Sekitar jam 12 malam, Sheira baru saja sampai di rumah. Setelah memarkirkan mobilnya, ia segera menuju ke kamar untuk menemui istrinya. Tak lupa ia membawa barang titipan sang istri. Saat membuka pintu kamar, ternyata lampu masih menyala terang dan televisi masih menyala. Bella duduk bersandar di sandaran kasur dan sedang menatap Sheira. Setelah itu ia berjalan menuju suaminya dan memeluknya.
“Kenapa belum tidur mom?”. Tanya Sheira saat Bella sudah masuk dalam pelukannya.
“Gimana aku bisa tidur saat aku gak tau kamu lagi kemana, apalagi di luar gerimis. Dari tadi aku berdo'a biar gak hujan dulu sebelum kamu sampe rumah. Aku khawatir banget by”. Ujar Bella dengan akhir suara yang mulai bergetar.
“Sstt.. maaf ya sayang. Aku udah bikin kamu nunggu dan khawatir. Sekarang aku udah ada disini sama kamu dan aku akan jelasin semuanya. Sebelum itu aku mau ke kamar mandi dulu ya buat bebersih. Kamu tunggu dulu di kasur”. Ucap Sheira sambil mengelus kepala istrinya yang bersandar di dadanya.
Bella mengangguk kemudian Sheira tersenyum dan mencium kening istrinya. Setelah itu ia memberikan bungkusan mini market, kemudian berjalan menuju kamar mandi, sedangkan Bella menuju kasur.
Bella pov
Aku sangat khawatir saat Sheira tidak segera pulang dari mini market. Aku mencoba menelponnya, saat menjawab telponku ia mengatakan jika ada urusan mendadak. Aku sedikit kesal karena ia tidak langsung mengatakan apa urusannya.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya hampir tengah malam aku mendengar suara mobilku. Tak lama setelah itu terdengar ketukan pintu dan terlihatlah seseorang yang sangat aku tunggu kehadirannya. Aku segera turun dari kasur dan menabrakan diri ke badannya. Aku hampir menangis saat berada di pelukannya. Kemudian ia memintaku untuk menunggu di kasur karena ia akan bebersih terlebih dulu.
Beberapa menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Setelah itu ia berjalan ke kasur. Sesampainya di kasur, ia duduk di sampingku sambil bersandar pada head board kasur. Aku mengangkat tangan kirinya agar aku bisa memeluknya sambil menyandarkan kepalaku di dadanya. Ia membalas pelukanku dan mencium keningku.
“Pesenan kamu udah aku beliin. Aku beliin coklat kesukaan kamu juga”. Ujarnya dan aku mengangguk kemudian menguap.
“Kamu udah ngantuk, sekarang tidur aja ya. Aku jelasin besok aja”. Ucapnya.
Aku menggelengkan kepala pertanda tidak setuju karena aku ingin tau sekarang. Aku menegakan dudukku dan menatapnya.
“Aku mau kamu jelasin sekarang by. Biar aku tenang dan gak kepikiran”. Jelasku.
“Hfft.. ya udah aku jelasin sekarang, tapi kamu harus janji sama aku kalau kamu gak akan motong penjelasan aku sebelum aku selesai cerita dan aku harap kamu bisa paham dengan kejadian itu”. Ujarnya yang membuatku semakin penasaran.
Memang apa yang terjadi tadi? Apa dia menemui seseorang diam-diam di belakangku?
“Kamu gak mungkin khianatin aku kan by?”. Tanyaku serius.
“Nggak sayang, aku gak mungkin khianatin kamu. Kamu udah ngasih segalanya buat aku dan aku gak pernah merasa kurang saat sama kamu”. Jawabnya.
“Hfft.. ya udah jelasin sekarang”. Pintaku yang dibalas dengan anggukan.
“Kamu masih inget Kak Jessi kan?”. Tanyanya yang membuatku mengernyitkan alisku.
Aku terkejut saat mendengar namanya. Dan 1 lagi, aku tidak akan pernah lupa dengan seseorang yang hampir membuatku kehilangan anak pertamaku.
“Aku gak mungkin lupa sama orang yang hampir buat kita kehilangan anak pertama”. Jawabku jutek karena meskipun sudah memaafkannya, tapi aku masih merasa sedikit kesal dengan kejadian itu.
Mendengar namanya saja, ingatanku langsung berputar mengenai kejadian dulu.
“Aku mulai jelasin ya sayang”. Ucapnya sambil menggenggam tanganku.
Ia menceritakan bagaimana mereka bisa bertemu, bagaimana keadaan Jessi, Jessi meminta bantuan dan ia tolong, dan yang terakhir pemberian Jessi. Dari penjelasan yang dilontarkan olehnya, aku merasa sangat sedih dan prihatin. Aku seorang istri sekaligus seorang ibu yang tentu saja aku bisa merasakan apa yang ia rasakan.
Ia mendapat suami yang tidak bertanggung jawab terhadapnya dan juga anaknya. Ia tidak mendapatkan kehidupan yang layak dari suaminya. Ia mengalami kekerasan karena mencoba untuk pergi dari suaminya. Aku sangat prihatin dengan kondisinya dan juga bayinya.
Setelah Sheira menjelaskan semuanya, dalam hati aku berdoa agar mereka mendapat kehidupan yang layak dan dijauhkan dari kejahatan. Serta nanti, saat anaknya dewasa ia mendapat pasangan yang sangat bertanggung jawab padanya.
“Maafin aku ya karena aku gak kabarin kamu dulu karena saat itu aku gak tega banget liat mereka. Bayi sekecil itu dibawa lari-larian malem-malem dan kondisi ibunya yang terluka. Aku hanya berniat buat nolong sayang bukan bermaksud apa-apa”. Jelasnya.
Aku sangat mengerti bagaimana pasangan hidupku ini. Tidak mungkin orang setulus dan sebaik dia tidak menolong orang yang sedang dalam kondisi seperti itu. Aku paham, mungkin ia juga merasakan sama sepertiku karena kami sudah menjadi orang tua sekarang. Aku tidak pernah merasa keberatan saat ia menolong seseorang karena ia tau batasannya. Aku mengangguk dan mencium tangan kanannya yang menggenggam tanganku.
“Aku paham sayang. Kamu orang baik dan akan selalu seperti itu. Aku beruntung banget punya pasangan kayak kamu dan anak-anak juga beruntung banget punya dadda kayak kamu. I love you hubby”. Ucapku.
“I love you more, more, and more sayang. Aku juga beruntung banget punya kalian. Makasih udah dengerin penjelasan aku dan paham dengan itu. Makasih sayang”. Ujarnya yang ku balas dengan senyuman.
Kemudian ia mendekatkan wajahnya padaku dan ia mencium bibirku dengan sedikit lumatan. Setelah itu kami sama-sama tersenyum sambil tangan kananku mengusap bibirnya yang basah karena ulahku.
“Udah jam 1 sayang, tidur yuk”. Ajaknya.
Aku tersenyum dan mengangguk, setelah itu kami tidur dengan saling memeluk.
Seperti itulah kami saat terjadi suatu hal atau masalah. Sebisa mungkin kami membicarakan atau menyelesaikan di hari itu juga karena kami tidak ingin larut dalam masalah yang akan membuat kami bertengkar dan hubungan kami tidak baik. Hal ini selalu kami lakukan setelah kejadian salah paham yang terjadi pada masa awal pernikahan kami dulu. Apalagi setelah memiliki anak, kami tidak mau sampai anak-anak mendengar kami cekcok.
Bukankah lebih tenang jika menyelesaikan permasalahan dengan cara baik-baik di hari itu juga dan tidak membawanya di hari berikutnya? Aku merasa seperti itu karena rasa gundah dalam hati dan pikiranku sudah hilang dan aku merasa tenang.
Bella pov end
~♡~To be Continued~♡~
Sorry for typo 🙂🙏
