"Lain kali lu coba lawan mereka, lu gak bisa terus hidup di bawah naungan kuasa mereka. Semakin lu diam, semakin berani mereka ngelakuin hal itu."
"Kami tau lu pasti takut buat ngelawan, tapi kalo gak kayak gitu yang ada lu semakin diperlakukan semena-mena."
"Lu gak mau kan selamanya ditindas kek gini?"
Rafa diam termenung mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Niel dan Anara. Kedua gadis yang telah membantunya itu membuat Rafa tersadar jika ia tidak bisa selamanya menjadi sasaran dari para perundung.
Selama ini tidak ada orang yang mendukungnya kecuali El, tetapi sekarang dua gadis di hadapannya seakan menenggelamkannya ke dalam lautan fakta.
"Semoga lu dengerin omongan kami, karna gak bakal ada yang bisa bantu lu kecuali diri lu sendiri, Raf," terang Anara.
Rafa meremat celana yang ia kenakan ketika ucapan Anara seakan mencelus hatinya.
"Ya udah, kami duluan ya." Niel memegang bahu Rafa lalu beranjak masuk ke dalam gedung sekolah bersama Anara.
Selang beberapa detik kemudian Rafa baru tersadar. Ia menghela napasnya sejenak, lantas berlari menyusul kedua gadis itu untuk berterima kasih kepada mereka.
Dari kejauhan terlihat seorang pemuda yang tengah memperhatikan Rafa dalam diam. Ia menyaksikan semuanya dari awal namun tak berani bertindak dan hanya bisa menjadi penonton.
Katakan saja Ezra pengecut, karena itu kenyataannya dan ia tak menyangkal hal itu sama sekali.
Diberikan dua pilihan yang berat membuatnya ragu untuk memilih. Seperti dua sisi dari satu cermin, di satu sisi ia bisa memilih diam dan pura-pura buta akan perbuatan teman-temannya. Sementara di sisi lain ia juga bisa memilih untuk membantu Rafa, tetapi dengan konsekuensi pertemanan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun akan hancur.
Memikirkan antara pertemanan dan percintaan membuat Ezra mengingat saat ia masih berada di bangku kelas tujuh SMP.
Saat itu ia sangat sulit untuk bersosialisasi dengan orang-orang, bahkan hingga sekarang. Dan di saat masa putih biru tersebutlah Ezra bertemu dengan Noah, Raka, juga Sandi.
Saat Ezra tidak memiliki teman sama sekali, ketiganya datang untuk mengajaknya bermain bersama. Masih jelas teringat betapa ramah dan baiknya ketiga pemuda itu. Mereka selalu mengajak main dan bercanda bersama, bahkan dalam hitungan hari saja Ezra berhasil dibuat nyaman.
Kenangan kala itu, di mana Sandi selalu membuat lelucon hingga membuat Ezra dan yang lainnya tak dapat menahan tawa, serta ingatan tentang Noah dan Raka yang selalu berbuat baik padanya membuat Ezra kembali bimbang akan pilihannya di masa sekarang.
Pilihan antara tetap diam, atau membantu Rafa untuk bebas dari perisakan yang dilakukan oleh ketiga sahabatnya.
__
Rafa berjalan di koridor sekolah menuju kelasnya. Perkataan Niel dan Anara masih terngiang-ngiang di kepalanya, hingga karena tak fokus, tanpa sengaja Rafa bertabrakkan dengan seseorang yang berjalan dari arah berlawanan.
Rafa mendongak untuk melihat wajah orang yang tak sengaja ia tabrak. Seketika dirinya langsung mematung ketika melihat wajah pemuda itu.
Wajah yang sangat mirip dengan orang yang ia rindukan.
"Kalo jalan yang bener, pendek!" hardik pemuda itu. Ia juga memberikan julukan untuk Rafa yang memang lebih pendek darinya.
Rafa tak mengindahkan ucapan pemuda itu, ia malah melirik name tag pemuda itu yang bertuliskan Ethan Altaric.
"Minta maaf," titah Ethan, membuat Rafa tersadar dan langsung menatapnya.
"Gue nyuruh lu minta maaf bukan malah ngeliatin gue kayak gitu."
"M-maaf ... aku gak sengaja."
"Hmm, lain kali kalo jalan pake mata." Setelah berucap, Ethan melangkah pergi sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Rafa memandang punggung pemuda itu yang perlahan-lahan mulai menghilang dari pandangannya. Ia meletakkan satu tangan di dinding seraya bersandar.
Satu hal yang membuatnya kaget yaitu wajah dan proporsi tubuh Ethan sangat mirip dengan El, hanya yang membedakan adalah cara bicara dan cara berpakaian mereka. El merupakan laki-laki yang rapi dan disiplin, sedangkan jika Rafa lihat Ethan persis seperti seorang berandal.
Seragam yang dikeluarkan, tak memakai ikat pinggang, lengan yang digulung ke atas, hingga alis yang dicukur sedikit sehingga memberikan jarak, serta caranya bicara dapat membuat siapa saja yang bertemu dengannya berpikiran hal yang sama seperti Rafa.
Rafa memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Dengan tubuh yang masih bersandar pada dinding, ia perlahan beranjak untuk ke ruang kesehatan dengan tangan yang menopang pada tembok di sebelahnya agar tidak kehilangan keseimbangan, karena sekarang bukan hanya dadanya yang sakit tetapi kepalanya juga ikut pusing.
Kenapa kondisinya tiba-tiba jadi melemah seperti ini hanya karena melihat Ethan? Dan siapa pemuda itu sebenernya karena Rafa tidak pernah melihatnya. Namun, pertanyaan terpenting adalah mengapa wajahnya sangat mirip dengan sosok yang telah hilang dari hidup Rafa?
TBC
_
_
_
KAMU SEDANG MEMBACA
Mata Kembar Buta [BxB] ✓
General Fiction⚠️BxB Rafael Melviano, seorang pemuda biasa yang selalu mendapat perundungan dari teman sekelasnya. Entah dosa apa yang telah ia perbuat hingga pantas mendapat luka berupa umpatan yang menyayat jiwa dan kekerasan fisik yang menghunus raga. Meski bat...
![Mata Kembar Buta [BxB] ✓](https://img.wattpad.com/cover/377370638-64-k442536.jpg)