Dunia tak akan pernah puas jika belum merasakan apa itu sakit.
-𝟔𝟗𝟎 𝑨. 𝑱𝒂𝒏𝒏é
»»𓆩♡𓆪««
31. Berpisah?
Bagi Marvel, hidupnya adalah dimana ia berpijak pada logikanya. Tanpa perasaan, Marvel hidup sejalan dengan alur kehidupan. Kesendirian sudah menjadi makanan sehari-harinya ketika dia mengerti apa itu dunia yang sebenarnya di umur yang belum waktunya.
Berlinang kasih sayang yang tidak pernah ia rasakan sedari ia mengucapkan kata, 'Mama.' membuat Marvel tak mengerti apa itu kasih sayang yang sebenarnya. Kaku, sedikit tertutup, jarang bicara, menjadi pribadi Marvel yang terbentuk dari akibat hilangnya kasih sayang orang tua.
Inilah Marvel yang sebenarnya. Marvel Erlangga. Mempunyai kekasih yang menurutnya sudah ia berikan cinta yang sepatutnya ia berikan. Nyatanya, kasih sayang dan cinta yang Dean dapatkan masih sangat redup. Belum sepenuhnya memenuhi presentase Cinta Marvel untuk Dean.
Bagi kalangan anak muda diluaran sana, mungkin sebagian berpikir bahwa, 'Laki-laki, wajar jika masih memilih-milih pasangan hidup.' itu berarti mereka bebas gonta-ganti pasangan atau mencari pasangan lain sementara masih ada hubungan dengan orang lain. Jika mereka berpikir seperti itu, artinya mereka tidak mempunyai kepastian dalam hidupnya.
Hal itu dapat Dean rasakan di dalam kehidupan Marvel. Pemuda yang diketahui adalah kekasihnya itu, nyatanya sering kali merespon orang-orang yang ingin mendekatinya. Itu dapat menjadi bukti bahwa kelakuan Marvel akan merugikan dirinya sendiri.
Lihatlah sekarang, ada seorang bernama Sanabi Hanjaya yang menjadi ulah kelakuan Marvel seakan memberinya harapan untuk dijadikannya pasangan. Abi terlalu terbawa arus akibat Marvel. Sering dichat, di atar jemput, dan banyak kegiatan lainnya seperti pasangan pada umumnya.
Untuk Marvel, itu ia lakukan hanya sebagai tanda kemanusiaan atau lebih tepatnya sebagai tanda persahabatan antara keduanya. Marvel tak menyadari bahwa apa yang ia lakukan membuat Abi tertarik padanya. Awal-awal hanya biasa saja, namun lama-kelamaan sudah kelewatan. Abi sudah terlanjur obsesi untuk menjadi pasangan Marvel seorang.
Jam mata pelajaran terakhir, Abi habiskan di taman belakang sekolah. Masih ada satu jam lagi untuk seluruh siswa pulang kerumah. Abi duduk di kursi kayu yang hampir rapuh dibawah pohon rindang. Angin berhembus kencang menambah kesan sayu seakan tahu bahwa ada sesuatu yang terjadi. Abi berdiam diri sembari mengingat kejadian siang tadi. Matanya melihat kemesraan Marvel dan Dean selepas anak itu pindah di SMA ini.
"Harusnya gue yang jadi pacar lo, Vel."
"Harusnya gue yang duduk bareng sama lo di kantin sambil suap-suapan."
"Harusnya tawa bahagia lo ada di gue,"
"Harusnya perhatian lo cuma lo kasih ke gue."
"Harusnya cinta gue itu lo terima dengan baik,"
"Harusnya gue yang ada di posisi Dean, Vel. Gue juga berhak bahagia sama lo,"
Kata-kata perandaian yang keluar dari mulut Abi hanya berlalu begitu saja tanpa tersampaikan kepada Marvel. Bak orang gila yang bercerita, Abi menggerutu sebal dengan setiap kata perandaian yang ntah kapan akan terjadi. Sungguh cintanya pada Marvel itu sudah sangat jelas dan terlihat sempurna namun apalah daya Marvel lebih memilih orang lain.
"Apa untungnya, sih? punya pacar menye-menye gitu? laki kok kayak cewek? gak banget selera lo, Vel." Gerutu Abi sembari memandangi foto wajah Marvel di handphonenya.
KAMU SEDANG MEMBACA
RENEGADE
Novela Juvenil❝𝑲𝒊𝒕𝒂 𝒑𝒖𝒏𝒚𝒂 𝒄𝒊𝒏𝒕𝒂, 𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒅𝒖𝒏𝒊𝒂 𝒑𝒖𝒏𝒚𝒂 𝒏𝒐𝒓𝒎𝒂. 𝑴𝒂𝒌𝒂, 𝒎𝒂𝒓𝒊 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒃𝒖𝒂𝒕 𝒅𝒖𝒏𝒊𝒂 𝒃𝒂𝒓𝒖 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒄𝒊𝒏𝒕𝒂 𝒌𝒊𝒕𝒂.❞ -𝐀 𝐉𝐚𝐧𝐧é, 𝐌𝐚𝐫𝐜𝐡 𝟐𝟎𝟐𝟑 »»𓆩♡𓆪«« cr : pinterest !¡RANK IN 2023...
