Bab 19

3K 159 10
                                        

Siang bolong seperti ini hawanya begitu panas. Lebih lagi di kediaman Gus Ibra. Hawanya semakin panas ketika putri kecilnya menangis meraung bak kehilangan sesuatu. Gus Ibra sampai kewalahan menghadapinya. Perasaan dulu Umanya kalau nangis ngga seperti ini.

"Mau ikut Mas Hapis, Aba! Mau sama Mas Ucen," ucap Syaqila tantrum. Bocah kecil itu menangis dengan kencang, kakinya menendang-nendang angin sesekali menendang barang yang ada didekatnya.

"Ikut Aba ke pesantren aja yuk?" Ajak Gus Ibra meraih tangan putrinya, namun Syaqila tetap menolak. Menangkis tangan sang Ayah dengan isak tangis nya.

"Qila, ngga boleh nangis nya begitu. Ayo, anak cantik, udah nangisnya." Ujar Gus Ibra mengangkat tubuh putrinya.

"Ndak mau, mau main Aba. Qila mau main juga, Huahhhhhhh—Umaaaaaa!" Syaqira yang merasa kasihan lantas mengambil alih putrinya.

"Yang baik, nduk. Ngga boleh kayak gitu," ujar Gus Ibra lagi.

"Uma, main. Ndak mau ikut Aba," isak Syaqila dalam dekapan sang ibu.

"Kenapa? Biasanya pengen ikut Aba terus. Kalau sekali ngga mau ikut Aba, seterusnya ngga boleh ikut Aba lagi lho," ujar Syaqira sembari mengusap-usap punggung anaknya.

"Qila mo main, Uma. Ucen ikut Mas Hapis cali ikan, Qila mau cali ikan juga Uma."

"Qila kan anak perempuan. Mainnya sama Uma atau sama mba-mba disini. Masa cantik-cantik gini mainnya di sawah. Mas Hapis ngga cari ikan kok, disawah ngga ada ikan besar. Paling cuma ikan kecil-kecil sama kecebong."

"Qila kan udah sering cari kecebong sama Ucen." Ujarnya sembari mengusap kedua pipi Syaqila yang basah.

"Ndak Uma. Tadi bilangnya cali ikan huhuu mau ikut Mas Hapis sama Ucen," isak Syaqila sembari menarik ingusnya kedalam.

"Nanti cari ikan sama Aba aja, ya? Sekarang berhenti nangisnya. Ikut Aba aja mau? Nanti jajan di koperasi, mau?" Syaqila menatap Abanya yang tengah membujuk dirinya. Kedua mata bulatnya tampak bergerak lucu membuat Gus Ibra gemas, lantas mengecup kepala anaknya sayang.

"Itu, mau ngga ikut Aba?" Tanya Syaqira.

"Atau mau sama Uma di rumah, bikin kue?" Imbuhnya.

"Mau," jawab bocah itu sembari mengangguk mantap.

"Mau yang mana? Ikut Aba apa Uma?" Tanya Gus Ibra sembari mencium bau shampo anaknya yang wangi.

"Ikut Aba," ujarnya sembari merentangkan kedua tangannya kearah Gus Ibra. Kedua orang tua itu terkekeh pelan melihatnya.

"Nih, Ba. Anaknya mau sama Abanya," ujar Syaqira menyerahkan putrinya.

"Sayangnya Aba," ujar Gus Ibra menangkap Syaqila lantas mencium pelipis anaknya. Syaqila melingkarkan kedua tangan mungilnya pada leher sang Ayah, pipinya ia sandarkan pada bahu tegap Ayahnya.

 Syaqila melingkarkan kedua tangan mungilnya pada leher sang Ayah, pipinya ia sandarkan pada bahu tegap Ayahnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
After MarriedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang