Bab 21

3.1K 209 22
                                        

Gus Ibra memasuki rumah dengan mengucap salam. Kaki jenjangnya melangkah semakin masuk kedalam. Senyumnya terukir begitu mendengar suara kedua anak dan istrinya yang berada di area dapur.

"Eh, MasyaAllah. Maem apa ini anak Aba?" Ujar Gus Ibra menatap putrinya yang fokus dengan kegiatannya.

Ya, gadis kecil berkuncir dua yang tengah duduk di meja makan itu tampak begitu serius menghabiskan makanannya.

Ya, gadis kecil berkuncir dua yang tengah duduk di meja makan itu tampak begitu serius menghabiskan makanannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Maem miiii!" Seru gadis itu riang.

"Enak nduk?" Syaqila mengangguk mantap. Gus Ibra tersenyum melihatnya. Jemarinya mengusap kepala anaknya dengan lembut.

"Besok sudah puasa, Mas Hapis ikut puasa ya?" Ujar Gus Ibra sembari mengusap kepala putranya.

"Puasa sehari Aba?"

"Boleh, kalau kuat. Kalau ngga kuat, setengah hari dulu ngga apa-apa. Pelan-pelan belajarnya," ujar Gus Ibra tidak mau memaksa putranya.

"Qila juga mau puasa, Aba," ujar sikecil cemong.

"Adek mau? Memangnya sudah kuat?" Tanya Gus Ibra sembari membenarkan posisi duduk anaknya.

"Kuat," jawabnya yakin.

"Iya, boleh. Nanti bilang sama Uma ya?" Syaqila mengangguk mantap.

"Aba, Aba! Berarti nanti Tarawihnya?" Gus Ibra mengangguk menjawab pertanyaan Hafizh.

"Hapis ikut, Ya Aba?" Tanya Hafizh.

"Iya. Sana siap-siap, nanti Tarawihnya sama Aba sama Kakek." Hafizh mengangguk mantap, lantas berlari kencang menuju kamarnya.

Gus Ibra beralih menatap putrinya yang tengah memasukkan suapan terakhir ke mulutnya. Bocah itu tersenyum manis kearah Gus Ibra yang membuat lelaki itu terkekeh pelan. Ini Syaqira versi mini, tapi wajahnya lebih banyak mirip dirinya dibanding istrinya.

"Syaqila mau ikut tarawih ngga?" Tanya Gus Ibra.

"Mau," balasnya sembari berdiri diatas kursi.

"Eh, duduk yang baik, nak. Jatuh nanti!" Peringat Gus Ibra seraya mencengkram tangan mungil itu.

"Uma, Qila mau talawih ya? Sama Aba," seru Syaqila kala melihat sosok ibunya yang berjalan kearah mereka.

"Ngga mau sama Uma aja? Nanti Uma sama Nenek juga lho," ujar Syaqira sembari memberikan sebotol susu yang sudah ia siapkan untuk Syaqila nanti.

"Mas Hapis sama Aba. Qila juga mau sama Aba, Uma." Jawab bocah itu.

"Yasudah, tapi ngga boleh nakal, ya? Jangan lari-larian. Kalau cari Uma, Uma ada dibelakang sama, Nenek." Syaqila mengangguk patuh.

"Beneran hari ini tarawih pertama kan, Mas?" Tanya Syaqira sembari menyerahkan secangkir teh pada suaminya.

"Iya, sayang. Udah rame tadi di depan pada bahas itu." Jawabnya.

After MarriedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang