Bab 22

2.9K 188 20
                                        

Pagi-pagi sekali, Syaqira harus terbangun untuk menyiapkan sahur. Sedangkan Gus Ibra bertugas untuk membangunkan anaknya yang mulai puasa hari ini. Lelaki itu berjalan masuk kedalam kamar Putranya. Mendudukkan dirinya ditepi kasur sembari menepuk punggung putranya.

"Hapis, bangun dulu. Sahur dulu, ayo!" Ujar Gus Ibra.

Tak butuh waktu lama, bocah itu mulai terusik pelan. Kedua matanya terbuka perlahan sembari bergerak merenggangkan otot-ototnya.

"Cuci muka dulu, terus ke dapur." Suruhnya. Bocah itu patuh. Berjalan perlahan menuju kamar mandi dengan mata yang setengah tertutup.

Gus Ibra melangkah meninggalkan kamar Hafizh. Langkahnya membawa dirinya kedapur. Tapi belum sampai dapur, suara tangis lebih dulu menyita perhatiannya. Gus Ibra gegas menuju kamar, dilihatnya Syaqila yang terbangun dengan tangis yang mengiringinya.

"Hey, kenapa cah ayu?" Ujar Gus Ibra mendekati putrinya.

"Huaaaaaa! Uma mana?" Tangis bocah itu sembari menghambur ke pelukan ayahnya.

"Uma ada lho, dek. Berhenti dulu nangisnya. Nanti kedengeran sampai asrama lho," ujarnya sembari menggendong si bungsu.

Tangis Syaqila mulai surut. Kepalanya ia sandarkan pada bahu Gus Ibra sembari mengeratkan pelukannya pada leher Gus Ibra yang kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur.

"Nangis yaaa?" Ujar Syaqira setengah meledek. Syaqila pun mencibik siap menangis. Tangannya ia rentangkan meminta berpindah gendongan pada Ibunya.

"Uluhhh, anak cantik Uma." Sambut Syaqira sembari mengecup pipi putrinya.

Syaqira beralih pada Gus Ibra. Perempuan itu mulai menyiapkan kebutuhan sahur untuk suaminya.

"Syaqila jadi ikut puasa, ndak? Kalau iya sahur dulu kayak Mas Hapis," ujar Gus Ibra sembari mengusap kepala putranya itu. Syaqila tampak menggeleng pelan. Ia semakin menenggelamkan wajahnya pada pelukan ibunya.

"Katanya kalau puasa itu ndak makan. Qila ndak mau puasa," ujar Syaqila sembari mendongak menatap wajah cantik Ibunya.

"Namanya juga puasa, dek." Kekeh Gus Ibra.

"Kalau ndak makan nanti bisa meninggal Aba?" Tanya Syaqila yang kembali membuat lelaki itu tertawa.

"Ngga dong. Kan paginya udah sahur kayak gini. Nanti pas adzan magrib itu, kita makan lagi." Syaqila hanya menatap polos kearah Gus Ibra.

"Sehali aja ndak makannya?" Gus Ibra mengangguk sebagai jawaban.

"Sehali itu kan lama, Aba. Kalau ndak makan nanti kalo ada cilok sama somay ndak boleh beli belalti?"

"Boleh beli, tapi dimakannya pas udah berbuka." Jawabnya yang membuat Syaqila terdiam.

"Aba, nanti sore beli takjil ya?" Ujar Hafizh mengganti topik pembicaraan.

"Boleh, nanti selesai Hapis ngaji, langsung pulang berarti ya? Terus kita cari takjil." Hafizh pun bersorak mendengarnya.

"Tajil itu apa, Uma?" Tanya Syaqila

"Mmm, takjil itu jajanan yang dijual sore hari menjelang berbuka. Ada macam-macam es, gorengan, jajanan pasar dan masih banyak lagi." Jelasnya.

"Kalo bapo ada, Uma?"

"Ada."

"Ngg-kalo lisol?"

"Itu juga ada."

"Kue usus?"

"Ada juga."

"Donat, Uma?"

"Ada sayang."

"Kalau cileng ada juga ngga Uma?" Gus Ibra terkekeh pelan melihat istrinya yang tampak lelah menjawab semua pertanyaan putrinya.

After MarriedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang