!BONJOUR MOTHERFUCKERS!
Terimakasih masih ada sampai saat ini.
&
Terimakasih masih menunggu sampai saat ini.
HAPPY READING 🖤
•
•
•
Note : Baca pelan-pelan.
»»𓆩♡𓆪««
26. Masa Jaya Aiyer.
Mata yang semula tertutup indah ditemani oleh bunga tidur yang cantik, kini terpaksa terbuka lebar hanya untuk sekedar menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang pria paruh baya dengan setelan jas formal berwarna hitam. Suara Opa Ginanjar bergema di dalam ruangan bertema Boboiboy Api membuat sang pemilik kamar kini terduduk di atas ranjangnya.
Itu, Zian. Anak laki-laki yang tengah dicari-cari oleh segerombolan anak-anak geng motor selepas informasi tentang hilangnya anak itu yang keluar dari mulut ketua mereka. Zian kini berada di sebuah mansion milik Opa Ginanjar sewaktu muda dulu. Mansion yang masih terlihat mewah dan bersih karena diurus oleh beberapa pekerja di tempat itu.
Mengapa Zian tidak berada di rumahnya bersama Papa Darion dan Mama Zianna? Karena, Zian tidak mau jika pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Zianna akan membuat dirinya pusing jika harus menjelaskannya dengan rinci.
Selepas kejadian subuh itu, memang benar adanya jika Zian yang menembak bahan peledak itu sehingga ia dan Aiyer sama-lama terpental dari jarak mobil. Untungnya, keduanya selamat sampai hari dimana matahari terbit dari timur.
Saat Zian terpental, ia berada di sebuah pohon besar yang dapat menyembunyikan seluruh tubuhnya hingga Aiyer tak dapat menjangkau keberadaan Zian. Pemuda itu malah berlari meninggalkan mobilnya ke sembarang arah agar polisi ataupun warga setempat tak bisa menemukannya.
Lain dengan Zian, pisau yang juga ikut terpental didekatnya justru ia gunakan untuk mengukir sepenggal namanya agar menjadi tanda bagi siapapun yang mengenalnya akan tahu bahwa Zian baik-baik saja dan masih hidup. Sudah pasti bahwa teman-temannya akan mencari tahu letak keberadaannya saat itu juga. Zian percaya itu.
Kini, tibalah pagi yang sudah mau menjelang siang. Akibat permainan merenggut nyawa itu, Zian masih betah untuk berlama-lama di tempat tidur yang sangat nyaman menurutnya. Namun suara Opa Ginanjar sungguh sangat mengganggu aktivitas tidurnya.
“Ck! Zian gak mau sekolah, ah!!” Ucapnya lalu kembali menarik selimut tebal.
“Kamu ini benar-benar cucu tidak tau di untung! Guru-guru mata pelajaran kamu sudah beberapa kali mengeluh ke Opa lantaran absensi kamu warna merah semua.” Opa Ginanjar sedikit nyolot.
“Bodo amat,” Gerutu Zian membalikan badan.
“Bergunalah sedikit jadi manusia, Zian. Kamu cuman tau makan, tidur, dan bermain. Bagaimana nantinya kalau kamu sudah lulus sekolah dan tidak tau harus melakukan apa.” Ucap Opa Ginanjar seraya pergi dari kamar tidur Zian.
Di balik selimutnya, Zian sedikit bergumam, “Heleh, itu buktinya Mama sama Papa baik-baik aja.”
Tangan laki-laki itu merambat mencari-cari letak handphonenya. Handphone baru membuatnya sedikit kewalahan karena terbiasa dengan yang lama. Keberadaannya lebih baik jangan ditanya, karena sudah hancur lebur dimakan si jago merah.
KAMU SEDANG MEMBACA
RENEGADE
Novela Juvenil❝𝑲𝒊𝒕𝒂 𝒑𝒖𝒏𝒚𝒂 𝒄𝒊𝒏𝒕𝒂, 𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒅𝒖𝒏𝒊𝒂 𝒑𝒖𝒏𝒚𝒂 𝒏𝒐𝒓𝒎𝒂. 𝑴𝒂𝒌𝒂, 𝒎𝒂𝒓𝒊 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒃𝒖𝒂𝒕 𝒅𝒖𝒏𝒊𝒂 𝒃𝒂𝒓𝒖 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒄𝒊𝒏𝒕𝒂 𝒌𝒊𝒕𝒂.❞ -𝐀 𝐉𝐚𝐧𝐧é, 𝐌𝐚𝐫𝐜𝐡 𝟐𝟎𝟐𝟑 »»𓆩♡𓆪«« cr : pinterest !¡RANK IN 2023...
