30

413 15 0
                                        

Sudah beberapa hari Sheril sudah kembali pulang ke rumah setelah ia melahirkan. Sekarang ia sedang memangku anak keduanya untuk berjemur di bawah sinar matahari pagi.


Sheril pov

Sekarang aku sedang berada di taman belakang rumah untuk berjemur bersama dengan bayi kecilku ini. Bayi laki-laki sehat dan tampan ini bernama Alexis Abigail. Nama panggilannya adalah Lexis, tapi bubunya memanggilnya dengan sebutan Ecis.

Biasanya Kak Lexa yang akan menemani Lexis untuk berjemur, tapi hari ini ia akan ke kantor karena ada pertemuan yang tidak bisa ditunda dan diwakilkan. Jadi hari ini aku akan mengurus anak-anakku sendiri karena papa dan mama sedang mengunjungi saudara papa yang sedang sakit, nanti aku bisa minta tolong bibi jika aku kewalahan.

“Morning Gembul, morning Ecis”. Sapa seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.

“Molning Gembul, molning Ecis”. Sapa gadis kecil yang sedang berlari menghampiriku.

“Heh! Mama.. Gembul-Gembul”. Sewotku.

“Hihihi..”. Tawanya dengan tangan menutup mulutnya.

Memang dasar anak Lexa tidak sopan. Dia sering mendengar bubunya memanggilku seperti itu, jadi ia kadang ikut-ikut memanggilku dengan sebutan itu. Ia masih belum sadar diri jika dirinya juga gembul.

“Sayang kamu gapapa di rumah sendiri?”. Tanya Kak Lexa.

“Gapapa boo, lagian ada bibi di rumah. Kalau aku kewalahan bisa minta tolong bibi”. Jelasku.

“Kamu udah sarapan?”. Tanyaku yang dibalas dengan gelengan.

“Kenapa gak sarapan?”. Tanyaku lagi.

“Lagi males sarapan, tapi aku udah minum susu yang kamu siapin”. Jawabnya dan aku mengangguk.

“Kamu udah makan belum Mbul?”. Tanyaku pada Cia yang sedang melihat adiknya.

“Udah mama”. Jawabnya.

“Kamu salah banget nanya udah makan apa belum ke anak kamu itu. Belum waktunya makan aja udah minta duluan”. Ujar Kak Lexa.

Haha.. memang benar jika Cia sangat doyan makan. Lihat saja badannya yang gemoy itu.

“Ya udah aku berangkat dulu ya”. Pamit Kak Lexa.

“Iya boo”

Ia mencium kening dan bibirku saat Cia tidak melihat kami.

“Bubu berangkat dulu, jangan nakal”. Pamitnya pada Cia dan Lexis yang diakhiri dengan mencium pipi keduanya.

Ia berdiri dan berjalan meninggalkan kami, tapi baru beberapa langkah terdengar suara menggelegar dari anak pertama kami.

“Bubu Cia ikuuttt!”. Teriaknya sambil berlari ke arah bubunya.

“Ihh.. gak maooo!”. Balas Kak Lexa sambil berlari menjauh.

“Cia, Lexaa jangan lari-lari!”. Teriakku karena mereka malah berlarian.

Kenapa tingkah mereka sama? Semakin hari tingkah Cia seperti bubunya dan itu membuatku pusing saat mereka berkumpul dan bertingkah macam-macam.

“Sayang, gapapa Cia ikut aku?”. Tanya Kak Lexa sambil berjalan ke arahku dengan menggendong Cia.

“Loh.. kok jadi kamu yang nanya gitu. Harusnya aku yang nanya, gapapa Cia ikut kamu?”. Ucapku.

“Gapapa, dia udah akrab sama orang kantor. Kalau aku tinggal dia biasa main sama sekretaris aku”. Jelasnya.

“Ya udah kalau gitu. Siapin dulu susu sama camilan dia biar gak rewel, jangan lupa juga mainannya”. Ucapku.

“Aku bawa susu, camilan sama baju aja ya karena mainan Cia udah banyak banget di ruangan aku”. Ujarnya.

The HappinessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang