Hari ini jadwal Syaqila bermain dengan Raya. Kedua bocah itu sudah berjanji akan bermain boneka bersama dihalaman pesantren. Syaqila terus berjalan kesana-kemari mencari kotak barbie miliknya yang tidak terlihat sedari tadi.
Kedua mata itu mulai berkaca-kaca. Rasanya ingin menyernah kala tidak kunjung menemukan barbie miliknya. Begitu kepala bocah itu mendongak matanya tertuju pada barang di atas almari.
Gus Ibra yang menyimpannya disana. Hal itu ia lakukan ketika Syaqila terus sibuk bermain barbie hingga lupa waktu, bahkan sampai tidak mau makan. Dengan menyembunyikan barbie itu Syaqila pun lupa dengan barbie-barbienya.
"Uma, ambilin itu Uma." Pinta Syaqila sembari menarik-narik tangan ibunya.
"Apa dek?" Tanya Syaqira sembari membelai pipi putrinya.
"Itu, mainannya Qila nyangkut Uma. Qila mau main sama Kak Laya," ujar Syaqila sembari menunjuk barbie miliknya.
Syaqira mengikuti arah tunjuk putrinya. Kedua matanya menyipit menatap barang diatas almari tersebut.
"Uma ngga nyampe, harus pakai kursi dulu ngambilnya." Ujar Syaqira.
"Nanti minta tolong Aba aja," ujarnya sembari mengusap kepala putrinya dengan lembut.
"Aaa, Qila maunya sekalang. Mainnya kan sekalang bukan nanti." Jawabnya.
"Uma ngga nyampe lho, susah dek ambilnya." Syaqila semakin mengerucutkan bibirnya.
Melihat anaknya yang sudah siap menangis, Syaqira pun mengiyakan. Perempuan tersebut menyeret kursi ke depan almari tersebut, lantas menaiki kursi tersebut untuk menggapai barbie di atas sana.
Syaqira meraih Barbie itu. Memang tidak tinggi sih, tapi kan Syaqira pendek. Ia tetap harus menggunakan bantuan kursi untuk mengambilnya.
Syaqira tersenyum kala barbie itu sudah berada ditangannya. Perempuan tersebut mencoba turun perlahan, namun pijakanya salah yang membuatnya limbung dan terjatuh ke lantai.
Baik Syaqila maupun Syaqira, keduanya kontan berteriak.
"UMAAAA! UMAAAA!"
"Uma beldalah! Umaaaaaa," teriak Syaqila melihat darah mengalir dari balik daster yang digunakan oleh ibunya.
"Allah," rintih Syaqira sembari menyentuh perutnya.
Gus Ibra yang kebetulan baru sampai dipekarangan rumah pun terkejut mendengar jeritan keduanya. Ia segera berlari masuk kedalam rumah, lelaki itu menghampiri Syaqira dan juga Syaqila dengan detak jantung yang tidak karuan.
"Ra, kenapa bisa?"
"Uma jatuh Aba, tadi ambilin balbienya Qila," ujar Syaqila jujur.
Tanpa babibu, Gus Ibra pun membawa Syaqira kedalam gendongannya. Lelaki itu berjalan cepat menuju mobil dan membawa Syaqira kerumah sakit. Menyisakan Syaqila yang menangis di sana.
Tidak lama kemudian, Umi Hafsah yang sempat ditelfon oleh Gus Ibra pun gegas menuju rumah. Dilihatnya Syaqila yang sudah menangis sesenggukan.
"Nenek," lirihnya serak. Umi Hafsah cepat memeluk tubuh cucunya.
"Ngga papa, jangan nangis ya?" Ujarnya sembari menepuk-nepuk punggung kecil gadis itu.
Umi Hafsah bergerak gelisah, lantas membawa Syaqila ke ndalem. Umi Hafsah sudah mengabari suaminya untuk mencari Hafizh untuk membawa lelaki itu pulang. Nantinya mereka akan menyusul Gus Ibra dan juga Syaqira di rumah sakit.
"Tadi Qilanya minta tolong, tapi Uma jatuh," ujar gadis itu terputus-putus karena sesenggukan.
"Tadi Uma beldalah," ujarnya lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
After Married
Ficção GeralSequel IBRA Tentang kehidupan Syaqira dan Ibrahim setelah menikah, memiliki anak dan tentang kehidupan yang sesungguhnya. Dianugerahi dua anak yang lucu-lucu membuat Syaqira merasa begitu beruntung. Dicintai oleh suaminya dan juga kedua anaknya memb...
