Gema takbir terdengar bersahutan. Kerumunan di masjid perlahan menghilang sebab para manusia kembali pada rumah mereka masing-masing. Begitu juga dengan keluarga Gus Ibra. Begitu selesai menunaikan sholat eid, keempat manusia itu kembali kerumah.
Syaqira lebih dulu sungkem pada Gus Ibra. Perempuan itu bersimpuh dihadapan Gus Ibra sembari mencium punggung tangan Gus Ibra dengan khidmat.
Gus Ibra tersenyum disetiap kalimat yang wanitanya rangkai. Tangannya yang bebas kini mengusap-usap kepala Syaqira dengan lembut.
Begitupun selesai, Gus Ibra berbalik mencium punggung serta telapak tangan Syaqira. Menangkup kedua pipi Syaqira lantas mengecup kedua pipi, hidung serta keningnya. Terakhir, kedua pasangan tersebut saling berpelukan.
Kedua anaknya hanya menyengir di belakang Syaqira sembari menunggu giliran. Gus Ibra maupun Syaqira terkekeh pelan melihatnya. Syaqira lantas berpindah duduk tepat di samping Gus Ibra.
"Minal aidin walfaidzin ya, Aba. Hapis minta maaf kalau banyak salah sama Aba," ujarnya sembari mencium tangan Abanya.
Gus Ibra mengangguk lantas mencium kening serta ubun-ubun Hafizh. Tangannya ikut serta mengusap belakang kepala putranya dengan sayang. Setelah keduanya berpelukan, Hafizh lantas beralih pada Ibunya.
"Qila, ayo bilang apa?" Ucap Gus Ibra sembari menahan tangan kecil putrinya yang baru beres salaman.
"Bilang apa?" Tanya Qila sembari menatap Gus Ibra polos.
"Loh, ya bilang sama seperti Mas Hapis tadi, dek." Ujar Gus Ibra gemas.
"Qila banyak salah ngga sama Aba sama Uma?"
"Endak," jawabnya sembari melendot pada kedua kaki Gus Ibra yang tengah menahan tubuh mungil itu.
"Loh, kok endak? Yang setiap hari nangis teriak-teriak itu siapa? Yang suka main aneh-aneh siapa? Yang ngga pernah beresin mainan itu siapa?" Pancing Gus Ibra.
Syaqila menatap ibunya ketika Gus Ibra mulai meluncurkan segala petuahnya. Gadis kecil itu sudah tidak sabar untuk memakan kue nastar padahal, apalah daya sang Ayah malah menahannya.
"Qila minta maap," jawab gadis itu dengan cengar-cengir.
Gus Ibra tak dapat menahan rasa gemasnya melihat. Lelaki itu lantas memeluk tubuh kecil Syaqila dengan gemas. Mengecup berkali-kali pipi itu sesekali menggigitnya.
"Uma." Syaqila tidak mengucapkan maaf, namun gadis itu langsung memeluk tubuh ibunya dengan sayang. Meminta untuk dipangku oleh Syaqira.
"Qila sayang Uma," ucapnya sembari mengecup pipi ibunya hingga berbunyi.
"Uma juga sayang sama Qila," balasnya mengecup kening putrinya.
"Sekalang boleh mam nastalnya?" Tanya Syaqila yang diangguki oleh Gus Ibra dan juga Syaqira. Sedangkan Hafizh, bocah itu sudah sedari tadi menguasai berbagai kue lebaran di meja sana.
"Habis itu kerumah Nenek ya?" Ujar Syaqira yang diangguki oleh kedua anaknya.
"Kerumah Ayah sama Bunda jadinya jam berapa, sayang?" Tanya Gus Ibra sembari meraih satu kue.
"Habis dari tempatnya Umi sama Abi aja, Mas." Ujar Syaqira.
Tidak lama setelahnya, keempat manusia itu berjalan menuju rumah Kyai Abdullah dan Umi Hafsah. Syaqila berjalan paling semangat di depan sana. Diikuti oleh Hafizh yang sama antusiasnya.
"Samlikumm Nenekkk," ujar Syaqila nyaring.
"Wa'alaikumusalam cucuku," jawab Umi Hafsah dari dalam rumah.
Gus Ibra lantas berjalan menghampiri kedua orangtuanya. Melakukan apa yang Syaqira lakukan padanya tadi. Gus Ibra duduk dihadapan Kyai Abdullah sembari mengecup punggung tangan Ayahnya. Begitu juga dengan Syaqira yang melakukan sungkem pada Umu Hafsah.
KAMU SEDANG MEMBACA
After Married
Fiction généraleSequel IBRA Tentang kehidupan Syaqira dan Ibrahim setelah menikah, memiliki anak dan tentang kehidupan yang sesungguhnya. Dianugerahi dua anak yang lucu-lucu membuat Syaqira merasa begitu beruntung. Dicintai oleh suaminya dan juga kedua anaknya memb...
