31

77 11 1
                                        

Lexa pov

Lihatlah bayi gembul itu makan tidak beraturan. Nasi bercecer di dahi, pipi, dan sekitar bibirnya. Aku sudah menghabiskan makananku 10 menit yang lalu, tapi bayi itu belum juga selesai dengan makannya. Sambil menunggu ia selesai makan, aku bertukar pesan dengan istriku yang sedang bersantai karena bayi kecil kami baru saja tertidur.

“Bubu cudah”. Ujar Cia.

Aku medongakan kepalaku untuk menatap wajah yang dipenuhi oleh nasi.

“Udah kenyang?”. Tanyaku yang dijawab dengan anggukan.

Aku membersihkan wajah dan juga tangannya. Setelah itu kami keluar dari restoran. Kami tidak langsung kembali ke kantor karena aku ingin membeli camilan untuk istriku. Saat di mini market, Cia meminta turun dari gendonganku dan ia sudah berjalan mendahuluiku. Aku segera mengambil keranjang dan menyusulnya.

“Cia tunggu bubu!”. Teriakku.

Aku berjalan cepat agar bisa menggandengnya.

“Bubu Cia mau beli”. Ujarnya saat aku berhasil menggapai tangannya.

“Iya Cia boleh beli, tapi gak boleh ninggalin bubu, harus tunggu bubu”. Ucapku.

“Iya bubu”. Balasnya.

Aku mengajaknya untuk membeli aneka camilan sehat untuk Sheril beserta buah-buahan. Setelah itu barulah aku mencari sesuatu yang Cia inginkan. Ia mengajakku ke tempat saat pertama kali ia berjalan meninggalkanku. Ia menuntunku menuju tempat mainan yang jarang ku temui.

“Bubu itu”. Ujarnya sambil menunjuk ke arah barang yang diinginkan.

“Itu apa Cia? Bubu gak tahu”. Ucapku.

Aku mengambil barang itu dan aku membaca tulisan yang tertera di kemasannya. Ternyata itu adalah mainan kecantikan yang berisi masker wajah, cat kuku, dan penutup kepala seperti handuk.

“Baru tau gue ada mainan kayak gini”. Gumamku heran.

“Pake topeng kayak mama”. Ujarnya dengan menepuk-nepuk kedua pipinya.

Aku tahu apa yang dia maksud. Pasti ia pernah melihat mamanya saat memakai masker kecantikan seperti topeng.

“Ya udah beli ini. Mau beli apa lagi?”. Tanyaku yang dijawab dengan gelengan.

Karena ia tidak ingin membeli sesuatu, aku menggandengnya menuju ke kasir. Kemudian kami kembali ke kantor. Saat tiba di loby, Cia melihat ke arah kolam ikan.

“Apa liat-liat? Mau nyemplung kesitu lagi?”. Sewotku.

“No bubu.. hihi..”. Ujarnya.

Aku segera menggendongnya agar ia tidak kabur dan berakhir di kolam itu. Sesampainya di ruanganku, ia tidak sabar meminta mainannya. Aku memberikan mainan itu agar ia bermain dulu karena aku akan menyelesaikan pekerjaanku.

Beberapa menit aku memandang layar laptop membuatku bosan. Aku melirik ke arah Cia yang sedang membolak-balikan mainannya. Aku yakin ia tidak bisa memainkannya.

“Ayo main sama bubu”. Ajakku.

Aku mematikan laptop dan berjalan ke arahnya.

“Yeayy!”. Serunya.

Aku duduk di sampingnya, kemudian membuka bungkus mainan itu.

“Ini mainnya gini. Kamu pake ini dulu di kepala kamu”. Ujarku sambil memakaikannya penutup kepala.

“Terus kamu pake masker ini. Kamu mau pake masker kayak mama?”. Tanyaku.

“Iya”. Jawabnya sambil mengangguk.

The HappinessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang