26

284 20 0
                                        

Pada malam hari setelah makan malam, Lexa segera membawa Cia ke kamar karena bayi itu tertidur setelah makan. Mungkin ia kelelahan karena bermain di pantai tadi sore. Lexa membaringkan Cia di kasur dan ia ikut berbaring di samping anaknya sambil menatapnya dan menyentuh wajahnya dengan jari telunjuk.

“Kamu lucu banget baby. Kamu mirip banget sama mama kamu. Mata kamu, bibir kamu, apalagi pipi kamu duplikat mama banget. Bubu beruntung banget punya kamu sayang. Makasih udah hadir-“.



Ceklek..



Sheril pov

Setelah aku mencuci piring, aku memutuskan untuk ke kamar karena Kak Sheira dan Kak Bella sedang duduk-duduk di bawah. Saat aku membuka pintu, aku sedikit mendengar perkataan Kak Lexa pada Cia. Aku kira ia sudah tidur  bersama Cia, tapi ternyata ia hanya berbaring sambil menatap dan menyentuh pipi Cia. Aku menutup kembali pintunya dan melangkahkan kaki ke kasur. Aku berbaring dan memeluknya dari belakang.

“Aku kira kamu tidur, tapi ternyata lagi deeptalk sama baby”. Ujarku.

“Gak kerasa bentar lagi dia udah mau setahun. Aku kayak gak rela gitu kalau dia cepet gede. Gak usah dikasih makan Mbul biar gak gede-gede”. Ujarnya ngawur yang membuatku memukul tangannya pelan.

“Enak aja! entar anak aku gak embul lagi yang ada”. Balasku.

“Dia mirip banget sama kamu, aku gak kebagian apa-apa”. Ujarnya.

Ia selalu mengatakan itu karena iri anak kami sangat mirip denganku dan ia tidak kebagian apapun.

“Fisiknya mirip aku, tapi mungkin sifat dan sikapnya kayak kamu. Kalau bener aku yang pusing sih secara kamu ajaib banget. Sifat dan sikap kamu di luar nalar”. Ucapku.

“Huu.. gapapa yang penting aku keren, kaya, dan kamu cinta mati banget sama aku”. Ujarnya dengan sangat percaya diri.

“Dih.. mana bener lagi”. Balasku karena apa yang dikatakannya memang benar, tapi jika seperti itukan terdengar ngeselin.

“Kalau aku gak keren sama gak kaya, kamu mau gak sama aku?”. Tanyanya random banget.

“Ya gak lah, gila aja lo!”. Jawabku sedikit ngegas untuk menggodanya.

“Gila aja gue mau sama orang yang udah jelek, kere, suka main cewek”. Lanjutku yang membuatnya membalikan badannya dengan kasar menghadapku.

“Huu.. gue remet juga muka lo”. Ancamnya, tapi ia sudah meremat mukaku.

Ia mengapit kedua pipiku hingga membuat bibirku terpout. Aku membalas dengan menarik telinganya.

“Sakit gembul!”. Ucapnya setelah melepaskan tanganku dari telinganya.

“Sukurin!”

“Udah sini kamu aku peluk”. Pintanya.
Kami berganti posisi, sekarang aku berada di tengah menghadap Cia dan Kak Lexa memelukku dari belakang. Ia mencium telinga, leher, dan pipiku yang membuatku geli akibat perlakuannya.

“Sayang..”. Panggilnya.

“Kenapa boo”. Balasku.

“Kamu gak pengen nambah anak lagi?”. Tanyanya yang membuatku terdiam.

Aku mebalikan badan menghadapnya.

“Kamu mau?”. Tanyaku balik tanpa menjawab pertanyaannya.

“Hmm”. Jawabnya sambil mengangguk.

Aku dapat melihat dari sorot matanya jika ia sangat menginginkan itu, tapi aku rasa untuk memulai proses mempunyai anak lagi waktunya belum tepat karena Cia masih terlalu kecil.

“Hfftt.. boo, aku juga pengen punya anak lagi, tapi menurutku sekarang belum waktunya. Cia masih belum ada setahun, kasian dia kalau kita tinggal buat proses itu. Apalagi prosesnya lama banget, kita harus ninggal-ninggal dia. Aku gak mau kalau Cia gak keurus sama orang tuanya meskipun nanti ada mama sama papa yang bantuin kita”. Jelasku.

“Tunggu sampe usia Cia sama kayak If pas Kak Bella hamil anak kedua ya. Aku masih mau nikmatin waktu kita bertiga, gapapa kan?”. Tanyaku.

Aku harap ia bisa mengerti dengan penjelasanku.

“Hmm.. asal jangan sampe Cia udah bisa protes. Entar dia gak mau punya adik gimana?”. Tanyanya.

Aku mencium sekilas bibirnya karena gemas dengan jawaban yang ia berikan
.
“Iya, lagian kalau Cia gitu ya kayak kamu. Kamu pas kecil juga gak mau punya adek”. Ujarku saat teringat cerita masa kecilnya.

“Makanya itu sayang kita prosesnya pas Cia belum bisa protes”. Ujarnya.

“Emang curang banget kamu tuh”. Ucapku.

“Bukan curang tapi cerdik. Itu namanya belajar dari masa lalu”. Katanya.

“Emang bisa banget ngelesnya”. Cibirku yang dibalas tertawa pelan olehnya.

“Main yuk”. Ajaknya.

“Ntar aja boo, aku masih mau kayak gini sama kamu”. Ujarku sambil memeluknya.

“Kan nanti juga bakal pelukan Mbul”. Ucapnya.

“Kak Bella sama Kak Sheira masih di bawah. Ntar kalau mereka ngajak kita kemana gitu gimana. Orang kamu kalau lagi itu diganggu kamu jadi badmood banget”. Jelasku sambil merapikan helaian rambut yang menutupi wajahnya.

“Mereka cuma berdua?”. Tanyanya.

“Enggak, If sama Grifin ikut. Gak mungkin mereka ninggalin anaknya”. Jawabku.

“Kuat banget tuh 2 bayi. Cia aja udah teler gitu”. Ucapnya.

“Anak kamu emang gitu. Kecapean main, perut kenyang, posisi nyaman udah molor dia”. Ujarku.

“Makanan belum abis dia udah tidur. Lebih ajaib lagi matanya udah merem, tapi mulutnya masih ngunyah. Pas disuapin juga masih buka mulut”. Herannya sambil melihat Cia yang masih tertidur dengan posisi yang masih belum berubah dengan mulut yang sedikit terbuka.

“Tingkah ajaib kamu udah mulai keliatan di Cia”. Ucapku.

“Bagus kalau gitu, masih ada yang dia ambil dari aku”. Ujarnya.

“Hmm.. tapi jangan sampe 100% kayak kamu, ntar mamanya yang capek”. Kataku.

“Dih.. padahal aku gak ngeselin, jadi Cia juga gak akan ngeselin”. Sewotnya.

“Itulah kenapa pentingnya sadar diri”. Cibirku.

Kami melanjutkan obrolan kami sampai larut malam, hingga ia menagih permintaannya tadi.

Sheril pov end


~♡~To be Continued~♡~



Sorry for typo 🙂🙏




The HappinessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang