Bab 27

3K 202 19
                                        

Tiga hari sudah Syaqira dirawat di rumah sakit dan saat ini ia sudah diperbolehkan pulang. Sedih, merasa kehilangan tentu saja perempuan itu rasakan. Tapi mau bagaimana lagi, Allah lebih sayang pada calon bayinya. Ia hanya bisa ikhlas menerimanya, tidak baik juga ia terus menangisi kepergiannya.

Bunda Annisa dan Ayah Fahri sudah kembali kerumah. Begitupun dengan Umi Hafsah. Perempuan itu berjalan meninggalkan rumah Gus Ibra menuju ndalem.

Langkahnya terhenti ketika melihat cucu perempuannya yang bermain dengan kelinci kecil miliknya. Semenjak Syaqira masuk rumah sakit, bocah itu tampak murung. Tidak mau bermain, bahkan selalu takut ketika mendengar suara motor Ayahnya. Umi Hafsah sempat khawatir, takut hal tersebut akan menggangu pada tumbuh kembang cucunya.

Selama Gus Ibra menemani Syaqira di rumah sakit, selama itu pula kedua anaknya tidur di ndalem. Melihat cucunya yang tidak memiliki semangat seperti biasanya, Kyai Abdullah memutuskan membelikan kelinci agar gadis kecil itu kembali ceria.

"Inih, mamam woltelnya," ujar Syaqila sembari menyumpal mulut kelinci itu dengan sepotong wortel.

"Dimaem, nciiii!" Seru bocah itu ketika peliharaan miliknya terus menghindar.

Syaqila memegang leher kelinci itu, lantas membawanya kedalam pangkuannya. Umi Hafsah tersenyum melihatnya. Melangkah menghampiri Syaqila sembari memanggil nama gadis itu dengan lembut.

"Ndak mau maem, Nenek. Woltelnya ndak enak ya?" Ujar Syaqila sembari menunjukkan wortel yang ia bawa.

"Udah kenyang mungkin. Seperti Qila toh? Kalau kenyang ndak mau makan lagi," ujarnya sembari mengusap kepala gadis itu dengan lembut.

"Qila mau miii," ujar Syaqila dengan binar dikedua matanya.

"Mau dibuatin? Nanti Nenek bawakan kesini?" Gadis kecil itu mengangguk antusias. Umi Hafsah terkekeh pelan melihatnya lantas bangkit dari posisinya untuk membuatkan mie untuk Syaqila.

Setelah kepergian Umi Hafsah, Syaqila kembali bermain bersama kelinci kesayangannya. Membawa hewan berbulu tersebut dalam gendongannya sembari terus mencium kepala kelinci itu gemas.

Sedangkan disisi lain, Gus Ibra keluar dari dalam rumah ketika Syaqira kembali tertidur akibat efek dari obat yang diminumnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Sedangkan disisi lain, Gus Ibra keluar dari dalam rumah ketika Syaqira kembali tertidur akibat efek dari obat yang diminumnya. Lelaki itu berdiri di teras rumahnya sembari menatap gadis kecilnya yang sibuk di halaman sana.

Gus Ibra memang merasa sedikit jauh dengan putrinya. Apalagi semenjak kejadian itu, Syaqila tampak takut padanya. Padahal, Syaqila lah orang yang paling dekat dengannya dibandingkan dengan Hafizh.

Berbeda dengan Syaqila, Hafizh malah langsung nemplok pada ibunya. Bahkan ikut tertidur di samping Syaqira. Sedangkan Syaqila, sedari Ayah dan Ibunya kembali kerumah, gadis kecil itu selalu menyibukkan diri dengan bermain dihalaman rumah.

Sudah hampir tiga hari Gus Ibra tidak bertemu dengan kedua anaknya. Ternyata rasanya tetap rindu berat. Gus Ibra terkekeh pelan ketika Syaqila menjulurkan wortel ditangannya pada mulut kelinci.

After MarriedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang