helaian rambutnya yang tertiup angin dan menutupi sebagian wajahnya. Ia menutup mata sambil tersenyum saat tanganku meraba wajahnya dan menyelipkan rambut ke telinganya. Setelah itu ia membuka mata dan mengganti posisi tangannya yang semula melingkar di pinggangku menjadi mengalung di leherku.

“Kenapa sayang?”. Tanyaku.

“Boleh minta tolong?”. Tanyanya.

Aku tersenyum dan mengangguk.

“Aku barusan merah by. Stok pembalut tinggal 1, aku pake sekarang. Minta tolong beliin by, kemaren lupa beli”. Ucapnya.

“Iya sayang aku beliin”. Ujarku.

Ia tersenyum dan mengecup bibirku.

“Makasih sayang. Tapi kamu keluarnya pake mobil by jangan pake motor. Langitnya udah mulai mendung”. Ucapnya sambil menatap ke arah langit.

“Pake motor aja sayang biar cepet. Lagian mini marketnya deket”. Jelasku.

“Ntar hujan kamu kehujanan by. Kamukan kalau pake motor gak pernah mau pake jas hujan”. Ujarnya.

Memang benar jika aku menggunakan motor aku jarang sekali memakai jas hujan, kecuali aku membawa barang berharga atau sedang motoran bersamanya. Menurutku memakai jas hujan itu ribet. Saat aku akan memakainya, aku mencari tempat untuk berteduh, tapi bajuku sudah terlanjur cukup basah. Jadi aku hujan-hujan saja dan saat sampai di rumah ia mengomeliku.

“Nanti aku sedikit ngebut bawa motornya kalau gerimis’. Jelasku yang mendapat pukulan pelan di bahuku olehnya.

“Gak ada ya ngebut-ngebut! Mau ngebut dikit ngebut banyak, gak akan aku ijinin”. Jawabnya jutek.

The HappinessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang